Lily
“kau datang tepat
waktu” suara laki laki itu muncul tanpa menoleh ke arah gadis yang
menghampirinya.
“aku pikir aku
terlambat” gadis itu tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
Ya tuhan jantungku rasanya mau berhenti
melihat gadis itu tersenyum dengan tulus, bukan yuga namanya bila dia tidak
bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
“ayo lukis aku” kata yuga ketus
“aku ingin melukismu
ditengah sunset jadi sabar sebentar ya” sahut lily bersemangat.
Yuga sangat tidak suka
menunggu tapi entah kenapa demi gadis ini dia rela menunggu sampai kapanpun .
“itu dia itu dia ayo
kamu siap siap tersenyum ya” lily melompat lompat riang, bibir yuga terangkat
sedikit “ayolah tunjukan senyum terbaikmu bayangkan saja bahwa yang melukismu
saat ini adalah wanita pujaanmu” lily masih bersemangat.
Yuga tertegun mendengar
setiap perkataan lily, yuga akhirnya menuruti dia memejamkan mata membayangkan
wajah ibunya namun entah kenapa wajah lily selalu muncul dan tanpa disadari
senyum tulus pun tersungging di bibir yuga, dengan penuh semangat lily melukis
wajah yuga yang memang sangat tampan dengan tersenyum seperti itu.
“selesai” teriak lily
riang membuyarkan lamunan yuga “lihat kau terlihat tampan bukan kau tahu ini
pertama kalinya aku melukis seorang pria setelah ayah” seru lily sambil
mendekati yuga dan memperlihatkan hasil lukisannya. Ini terlalu dekat sampai
sampai jantung yuga berdetak lebih keras yuga pun mendorong gadis itu karena
takut lily akan mendengar jantungnya yang sangat tidk menentu “aaahh” suara
lily saat berbenturan dengan tanah.
“maafkan aku” ujar yuga
penuh rasa berdosa sambil membantu lily berdiri, “tidak masalah mungkin aku
memang tadi terlalu dekat” sahut lily masih dengan senyum manisnya.
Sebenarnya tidak
masalah bahkan yuga sangat senang apabila berada di dekat gadis itu namun entah
apa yang telah merasukinya sehingga ia bisa berbuat kasar seperti itu.
“sudah malam aku pulang
duluan yah” seru lily sambil melirik jam tangannya
“biar aku antar pulang”
sahut yuga sambil berjalan menjauhi taman
Lily segera mengikuti
“aku tidak perlu diantar sungguh” ujar lily memohon
“yasudah aku pulang ya”
yuga pun berlalu tanpa menoleh sedikit pun kearah lily
“hati hati” teriak lily
walaupun sudah tidak mungkin terdengar oleh yuga karena bayangannya sudah
menghilang. Sebenarnya dia ingin sekai diantar oleh yuga mungkin karena gengsi
dan laki laki itu tidak memaksa jadi yasudahlah lily juga sudah terbiasa pulang
malam sendirian
Lily mulai berjalan
menjauhi taman “kenapa dia membiarkanku pulang sendirian tidak khawatir apa?”
gerutu lily sambil memajukan sedikit bibirnya pertanda cemberut, sepanjang
perjananan pulang ke apartemennya lily terus memikirkan yuga aneh bisa bisanya
lily memikirkan malaikat kegelapan tapi tak bisa dipungkiri tersungging senyum
bahagia yang terpancar dari bibir lily. Tiba tiba langkahnya terhenti dia
menoleh ke belakang “ternyata dia tidak menyusulku” gerutu lily pelan ada sedikit
kekecewaan pada ucapan lily, lily melanjutkan berjalan hingga sampai pada
apartemennya lily berbelok dan mengeluarkan kunci lalu membuka pintu sekali
lagi lily menatap ke arah jalan berharap laki laki itu uncul dan
mengkhawatirkannya tapi ternyata harapannya tidak terpenuhi laki laki itu tidak
peduli kepadanya, lily un masuk dan menutup pintu apartemennya
*
Yuga
“bodoh kenapa aku
meninggalkannya sendirian” gerutu yuga kepada dirinya sendiri, tanpa berpikir
panjang yuga kembali ke arah taman namun sosok gadis itu sudah tidak ada, yuga
berjalan sambil memutar kepala kanan kiri mencari keberadaan gadis itu, sangat
khawatir membiarkan gadis polos itu pulang sendirian, akhirnya yuga terpaku
pada sesosok gadis yang sedang berjalan sambil menunduk ya itu dia yuga enemukan
gadis itu , yuga mengikuti gadis itu dengan langkah pelan agar dia tidak
mengetahui bahwa yuga sedang mengikutinya tiba tiba langkah gadis itu pun
berhenti sepertinya sedang memikirkan sesuatu lily menoleh pelan, menyadari
gerakan lily yuga pun berbalik menghadap ke arah yang berlawanan, lily kembali
memandang lurus ke dpan yuga melanjutkan berjalan kembali, setelah hampir
setengah jam berjalan akhirnya lily berbelok ke sebuah apartemen rupanya dia
sudah sampai yuga masih terdiam menatap gadis itu dari kejauhan memastikan lily
pulang dengan selamat karena dia tidak mau kehilangan malaikat matahari yang
selalu menyinarinya.
*
Viga
Suara pintu rumah viga
terbuka, tepat nya pukul 9 malam adiknya baru sampai kerumah
“dari mana saja kau?”
tanya viga dengan mengerutkan dahi, yuga hanya tersenyum namun kali ini
senyumnya terasa berbeda senyumnya tulus sepertinya yuga sedang berbunga bugan
entah apa yang menyebabkan yuga bahagia tetapi viga senang melihatnya semoga
tetap seperti ini.
*
Lily
Bisa
kita bertemu aku tunggu jam 10 pagi di cafe biasa
Dahi lily mengernyit
setelah membaca pesan dari viga yang tertera pada layar, ada apa?apakah ada
sesuatu yang penting? Lily mengambil tas tangannya lalu keluar dari
apartemennya untuk menuju cafe yang disebutkan viga tadi.
Ternyata viga belum
datang lily langsung menduduki kursi kosong yang menghadap ke jendela lily
tidak langsung memesan apapun karena ingin menunggu viga terlebih dahulu,
setelah hampir 10 menit menunggu akhirnya viga pun datang dan langsung
menghampiri gadis manis yang menggunakan kaos kebesaran dan celana jeans
walaupun penampilannya yang biasa namun lily terlihat sangat menarik dan
mempesona.
“hai maaf aku
terlambat” sapa viga, lily langsung menoleh ke asal suara senyumnya langsung
mengembang ketika mlihat seseorang yang sedang ditunggunya sudah datang. Viga
langsung duduk dan memanggil pelayan untuk memesan setelah pelayan itu pergi
lily mulai membuka suara “sebenarnya ada apa kamu ingin menemuiku pagi pagi
begini?” tanya lily dengan nada penuh penasaran. Viga sedikit mencondongkan
tubuhnya mendekat ke wajah lili sambil bertopang siku diatas meja “kemarin
malam aku menemukan sesuatu yang aneh” seru viga dengan nada serius, dahi lily
mengernyit tanda heran “kemarin malam aku mendapati adikku tersenyum, namun
berbeda dengan sebelumnya sepertinya kemarin dia telah menemukan sesuatu yang
membuat dia bahagia atau dia telah bertemu seseorang yang telah menyenangkan
hatinya” lanjut viga, “kemarin malam?” tanya lily dengan mata melotot, viga
hanya mengangguk sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Kemrin malam ?
bukankah kemarin yuga pergi bersamaku? Apakah aku yang telah membuat dia
tersenyum? Apakah aku yang telah menyenangkan hatinya? Pertanyaan itu terus
bermunculan di kepala lily tiba tiba tubuh lily gemetar wajahnya terlihat
memerah jantungnya berdegup 2 kali lebih cepat ia merasa gugup tapi... tapi
senang mengapa perasaan ini muncul apakah aku menyuka... lily langsung
menggeleng gelengkan kepalanya sampai akhirnya lamunan lily buyar ketika
seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka.
“aaahh akhirnya” seru
viga riang “aku sudah lapar dari tadi” lanjutnya, pelayan itu menunduk hormat
dan berlalu.
“aku yakin kau sudah
lapar wajahmu udah memerah sedari tadi” ujar viga sambil melahap maknannya,
lily hanya tersenyum sebenarnya mkannya memerah bukan karena lapar bukan sama
sekali tapi justru karena cerita viga tentang.. tentang laki laki itu, laki
laki yang sudah membuat jantung lily tak karuan.
*
Yuga
“aku ingin mencari
sarapan diluar saja” seru yuga pada arbi asistennya, arbi hanya mengangguk
mengerti. Yuga segera bergegas keluar dari perusahaannya dan memilih untuk
berjalan kaki dan langkah kakinya terhenti ketika melihat sebuah cafe,
sebenarnya bukan cafe itu yang menjadi pusat perhatiannya namun seseorang yang
berada didalamnya dibalik jendela gadis itu gadis impian yuga, yuga tiba tiba
tersenyum namun senyumnya memudar ketika melihat laki laki di hadapan lily.
Viga? Kenapa mereka sarapan bersama? Mereka sepertinya krab sekali, lily
terlihat sangat bahagia ketika bersama viga berbeda apabila lily sedang bersama
yuga, yuga selalu membuat gadis itu kesal dan marah tapi viga dia bisa membuat
gadis impiannya itu tertawa lepas dan bahagia.
Tiba tiba dada yuga
merasa nyeri melihat pemandangan yang tidak mengenakan itu, yuga terasa seperti
tidak bisa bernafas tenggorokannya kering kaki yuga melemah untuk menopang
tubuh kekarnya kepalanya terasa remang remang dan seketika gelap saat tubuh
yuga ambruk di tanah.
*
Viga
Viga membaringkan
tubuhnya di sofa, lelah sekali hari ini padahal tidak bekerja dan hanya pergi
ke cafe untuk sarapan bersama lily, viga memejamkan mata sebentar lalu
membukanya kembali, tiba tiba mata viga tertuju pada suatu ruangan yang
terbuka, kamar yuga. Tidak biasanya yuga tidak mengunci kamarnya apa karena ia
buru buru berangkat kerja, viga menghampiri pintu kamar hendak menutupnya namun
dibuka kembali setelah melihat sesuatu tergeletak di tempat tidur yuga, dengan
rasa penasaran viga menghampiri benda tersebut, benda itu adalah lukisan,
lukisan wajah yuga dengan sunset di sore hari dan mata viga langsung kaget
ketika menemukan tulisan dibawah lukisan itu.
Tersenyumlah
seperti senja yang akan segera tenggelam, sangat indah.Lily
Astaga, jadi kemarin
yuga menemui lily. Apakah yang membuat yuga tersenyum bahagia itu adalah lily?
Ya benar gadis itu telah membuat yuga seorang malaikat kegelapan menemukan
cahayanya, saat itu viga menyadari bahwa yuga menyukai lily.
Krriiiiinnnggg bunyu
ponsel viga membuyarkan lamunannya, tanpa melihat siapa nama yang tertera
dilayar ia langsung menjawab “halo” wajah viga berubah menjadi cemas setelah
menempelkan ponselnya di telinga “APA?” suaranya viga terdengar sangat kencang
lalu tanpa berpikir panjang seketika ia berlari keluar rumah menyalakan mesin
lalu melesakkan mobilnya dengan kencang.
*
Lily
Lily berlali menuju
kamar tempat yuga dirawat ia tidak pernah merasa secemas ini, nafasnya terengah
engah namun tidak menghentikan lily untuk berlari air matanya tiba tiba
mengalir di pipinya, mata lily merasa lega ketika enemukan kamar tempat yuga
dirawat dia buka pintu kamar dengan ragu, setelah pintu terbuka lily mendapati
2 orang yang sedang menoleh ke arahnya, viga langsung menghampiri lily dan
mempersilahkannya masuk lalu viga menutup pintu kamarnya dari luar, hanya
tinggal lily dan yuga yang ada di ruangan tersebut.
“jadi kesini hanya
untuk bengong?kalau hanya untuk itu mending pulang saja” kata yuga ketus dan
dingin bahkan sangat dingin sampai sampai tubuh lily juga merasa dingin dan
dadanya sakit mendengar ucapan itu, kecemasan liy ternyata hanya sia sia ternyata dia membenciku hanya itu yang
ada di pikiran lily sekarang. “aku kesini ingin menemui viga bukan untuk
menemuimu” sahut lily, tanpa mendengar ucapan dari yuga, lily langsung keluar
dan menutup pintu dengan keras. Sakit .. itu yang dirasakannya sekarang.
*
Yuga
Tubuhku gemetar
jantungku berdegup kencang ketika melihat dia, gadis impianku datang untuk
menjengukku tetapi dengan wajah murung, tiba tiba viga menghampirinya dan
mengulas senyum yang ditujukan untuk lily, lily pun menatap viga sambil
tersenyum dan viga pun berlalu keluar ruangan. Hanya dengan senyuman viga saja
bisa membuat ekspresi wajah lily berubah? Yang benar saja. Ekspresi yuga
langsung berubah ketika melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya
barusan, lily tetap mematung didepan pintu “jadi kesini hanya untuk
bengong?kalau hanya untuk itu mending pulang saja” yuga membuka suara dengan
ketus dan dingin, lily mendengus kesal “aku kesini ingin menemui viga bukan
untuk menemuimu” lalu dalam hitungan detik bayangan lily sudah tidak ada di
ruangan itu diiringi suara bantingan pintu yang keras.
Apakah yang dilakukanku
sudah benar? Apa memang lily hanya bisa bahagia bersama viga? Apa aku harus
menjauhinya? Aku bukan orang yang tepat untuknya dan aku tidak mau jadi beban
untuknya, gadis impianku..
Yuga merasa kesal
mengapa ucapan kasar itu terlontar begitu saja tanpa bisa ditahan, kekesalannya
terhadap pemandangan yang tidak sedap itu berdampak buruk bagi sikapnya. Ucapan
lily seakan menjadi pedang tajam yang dengan mudah menusuk nusuk jantung yuga.
Yuga tidak tahan lagi
yuga ingin berlari mengejar gadis itu dan memeluk tubuhnya meminta maaf dengan
tulus tapi apa boleh buat untuk berdiri saja dia masih lemas, yuga hanya
mendengus kesal.
Sesaat ia menatap
kearah jendela yang berada ttepat disamping tempat tidurnya, ia melihat lihat
sekitar membayangkan seandainya ia bisa keluar dan melompat. Tatapan yuga
berhenti pada satu titik matanya langsung melotot melihat sepasang laki laki
dan perempuan sedang berpelukan, yuga tersenyum sinis apa pantas
mempertontonkan kmesraan di tempat umum?
Tapi tunggu wanita itu?
Sepertinya yuga mengenalnya, ya tentu yuga sangat mengenalnya dia lily tapi
lily sedang berpelukan dengan siapa? Oh tuhan tidak tidak tidak itu... itu
adalah viga kakakku sendiri.
Seketika tubuh yuga
terkulai lemas untunya dia sedang berbaring sehingga ia tidak akan jatuh dan
menggemparkan semua orang, dadanya terasa sesak ternyata yuga terlalu berharap,
gadis itu membenci yuga dan ternyata gadis itu .. gadis impiannya mencintai
viga.
*
Lily
Lily keluar kamar yuga
dengan ekspresi kesal, sangat kesal. Ternyata kekhawatirannya dibalas dengan
ucapan yang menyakitkan. Lily menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya
dengan keras bermaksud agar rasa kesal itu sedikit berkurang.
“lily” panggil
seseorang, lily langsung menoleh dan ternyata itu viga. Lily langsung
menghampri laki laki itu dan dduk di sampingnya.
“kenapa hanya
sebentar?” tanya viga, ya sebenarnya lily ingin berlama lama didalam, ia ingin
terus berada di samping laki laki itu apalagi disaat ia terpuruk seperti
sekarang, lily mendengus pelan dan mengangkat bahu lalu menjawab “sepertinya
dia tidak mau bertemu denganku, sepertinya dia membenciku”.
Sebenarnya lily tidak
mau laki laki itu membencinya, ia sendiri tidak tahu apa yang membuat laki laki
itu begitu bersikap seperti lily adalah ancaman besar baginya sehingga harus
menjauhinya.
“yuga kenapa?” tanya
lily penasaran dan penuh hati hati.
Senyum manis
tersungging di bibir yuga “kata dokter dia hanya kecapean butuh beberapa hari
untuk istirahat” jawab viga tenang
“syukurlah” tambah lily
sambil menunduk, jantungnya sudah bisa berdetak dengan normal setelah mendengar
jawaban bahwa yuga baik baik saja.
“kau tahu” suara viga
membuyaran lamunan lily, lily pun menoleh menatapnya “aku inginn mebuat yuga
bahagia” lanjut viga dan mendesah pelan, mata lily terbelalak kaget mendengar
pernyataan viga “sejak kematian ibu 2 tahun yang lalu aku tidak pernah
sedikitpun ada cahaya yang terpancar dari mata viga” viga menoleh menatap gadis
di sampingnya lekat lekat “aku merasa aku kehilangan sosok adikku, adik yang
dulu riang dan selalu membawa ketenangan dirumah kami, adik yang selalu
mengajak bertengar namun aku pun senang melakukannya. Sekarang untuk mengobrol
pun bisa dihitung jari. Aku merindukan dikku yang dulu“ tanpa terasa air mata
viga telah jatuh membasahi pipinya. “aku mengerti perasaanmu” sahut lily dengan
wajah penuh prihatin, viga mendekatkan tangan ke leher lily dan memeluknya
“terimakasih kau orang paling baik yang pernah kutemui” bisik viga sambil
mempererat pelukannya. Lily hanya tersenyum walaupun viga tidak bisa melihat
senyumannya.
Ternyata laki laki itu
memendam banyak sekali kesedihan dalam dirinya, ingin rasanya lily memeluk
tubuh laki laki itu, menenangkannya, menjadi obat dikala kesedihannya, menjadi
orang yang bisa membuatnya tertawa. Tapi apa daya laki laki itu membenciku,
yuga membenci lily.
*
Viga
Viga membuka kamar
rawat yuga dengan hati hati dan mnutup pintu dengan hati hati juga, viga
mendapati yuga sedang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, mengapa
yuga kembali lagi seperti dulu? Yuga kemarin sudah bisa tersenyum bahagia
mengapa sekarang berubah menjadi malaikat kegelapan lagi?
“sudah baikan” viga
membuka pembicaraan lalu duduk disebelah ranjang yuga, yuga tidak menjawab dan
sepertinya memang yuga tidak mendengar, Yuga sedang melamun. Viga menepuk
tangan yuga dan dengan satu sentakan kaget yuga langsung menoleh ke arah viga
“sejak kapan kamu ada disini?” tanya yuga ketus sambil memperbaiki posisi
duduknya karena sempat sedikit melompat ketika kaget viga sudah ada di
sampingnya
“sudah baikan?” tanya
viga tanpa menghiraukan pertanyaan yuga.
“aku rasa aku tid.. aku
baik baik saja” jawab yuga ragu “aku boleh mengajukan satu pertanyaan?” lanjut
yuga dengan nada hati hati, “tentu” sahut viga lembut dan tenang. “kamu
menyukai lily?” mata viga langsung melotot mendengar pertanyaan dari yuga
“tidak” kata viga singkat. “mengapa?lily cantik dia seorang model dan baik aku
rasa semua laki laki akan menyukainya” nada bicara yuga semakin keras, viga
mengernyitkan dahi “aku tidak punya perasaan apa apa pada lily lagipula aku
tidak berminat untuk menjalin hubungan aku inginn lebih serius untuk karir dan
keluarga” jawab viga tenang, merasa tidak puas dengan jawaban viga, yuga terus
merasa penasaran “tapi..”, “sudahlah yuga aku tidak punya dan tidak ingin punya
perasaan apa apa pada lily kau dengar itu jadi kau tidak perlu khawatir aku tau
kau menyukainya” potong viga sedikit kesal. Mata yuga melotot “dari mana kau
mengetahuinya?”, viga mendengus “dari matamu” jawabnya cepat.
*
Yuga
Dari
matamu
Mataku? Yuga berdiri
menghampiri cermin yang ada di sudut kamar rumah sakit “sepertinya mataku biasa
saja tidak ada yang berubah” gumamnya pelan dan hanya bisa didengar oleh
dirinya sendiri, yuga terus menatap lekat cermin mencari titik pada matanya
yang menunjukkan bahwa dia sangat menyukai lily, “ah sudahlah mungkin viga
hanya bergurau” seru yuga karena tidak mendapati satu keanehanpun pada matanya.
Yuga berpikir pikir
lagi sambil duduk di atas tempat tidur, jika viga saja bisa menyadari bahwa aku
menyukai lily, apakah lily juga bisa merasakan ahwa aku menyukainya? Tiba tiba
pertanyaan itu terlintas di pikiran yuga, yuga merebahkan tubuhnya di kasur bergerak
menghadap kanan dan kiri namun tidak ada rasa nyaman sama sekali didapati oleh
yuga, yuga gelisah mengapa memikirkan gadis itu saja bisa segelisah ini?
*
Viga
“kau sudah boleh pulang
hari ini” kata dokter yang telah selesai memeriksa keadaan yuga.
Viga tersenyum, lalu
membereskan semua barang barang yuga. Yuga hanya diam termenung sejak kemarin
dia tidak berbicara satu patah kata pun, dia hanya mengangguk dan menggeleng.
“kau tidak ingin pulang?” goda viga yang bermaksud agar ada sedikit reaksi yang
bagus pada yuga ternyata nihil, ekspresi yuga masih datar dan kosong yuga hanya
beranjak dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke arah viga sedikitpun.
Tiba tiba langkah yuga
terhenti dan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari
sesuatu tepatnya yuga sedang mencaris seseorang.
“dia tidak datang
karena ada jadwal pemotretan” suara viga terdengar seakan mengetahui isi dari
kepala yuga, “apa?” tanya yuga memaksakan wajah heran padahal sebenarnya memang
dia sedang mencari lily, “tapi dia akan menjengukmu nanti siang” jawab viga
sambil berlalu berjalan endahului yuga.
Sedikit kecewa
terpancar dari wajah yuga namun ya tidak apa apa jika dia sudah berjanji akan
menjenguk nanti siang. Seulas senyum terpancar dari wajah yuga, yuga berjalan
mengikuti viga yang sudah berada di dalam mobilnya.
*
Yuga
Kemana gadis itu? Viga
bilang dia akan menjengukku siang ini namun sampai sekarang belum datang juga,
yuga berkata dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul 4.
Yuga terus memegangi
ponselnya yang sedari tadi tidak berbunyi sedikitpun, yuga gelisah tak karuan,
ia ingin menelpon gadis itu namun ia sendiri bingung apa yang harus
dikatakannya. Akhirnya yuga memberanikan diri untuk mengirim pesan pada lily.
Satu jam berlalu tanpa
muncul sosok gadis impian yuga di rumahnya, ponsel yuga masih tidak berdering
sedikit pun. Kemana gadis itu? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Atau
dia sedang berkencan dengan laki laki lain? Ah sial pertanyaan bodoh itu muncul
begitu saja di kepala yuga sampai dering ponsel membuyarkan lamunanya yang
sudah tidak karuan.
Yuga langsung membuka
isi pesan di ponselnya.
Kau
ingin ku lukis lagi? Senja sedang indah sore ini
Tiba tiba bibir yuga
mulai naik seulas senyum bahagia terpancar di wajahnya, lamunan buruk seketika
terbayarkan sudah oleh isi pesan yang tidak lain adalah dari gadis impiannya,
lily.
Tanpa berpikir panjang
yuga langsung mengambil jaket dan keluar rumah tidak tanpamenoleh ke arah viga
yang sedang berlatih biola, yuga berangkat dengan semangat tidak sabar bertemu
dengan lily, tanpa disadari yuga mulai merindukan gadis itu.
Sore itu yuga
memutuskan untuk berjalan kaki karena memang dia tidak suka naik bis, dia
berjalan dengan penuh semangat. Tiba tiba langkahnya terhenti dia merasa ada
sesuatu yang mengganjal di matanya, yuga lalu mengusap usap matanya dengan
punggung tangan namun bukannya bertambah baik justru matanya mulai semakin
perih dan remang remang yuga tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas ada
apa ini ya tuhan? Jantungnya semakin berdegup cepat dan yuga masih menusap usap
matanya setelah mengerjap sekali dua kali dan ketiga kali akhirnya bayangan
sekitar terlihat dengan jelas, perasaan lega muncul seketika di hati yuga. Apa
ini? Apa yang baru saja ia rasakan? Karena matanya sudah bisa melihat dengan
sempurna akhirnya ia bergegas menuju taman tempat terakhir kali lily dan yuga
bertemu ia berjalan setengah berlari karena takut gadis impiannya menunggu
terlalu lama.
*
Yuga
“maaf sudah membuatmu
menunggu” suara itu muncul ditengah tengah ketenangan taman, suara yang sudah
tidak asing lagi bagi lily, lily segera menoleh kearahnya dan mnunjukkan senyum
terbaiknya. Yuga membalas senyuman lily dan langsung duduk di sebelahnya,
mereka duduk diatas rumput sebuah taman yang tidak terlalu banyak pengunjung
memang taman ini tidak banyak orang yang tahu karena terdapat di sudut kota.
Selama beberapa menit
tak ada suara muncul keheningan yang merasuk kedalam tubuh yuga dan lily
membuat ketenangan dalam diri mereka, dunia seakan damai bahkan mereka sempat
berpikir ingin menghentikan waktu dan biarkan tetap dalam keadaan seperti ini,
lily memejamkan mata tanda menikmati sayup sayup angin yang mengibas kan
rabutnya membuat pesona lily semakin terpancar.
“katanya kau mau
melukisku” akhirnya yuga mulai membuka suara sambil menoleh ke arah lily yang
sedang memejamkan mata menikmati sayup angin.
Lily membuka mata,
menoleh ke arah yuga dan tersenyum menampilkan barisan giginya yang rapi
“tunggu senja nya merah itu akan sangat indah apabila dipadukan dengan senyum
mu yang sama sama indah”
Yuga tertegun mendengar
ucapan lily tidak ada kata lagi yang bisa diucapkan olehnya.
“itu dia senja sudah
mulai turun ayo kau senyum” seru lily dengan semangat, lily membetulkan posisi
duduknya sehingga sekarang posisi lily tepat menghadap ke arah yuga.
Yuga menrut dan
tersenyum, entah kenapa yuga tersenyum secara tulus tanpa harus membayangkan
wajah ibu nya atau membayangkan wajah lily, dengan berada di dekat gadis itu
pun senyum yuga mengalir secara otomatis, rasa damai dan tenang mulai
menghinggapi diri yuga, ia ingin terus seperti ini berada di dekat gadis
impiannya. Lily mulai menggoreskan kuas ke atas kanvasnya, dia melirik laki
laki itu lalu menunduk melihat kanvas dan menggoreskan cat keatasnya, tiba tiba
lily menyadari sesuatu.
Lily menghentikan aktivitas
melukisnya dan menengadahkan wajah ke arah yuga, lily memiringkan sedikit
kepalanya. Sepertinya ada yang tidak beres di wajah yuga, lily pun memberanikan
diri untuk bertanya “kau baik baik saja?”.
Yuga menoleh heran dan
langsung mengangguk tanpa mengeluarkan suara, “kau pucat sekali” terdengar nada
prihatin yang diucapkan oleh lily, yuga mengerutkan dahi dan tersenyum “aku
tidak apa apa aku ingin melihat hasil lukisanmu dengan sempurna” ujar yuga
menenangkan, yuga tersenyum kembali menatap senja merah yang sangat indah sama
indahnya seperti gadis di sampingnya, lily mengangguk menurut lalu mulai
menggoreskan catnya kembali ke atas kanvas. tangan lily menari nari dengan lincahnya seperti penari balet dengan irama yang senada, senja mulai menghilang dari merah menjadi gelap.
"ini aku sudah selesai" kata lily dengan riang sambil memperlihatkan hasil lukisannya.
yuga nyaris tanpa respon dia hanya melihat, mengerutkan dahi, memiringkan kepala dan mengusap usap matanya. ada apa ini? mengapa semuanya terlihat buram, lukisan lily, wajah lily bahkan taman pun semua terlihat buram. apakah penyakitku sudah separah ini?
No comments:
Post a Comment