Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 2
Yuga
Tuk tuk tuk suara
seseorang mengetuk pintu dari luar membuyarkan lamunan yuga “ya masu..” tanpa
menyelesaikan perkataannya pintu itu
sudah mulai terbuka.
“maaf tuan” seru arbi
asisten yuga sekaligus tempat pelampiasan yuga apabila sedang kesal maka arbi
siap dimarahi abis abisan walaupun sebenarnya semua itu bukan menyangkut arbi.
“ada apa?” tanya yuga
dengan wajah polos dan datar tidak bersemangat
“maaf tuan saya hanya
ingin bertanya apakah tuan sedang ada masalah?” tanya arbi hati hati
“tidak memang kenapa?” jawab
yuga tanpa memandang lawan bicaranya
“mengapa anda melamun
daritadi dan tatapan anda terlihat sangat kosong sekali tuan apabila anda
membutuhkan bantuan saya, saya siap tuan” ujar arbi dengan penuh hati hati
karena takut perkataannya menyinggung
“tidak apa apa” seru
yuga cepat bahkan sangat cepat, arbi pun cepat cepat menunduk tanda hormat dan
keluar ruangan yuga tanpa berkata apapun.
Melamun? Apakah aku
memang melamun? Melamun apa ? wanita itu? Oh tidak tidak. Pertanyaan itu sering
muncul di kepala yuga, wanita itu walaupun yuga sendiri tidak tahu siapa
namanya tapi dia sudah membuat suasana hati yuga jadi berbeda ia terlihat
berwarna ada rasa penasaran dalam hati yuga untuk mengetahui siapa sebenarnya
wanita itu, ya wanita manis yang mirip ibunya itu, senyumnya yang seperti
malaikat dan wajahnya mengeluarkan cahaya seperti matahari di pagi hari. Dia
wanita yang berbeda, dia malaikat matahari bagi yuga. Tanpa sadar seulas senyum
terpancar dari wajah yuga ketika memikirkan wanita itu, senyum yang nyaris
tidak pernah ia perlihatkan kepada siapapun.
Kriiiiiinnnngggggg
telepon kantor berbunyi membuyarkan lamunan sekaligus senyum yuga, yuga
berdehem kecil sambil mengangkat gagang telpon “ya” jawabnya singkat “baik saya
akan segera mengurusnya” yuga menghembuskan nafasnya dengan keras sambil mengembalikan
gagang telpon ke tempat asalnya “kenapa saya tidak diizinkan sedikit saja untuk
beristirahat” gerutunya pelan ditujukan untuk dirinya sendiri, ia pun
menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan mata sejenak membayangkan wajah
ibu namun mengapa tiba tiba wajah gadis itu muncul? Yuga dengan satu gerakan
cepat membuka matanya dan menggeleng geleng, apa aku sudah gila gara gara
wanita itu? Tanyanya dalam hati, yuga pun kembali memejamkan mata dan tanpa
yuga sadari ia pun sudah tertidur pulas di kursi kerjanya.
*
Viga
“1.. 2.. 3.. oke break”
teriak dani kepada semua crew yang ada di lokasi pemotretan sambil menepuk
pindak viga dan mengacung dua jempol lalu berlalu meninggalkan kerumunan para
crew
“kerja yang bagus” puji
viga pada lily, lily pun hanya tersenyum malu dan tanpa disadari wajahnya sudah
memerah
“terimakasih” sahut
lily tampak malu malu dan menunduk tanda hormat.
Tiba tiba lily
tersentak matanya melotot kaget seluruh tubuhnya memanas ketika tangan viga
menggenggam tangan lily “ayo kita makan siang” ajak viga sambil terus
menggenggam tangan lily, melihat tidak ada respon dari lily, viga pun menarik
tangan lily dengan lembut tanpa disadari tubuh lily mengikutinya tanpa
berpikir.
“jadi kita mau makan
disini?” tanya lily, wajahnya yang polos menengadah keatas plang restoran yang
bertuliskan misae entah apa artinya
tapi restoran yang cukup kecil di sudut kota jakarta itu terlihat sangat
nyaman, dikarenakan terletak disudut jadi terhindar dari kebisingan kendaraan
yang memadati kota.
“mau berdiam saja
disini?” goda viga sambil menunjukan senyum nya yang paling manis.
Viga dan lily masuk ke
restoran yang disambut oleh pelayan yang ramah, mereka memilih meja yang ada
disudut dekat jendela, kemudian pelayan menghampiri lalu memberikan buku menu,
setelah mereka selesai lalu pelayan pun pergi sambil menunduk memberikan tanda
hormat.
Lily yang duduk tepat
disamping jendela sedang menatap keluar, sinar matahari yang terpancar
menyoroti wajah imutnya semakin membuat viga terpesona ditambah bibir mungil
dan pipi yang sedikit terangkat menambah kesan ingin mencubitnya.
Menyadari sedang
diperhatikan lily pun memulai suara “ada apa ?” sambil menunduk malu
“saya merasa kita
pernah bertemu sebelumnya” kata viga sambil menepuk nepuk bibir menggunakan
telunjuknya. Lily mengernyitkan dahi tanda heran sambil memonyongkan sedikit
bibirnya membuat viga semakin gemas, “ya tentu saja kau kan model cover
majalah, siapa yang tidak kenal” canda viga lalu mereka tertawa bersama sama,
lalu pelayan pun datang mengantarkan pesanan mereka “selamat makan” seru lily
riang. Mereka pun seger melahap makanan yang sudah tersedia diatas meja.
“viga” suara itu
terdengar saat lily dan viga tengah menyantap makanan, viga pun menoleh “yuga”
seru viga riang.
*
Lily
“viga” lily menoleh
seketika pada asal suara itu, oh sial laki laki itu, laki laki yang sudah
membuat lily kesal sepanjang perjalanan ke lokasi pemotretan.
“yuga” seru riang viga
tiba tiba sambil berdiri dan sedikit memeluk laki laki itu, laki laki dengan
wajah datar dan sungguh menyebalkan, viga mempersilahkan yuga duduk disamping
lily.
“lily kenalkan ini yuga
adik saya” seru viga memperkenalkan, apa ? adik ? jadi laki laki ini adalah
adik dari viga, tidak bisa dipercaya “dan yuga ini lily fotomodel yang menjadi
pasanganku dalam pekerjaan kali ini” tambah viga, laki laki itu menatap lurus
tanpa mendengarkan perkataan viga, dia pun tidak sama sekali berniat ingin
berjabatan tangan dengan lily, oh tuhan makhluk macam apa ini tiba tiba selera
makan lily jadi hilang gara gara ada laki laki ini dan mood lily seketika
berubah sama seperti pertemuan pertama yuga dan lily.
“kau sedang apa
disini?” ucap viga memecah keheningan, “jalan jalan” sahut yuga singkat tanpa
ingin berbasa basi, sepertinya laki laki ini adalah malaikat kegelapan bagi
semua orang yang melihatnya.
“kau sendiri sedang apa
disini?berkencan?”tersungging senyum sinis di bibir yuga dan seketika itu juga
lily membuang muka dengan mendengus kesal.
Viga tersenyum “tidak
kami sedang beristirahat makan siang dan sepertinya lily juga akan suka dengan
tempat ini sama seperti kamu yuga” canda viga, namun tidak ada satu responpun
yang keluar dari dalam diri yuga. Jadi laki laki berwajah datar yang bernama
yuga sangat suka dengan tempat ini tapi lily tidak mau memperdulikannya
“sepertinya kita terlambat”
lily buka suara sambil melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya, tentu
saja perkataan tersebut ditujukan kepada viga.
“oh ya benar, maaf yuga
kita tidak bisa menemanimu makan” ujar viga meminta maaf dengan tulus, yuga pun
hanya menjawb dengan mengangkatkan alis tanpa menatap mereka berdua, lalu lily
dan viga pun berlalu meninggalkan restoran itu kembali ke lokasi pemotretan.
*
Yuga
Yuga duduk bersandar di
sofa rumahnya yang cukup luas sambil menghadap jendela yang memandang langit
gelap di luar, namun yuga tidak benar bnar memperhatikan sesuatu tatapannya
kosong seperti sedang melamun tiba tiba tersungging senyum kecil diantara
lamunnya, yuga melamunkan gadis itu, gadis yang ditemui bersama kakaknya tadi
siang, gadis yang memiliki nama lily seperti bunga lily gadis itu pun sangat
cantik , dia berpikir betapa bodoh dirinya tadi saat dia sama sekali tidak
menatap gadis itu gadis pujaannya.
Tiba tiba suara pintu
terbuka menyadarkan lamunanya sepertinya viga sudah pulang tapi tunggu dia
tidak sendirian, yuga menghampiri pintu lalu tiba tiba jantungnya terasa
berhenti seketika tubuhnya menjadi dingin dan kaku, gadis itu gadis impian
yuga. Mata ereka berteu lalu tersungging senyum tipis lily yang ditujukan
kepada yuga seketika yuga merasa jantungnya berdegup 3 kali lebih keras
sehingga yuga pun takut lily dan viga akan mendengarnya.
“aku ingin menunjukan
sesuatu pada lily jadi aku mengajak dia kesini kamu tidak keberatan?” tanya
viga membuka suara yang ditujukan untuk yuga.
Yuga menarik nafas
panjang dan mengeluarkannya dengan keras “oke” jawaban itu meluncur seketika
dari mulut yuga.
Yuga pun langsung masuk
ke dalam kamar dan menutupnya dengan keras, terdengar tawa riang dari gadis itu
dan viga rasanya sesak gadis itu merasa sangat bahagia berada didekat kakaknya
sendiri, yuga pun gelisah ia ingin tahu mereka sedang melakukan apa. Lalu yuga memberanikan diri untuk keluar kamar.
“hey yuga sini deh liat
ternyata lily jago melukis juga” panggil viga sambil tertawa dan memuji, mata
lily juga terlihat berbinar mendengar pujian itu. Yuga menghampiri dan melihat
lukisan itu, lukisan langit sore. Yuga termenung melihat lukisan itu yuga
terpesona dia memang suka langit sore tapi bukan karena itu bukan juga karena
lukisannya yang sangat indah tapi karena siapa yang melukisnya, gadis itu
apapun yang dilakukan gadis itu akan selalu bagus dimata yuga.
“bagus bukan?” tanya
viga bersemangat, “ya” jawab yuga ragu, sedikit kaget yang terlihat pada wajah
lily mungkin karena ini pertama kalinya yuga terus terang menyukai hal yang
menyangkut lily.
“aku juga akan
melukiskanmu kalau kau mau?” seru lily dengan riang.
“baiklah aku akan
menghubungimu jika aku sudah berminat” sahut yuga sambil langsung meninggalkan
mereka, bibir yuga secara otomatis trangkat keatas setelah sampai kamar yuga
dan menutup pintu senyumnya semakinn melebar entah mengapa yang pasti ini
karena gadis itu gadis impiannya malaikat mataharinya.
*
Viga
“ini hari terakhir
pemotretan kita jadi kalian harus bekerja dengan sungguh sungguh” seru
fotografer dani pada semua crew.
Ya memang hari ini hari
terakhir proyek ini dan juga hari terakhir lily bekerja dengan viga sepertinya
ada sedikit kekecewaan dalam diri lily tapi apakah selesai pekerjaan ini ia
tidak bisa lagi bertemu dengan laki laki itu?
“sudah siap?” suara
laki laki itu sudah tidak asing lagi ditelinga lily, suara viga, lili menoleh
dan tersenyum manis sambil mengangguk. Lalu kita berdua beranjak untuk siap
siap memulai pemotretan.
“okeeeeee” teriak
fotografer dani sambil bertepuk tangan dan semua crew pun ikut bertepuk tangan
“terima kasih kalian memang hebat” puji dani pada lily dan viga “saya yakin ini
akan sangat sukses” tambah dani dengan suara yang semakin keras dan melompat ke
arah kerumunan para crew.
Viga menoleh ke arah
lily “terimakasih ya” seru viga, “untuk apa?” sahut lily heran dengan wajah
kebingungan dan masih menggemaskan “karena telah membantuku, kamu tahu kan aku
bukan seorang fotomodel aku terlalu kaku untuk berada di depan kamera tapi kamu
tetap sabar mengajariku terimakasih” viga menundukan badannya penuh rasa hormat
“sebagai balasnya aku ingin mengajakmu makan malam bagaimana?” lanjut viga
sambil tersenyum manis, wanita manapun tidak akan sanggup menolaknya apabila
dia tersenyum seperti itu.
Lily terlihat sedang
berpikir lalu beberapa menit kemudian terdengar jawaban “sepertinya aku tidak
bisa maaf aku ada urusan” jawab lily dengan ekspresi memohon maaf, sebenarnya
lily sedang tidak ada urusan, berhubung langit masih siang dan entah kenapa
lily merasa malas jadi terpaksa lily mengarang cerita.
“oh begitu ya sudah
tidak apa apa lain kali kan bisa” sahut viga sedikit kecewa namun tetap
memperlihatkan senyum manisnya “kalau begitu aku pulang duluan ya” viga
mengangkat tangan kanannya keatas sambil berlalu pergi lily hanya tersenyum
sambil menyesali perbuatannya, apa apaan? Dia menolak ajakan laki laki istimewa
nya? Tapi tak apa lah lagipula dia ingin sekali beristirahat di apartemennya
karena dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya.
Tiba tiba ponsel lily
berbunyi menandakan pesan masuk
Aku
ingin di lukis dengan langit sore aku tunggu di taman jam 5
Tanpa disebutkan nama
pengirimnya lily sudah tahu siapa yang mengirimkan pesan untuknya, dan tanpa
berpikir panjang dia langsung meraih tasnya dan pergi meninggalkan lokasi
peotretan, aneh mengapa lily menolak ajakan laki laki istimewanya dan lebih
memilih datang ke taman bersama malaikat kegelapan itu?
*
No comments:
Post a Comment