jika aku diperbolehkan meminta satu permintaan
kepada tuhan, aku akan meminta agar dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.
“sampe sini aja”
Aku membuka pintu mobil dan sedikit berlari
menuju gerbang sekolah, sementara kevin kakakku memarkirkan mobil di ruko
samping sekolah karena peraturan yang tidak memperbolehkan murid untuk membawa
kendaraan.
“farah, kakak kamu kemarin terlibat tawuran
ya?” “farah kakak kamu kok jahat sih sampe bunuh orang” “farah bukannya kakak
kamu dipenjara kok masih masuk sekolah?” “farah kakak kamu ga tau malu banget
ya”
Hari ini aku bagai patung yang dipajang di
ruangan kelas, teman teman menghujaniku berbagai pertanyaan tentang kevin yang
terlibat tawuran 1 minggu yang lalu dan menusuk 1 orang dari sekolah lain yang
menjadi lawan tawuran sekolah kevin dan sekolahku juga, kevin sempat dipenjara
selama 2 hari tapi entah bagaimana caranya dia bisa bebas dan bisa kembali bersekolah
lagi. Aku pun hanya diam menanggapi pertanyaan yang sama.
Bel pulang sudah berbunyi, dari awal pelajaran
sampai akhir tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“de mau pulang bareng?”
Aku berjalan pura pura tidak mendengar suara
laki laki yang memanggilku sejak tadi, tiba tiba dia menarik tanganku.
“de mau pulang bareng ngga?”
“ngga” dengan suara setengah berteriak
“terus kamu mau pulang sama siapa?”
“bukan urusan kamu”
Aku menarik tanganku melepaskan genggaman
tangan kevin dan berlari. Sudah cukup dia membuat aku malu disekolah, jangan
membuat aku malu lagi di tempat lain. Daripada harus ikut pulang sama dia lebih
baik aku jalan kaki, pikirku dalam hati.
“de farah” suara seorang laki laki bertubuh
jangkung menaiki motor gede berwarna hitam
“kak robi”
Kak robi ini adalah murid kelas 3 di
sekolahku, dia adalah teman kevin tapi dia tidak nakal dan tidak pernah ikut
tawuran dia juga terkenal pintar di sekolah jauh sekali dengan kevin.
“pulang sama siapa?”
“sendiri kak”
“aku anter aja ya, ga baik pulang sendirian”
Aku pun menangguk dan langsung menaiki
motornya, dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia mengantarku
pulang dengan selamat sampai rumah.
“mau masuk dulu kak?”
“ngga deh lain kali aja”
Tersungging senyum tipis di bibirnya yang
manis dan menghangatkan, andai aja dia kakakku yang sesungguhnya. Kak robi
pamit pulang dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
“pulang sama siapa?” suara mama yang sudah
mengintip dari balik jendela dari tadi.
“kak robi”
“kenapa ga pulang sama kakakmu?”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“farah kamu ga boleh ngomong gitu”
“mama tuh kenapa sih belain kevin terus? Dia tuh
emang anak kesayangan mama sampe udah bunuh orang aja masih dibelain”
“farah!!!”
Tidak pernah aku melihat mama membentakku
dengan cara yang seperti itu, hanya karena kevin mama berbicara dengan volume
yang sangat keras dan dengan mimik muka yang menyeramkan, air mataku menetes.
“udah lah mama tuh ga pernah bela farah, mama
juga ga pernah mau nurutin maunya farah”
Aku berlari menuju kamarku, disanalah tempatku
mencurahkan segala sesuatu yang sudah membludak, aku menangis sekencang
kencangnya. Sejak ayah dinas di luar kota aku merasa tidak ada lagi yang
membelaku, mama selalu membela kevin.
***
“lagi bikin tugas ya de?”
Aku tidak menanggapinya, aku juga sedang malas
berdebat karena tugas ku yang belum juga selesai.
“sini aku bantuin”
Aku mengerutkan dahi, kalau dipikir pikir apa
salahnya aku menerima bantuannya; toh kevin sudah pernah mengerjakan tugas
seperti ini harusnya dia sudah mahir dong. Aku memberikan laptopku pada kevin
tanpa bersuara.
“ini sih gampang” katanya sambil mencubit
pipiku
“kerjain aja gausah cubit cubit”
Senyumnya yang manis mirip dengan ayahku, aku
sedikit berpikir sebenarnya dia adalah orang yang baik mungkin karena dia salah
bergaul makanya jadi seperti ini.
“aku bikinin kopi yah ... kak”
Seketika kevin menatapku mungkin kaget karena
ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan “kakak”
“kamu kalau begini keliatan deh manisnya de”
katanya sambil menggodaku, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tawuran
itu aku menunjukkan senyum manisku pada kevin.
“aku mau kopi aja deh”
“oke bos tunggu 5 menit ya”
Sementara kevin mengerjakan tugasku, aku
membuatkannya kopi dengan senang hati. Rasanya damai sekali bisa melupakan
semua kejadian pahit dan memulainya dengan kebahagiaan.
“kopi panasnya
data.....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” seketika tubuh kevin menangkapku dan
membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Aku langsung melihat ke arah kopi
yang sudah tidak berada lagi dalam genggamanku
“oh tidak laptopku” aku mengambil lap kering
dan membersihkan laptop yang hampir seluruhnya basah. Laptop ku pun sudah
blackscreen alias mati.
“besok aku benerin deh”
“besok besok! Aku butuh tugasnya sekarang
bukan besok” air mataku mengalir deras
“tapi sekarang tukang service sudah tutup
semua”
“udah deh kamu keluar aja, emang kamu tuh
tukang mengacaukau semuanya. Aku benci sama kamu” aku mendorong kevin keluar
dari kamarku dan membanting pintu.
Aku berusaha menekan tombol on tapi percuma
saja laptopku sudah tidak bisa menyala lagi, aku benci sama kevin aku tidak
ingin melihatnya lagi, aku berharap tuhan secepat mungkin mengambilnya dari
dunia ini.
Cerita Selanjutnya : Love Light 2
No comments:
Post a Comment