Wednesday, January 23, 2013

Love Light 1


jika aku diperbolehkan meminta satu permintaan kepada tuhan, aku akan meminta agar dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.


“sampe sini aja”
Aku membuka pintu mobil dan sedikit berlari menuju gerbang sekolah, sementara kevin kakakku memarkirkan mobil di ruko samping sekolah karena peraturan yang tidak memperbolehkan murid untuk membawa kendaraan.
“farah, kakak kamu kemarin terlibat tawuran ya?” “farah kakak kamu kok jahat sih sampe bunuh orang” “farah bukannya kakak kamu dipenjara kok masih masuk sekolah?” “farah kakak kamu ga tau malu banget ya”
Hari ini aku bagai patung yang dipajang di ruangan kelas, teman teman menghujaniku berbagai pertanyaan tentang kevin yang terlibat tawuran 1 minggu yang lalu dan menusuk 1 orang dari sekolah lain yang menjadi lawan tawuran sekolah kevin dan sekolahku juga, kevin sempat dipenjara selama 2 hari tapi entah bagaimana caranya dia bisa bebas dan bisa kembali bersekolah lagi. Aku pun hanya diam menanggapi pertanyaan yang sama.
Bel pulang sudah berbunyi, dari awal pelajaran sampai akhir tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“de mau pulang bareng?”
Aku berjalan pura pura tidak mendengar suara laki laki yang memanggilku sejak tadi, tiba tiba dia menarik tanganku.
“de mau pulang bareng ngga?”
“ngga” dengan suara setengah berteriak
“terus kamu mau pulang sama siapa?”
“bukan urusan kamu”
Aku menarik tanganku melepaskan genggaman tangan kevin dan berlari. Sudah cukup dia membuat aku malu disekolah, jangan membuat aku malu lagi di tempat lain. Daripada harus ikut pulang sama dia lebih baik aku jalan kaki, pikirku dalam hati.
“de farah” suara seorang laki laki bertubuh jangkung menaiki motor gede berwarna hitam
“kak robi”
Kak robi ini adalah murid kelas 3 di sekolahku, dia adalah teman kevin tapi dia tidak nakal dan tidak pernah ikut tawuran dia juga terkenal pintar di sekolah jauh sekali dengan kevin.
“pulang sama siapa?”
“sendiri kak”
“aku anter aja ya, ga baik pulang sendirian”
Aku pun menangguk dan langsung menaiki motornya, dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia mengantarku pulang dengan selamat sampai rumah.
“mau masuk dulu kak?”
“ngga deh lain kali aja”
Tersungging senyum tipis di bibirnya yang manis dan menghangatkan, andai aja dia kakakku yang sesungguhnya. Kak robi pamit pulang dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
“pulang sama siapa?” suara mama yang sudah mengintip dari balik jendela dari tadi.
“kak robi”
“kenapa ga pulang sama kakakmu?”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“farah kamu ga boleh ngomong gitu”
“mama tuh kenapa sih belain kevin terus? Dia tuh emang anak kesayangan mama sampe udah bunuh orang aja masih dibelain”
“farah!!!”
Tidak pernah aku melihat mama membentakku dengan cara yang seperti itu, hanya karena kevin mama berbicara dengan volume yang sangat keras dan dengan mimik muka yang menyeramkan, air mataku menetes.
“udah lah mama tuh ga pernah bela farah, mama juga ga pernah mau nurutin maunya farah”
Aku berlari menuju kamarku, disanalah tempatku mencurahkan segala sesuatu yang sudah membludak, aku menangis sekencang kencangnya. Sejak ayah dinas di luar kota aku merasa tidak ada lagi yang membelaku, mama selalu membela kevin.

***

“lagi bikin tugas ya de?”
Aku tidak menanggapinya, aku juga sedang malas berdebat karena tugas ku yang belum juga selesai.
“sini aku bantuin”
Aku mengerutkan dahi, kalau dipikir pikir apa salahnya aku menerima bantuannya; toh kevin sudah pernah mengerjakan tugas seperti ini harusnya dia sudah mahir dong. Aku memberikan laptopku pada kevin tanpa bersuara.
“ini sih gampang” katanya sambil mencubit pipiku
“kerjain aja gausah cubit cubit”
Senyumnya yang manis mirip dengan ayahku, aku sedikit berpikir sebenarnya dia adalah orang yang baik mungkin karena dia salah bergaul makanya jadi seperti ini.
“aku bikinin kopi yah ... kak”
Seketika kevin menatapku mungkin kaget karena ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan “kakak”
“kamu kalau begini keliatan deh manisnya de” katanya sambil menggodaku, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tawuran itu aku menunjukkan senyum manisku pada kevin.
“aku mau kopi aja deh”
“oke bos tunggu 5 menit ya”
Sementara kevin mengerjakan tugasku, aku membuatkannya kopi dengan senang hati. Rasanya damai sekali bisa melupakan semua kejadian pahit dan memulainya dengan kebahagiaan.
“kopi panasnya data.....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” seketika tubuh kevin menangkapku dan membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Aku langsung melihat ke arah kopi yang sudah tidak berada lagi dalam genggamanku
“oh tidak laptopku” aku mengambil lap kering dan membersihkan laptop yang hampir seluruhnya basah. Laptop ku pun sudah blackscreen alias mati.
“besok aku benerin deh”
“besok besok! Aku butuh tugasnya sekarang bukan besok” air mataku mengalir deras
“tapi sekarang tukang service sudah tutup semua”
“udah deh kamu keluar aja, emang kamu tuh tukang mengacaukau semuanya. Aku benci sama kamu” aku mendorong kevin keluar dari kamarku dan membanting pintu.
Aku berusaha menekan tombol on tapi percuma saja laptopku sudah tidak bisa menyala lagi, aku benci sama kevin aku tidak ingin melihatnya lagi, aku berharap tuhan secepat mungkin mengambilnya dari dunia ini.

***


Cerita Selanjutnya : Love Light 2

No comments:

Post a Comment