Saturday, January 19, 2013

Ketika Senja Mulai Memerah 3



Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 2

Yuga

Tuk tuk tuk suara seseorang mengetuk pintu dari luar membuyarkan lamunan yuga “ya masu..” tanpa menyelesaikan perkataannya pintu itu  sudah mulai terbuka.
“maaf tuan” seru arbi asisten yuga sekaligus tempat pelampiasan yuga apabila sedang kesal maka arbi siap dimarahi abis abisan walaupun sebenarnya semua itu bukan menyangkut arbi.
“ada apa?” tanya yuga dengan wajah polos dan datar tidak bersemangat
“maaf tuan saya hanya ingin bertanya apakah tuan sedang ada masalah?” tanya arbi hati hati
“tidak memang kenapa?” jawab yuga tanpa memandang lawan bicaranya
“mengapa anda melamun daritadi dan tatapan anda terlihat sangat kosong sekali tuan apabila anda membutuhkan bantuan saya, saya siap tuan” ujar arbi dengan penuh hati hati karena takut perkataannya menyinggung
“tidak apa apa” seru yuga cepat bahkan sangat cepat, arbi pun cepat cepat menunduk tanda hormat dan keluar ruangan yuga tanpa berkata apapun.
Melamun? Apakah aku memang melamun? Melamun apa ? wanita itu? Oh tidak tidak. Pertanyaan itu sering muncul di kepala yuga, wanita itu walaupun yuga sendiri tidak tahu siapa namanya tapi dia sudah membuat suasana hati yuga jadi berbeda ia terlihat berwarna ada rasa penasaran dalam hati yuga untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita itu, ya wanita manis yang mirip ibunya itu, senyumnya yang seperti malaikat dan wajahnya mengeluarkan cahaya seperti matahari di pagi hari. Dia wanita yang berbeda, dia malaikat matahari bagi yuga. Tanpa sadar seulas senyum terpancar dari wajah yuga ketika memikirkan wanita itu, senyum yang nyaris tidak pernah ia perlihatkan kepada siapapun.
Kriiiiiinnnngggggg telepon kantor berbunyi membuyarkan lamunan sekaligus senyum yuga, yuga berdehem kecil sambil mengangkat gagang telpon “ya” jawabnya singkat “baik saya akan segera mengurusnya” yuga menghembuskan nafasnya dengan keras sambil mengembalikan gagang telpon ke tempat asalnya “kenapa saya tidak diizinkan sedikit saja untuk beristirahat” gerutunya pelan ditujukan untuk dirinya sendiri, ia pun menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan mata sejenak membayangkan wajah ibu namun mengapa tiba tiba wajah gadis itu muncul? Yuga dengan satu gerakan cepat membuka matanya dan menggeleng geleng, apa aku sudah gila gara gara wanita itu? Tanyanya dalam hati, yuga pun kembali memejamkan mata dan tanpa yuga sadari ia pun sudah tertidur pulas di kursi kerjanya.

*

Viga

“1.. 2.. 3.. oke break” teriak dani kepada semua crew yang ada di lokasi pemotretan sambil menepuk pindak viga dan mengacung dua jempol lalu berlalu meninggalkan kerumunan para crew
“kerja yang bagus” puji viga pada lily, lily pun hanya tersenyum malu dan tanpa disadari wajahnya sudah memerah
“terimakasih” sahut lily tampak malu malu dan menunduk tanda hormat.
Tiba tiba lily tersentak matanya melotot kaget seluruh tubuhnya memanas ketika tangan viga menggenggam tangan lily “ayo kita makan siang” ajak viga sambil terus menggenggam tangan lily, melihat tidak ada respon dari lily, viga pun menarik tangan lily dengan lembut tanpa disadari tubuh lily mengikutinya tanpa berpikir.
“jadi kita mau makan disini?” tanya lily, wajahnya yang polos menengadah keatas plang restoran yang bertuliskan misae entah apa artinya tapi restoran yang cukup kecil di sudut kota jakarta itu terlihat sangat nyaman, dikarenakan terletak disudut jadi terhindar dari kebisingan kendaraan yang memadati kota.
“mau berdiam saja disini?” goda viga sambil menunjukan senyum nya yang paling manis.
Viga dan lily masuk ke restoran yang disambut oleh pelayan yang ramah, mereka memilih meja yang ada disudut dekat jendela, kemudian pelayan menghampiri lalu memberikan buku menu, setelah mereka selesai lalu pelayan pun pergi sambil menunduk memberikan tanda hormat.
Lily yang duduk tepat disamping jendela sedang menatap keluar, sinar matahari yang terpancar menyoroti wajah imutnya semakin membuat viga terpesona ditambah bibir mungil dan pipi yang sedikit terangkat menambah kesan ingin mencubitnya.
Menyadari sedang diperhatikan lily pun memulai suara “ada apa ?” sambil menunduk malu
“saya merasa kita pernah bertemu sebelumnya” kata viga sambil menepuk nepuk bibir menggunakan telunjuknya. Lily mengernyitkan dahi tanda heran sambil memonyongkan sedikit bibirnya membuat viga semakin gemas, “ya tentu saja kau kan model cover majalah, siapa yang tidak kenal” canda viga lalu mereka tertawa bersama sama, lalu pelayan pun datang mengantarkan pesanan mereka “selamat makan” seru lily riang. Mereka pun seger melahap makanan yang sudah tersedia diatas meja.
“viga” suara itu terdengar saat lily dan viga tengah menyantap makanan, viga pun menoleh “yuga” seru viga riang.

*

Lily

“viga” lily menoleh seketika pada asal suara itu, oh sial laki laki itu, laki laki yang sudah membuat lily kesal sepanjang perjalanan ke lokasi pemotretan.
“yuga” seru riang viga tiba tiba sambil berdiri dan sedikit memeluk laki laki itu, laki laki dengan wajah datar dan sungguh menyebalkan, viga mempersilahkan yuga duduk disamping lily.
“lily kenalkan ini yuga adik saya” seru viga memperkenalkan, apa ? adik ? jadi laki laki ini adalah adik dari viga, tidak bisa dipercaya “dan yuga ini lily fotomodel yang menjadi pasanganku dalam pekerjaan kali ini” tambah viga, laki laki itu menatap lurus tanpa mendengarkan perkataan viga, dia pun tidak sama sekali berniat ingin berjabatan tangan dengan lily, oh tuhan makhluk macam apa ini tiba tiba selera makan lily jadi hilang gara gara ada laki laki ini dan mood lily seketika berubah sama seperti pertemuan pertama yuga dan lily.
“kau sedang apa disini?” ucap viga memecah keheningan, “jalan jalan” sahut yuga singkat tanpa ingin berbasa basi, sepertinya laki laki ini adalah malaikat kegelapan bagi semua orang yang melihatnya.
“kau sendiri sedang apa disini?berkencan?”tersungging senyum sinis di bibir yuga dan seketika itu juga lily membuang muka dengan mendengus kesal.
Viga tersenyum “tidak kami sedang beristirahat makan siang dan sepertinya lily juga akan suka dengan tempat ini sama seperti kamu yuga” canda viga, namun tidak ada satu responpun yang keluar dari dalam diri yuga. Jadi laki laki berwajah datar yang bernama yuga sangat suka dengan tempat ini tapi lily tidak mau memperdulikannya
“sepertinya kita terlambat” lily buka suara sambil melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya, tentu saja perkataan tersebut ditujukan kepada viga.
“oh ya benar, maaf yuga kita tidak bisa menemanimu makan” ujar viga meminta maaf dengan tulus, yuga pun hanya menjawb dengan mengangkatkan alis tanpa menatap mereka berdua, lalu lily dan viga pun berlalu meninggalkan restoran itu kembali ke lokasi pemotretan.

*
Yuga

Yuga duduk bersandar di sofa rumahnya yang cukup luas sambil menghadap jendela yang memandang langit gelap di luar, namun yuga tidak benar bnar memperhatikan sesuatu tatapannya kosong seperti sedang melamun tiba tiba tersungging senyum kecil diantara lamunnya, yuga melamunkan gadis itu, gadis yang ditemui bersama kakaknya tadi siang, gadis yang memiliki nama lily seperti bunga lily gadis itu pun sangat cantik , dia berpikir betapa bodoh dirinya tadi saat dia sama sekali tidak menatap gadis itu gadis pujaannya.
Tiba tiba suara pintu terbuka menyadarkan lamunanya sepertinya viga sudah pulang tapi tunggu dia tidak sendirian, yuga menghampiri pintu lalu tiba tiba jantungnya terasa berhenti seketika tubuhnya menjadi dingin dan kaku, gadis itu gadis impian yuga. Mata ereka berteu lalu tersungging senyum tipis lily yang ditujukan kepada yuga seketika yuga merasa jantungnya berdegup 3 kali lebih keras sehingga yuga pun takut lily dan viga akan mendengarnya.
“aku ingin menunjukan sesuatu pada lily jadi aku mengajak dia kesini kamu tidak keberatan?” tanya viga membuka suara yang ditujukan untuk yuga.
Yuga menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras “oke” jawaban itu meluncur seketika dari mulut yuga.
Yuga pun langsung masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan keras, terdengar tawa riang dari gadis itu dan viga rasanya sesak gadis itu merasa sangat bahagia berada didekat kakaknya sendiri, yuga pun gelisah ia ingin tahu mereka sedang melakukan apa. Lalu  yuga memberanikan diri untuk keluar kamar.
“hey yuga sini deh liat ternyata lily jago melukis juga” panggil viga sambil tertawa dan memuji, mata lily juga terlihat berbinar mendengar pujian itu. Yuga menghampiri dan melihat lukisan itu, lukisan langit sore. Yuga termenung melihat lukisan itu yuga terpesona dia memang suka langit sore tapi bukan karena itu bukan juga karena lukisannya yang sangat indah tapi karena siapa yang melukisnya, gadis itu apapun yang dilakukan gadis itu akan selalu bagus dimata yuga.
“bagus bukan?” tanya viga bersemangat, “ya” jawab yuga ragu, sedikit kaget yang terlihat pada wajah lily mungkin karena ini pertama kalinya yuga terus terang menyukai hal yang menyangkut lily.
“aku juga akan melukiskanmu kalau kau mau?” seru lily dengan riang.
“baiklah aku akan menghubungimu jika aku sudah berminat” sahut yuga sambil langsung meninggalkan mereka, bibir yuga secara otomatis trangkat keatas setelah sampai kamar yuga dan menutup pintu senyumnya semakinn melebar entah mengapa yang pasti ini karena gadis itu gadis impiannya malaikat mataharinya.

*
 
 Viga

“ini hari terakhir pemotretan kita jadi kalian harus bekerja dengan sungguh sungguh” seru fotografer dani pada semua crew.
Ya memang hari ini hari terakhir proyek ini dan juga hari terakhir lily bekerja dengan viga sepertinya ada sedikit kekecewaan dalam diri lily tapi apakah selesai pekerjaan ini ia tidak bisa lagi bertemu dengan laki laki itu?
“sudah siap?” suara laki laki itu sudah tidak asing lagi ditelinga lily, suara viga, lili menoleh dan tersenyum manis sambil mengangguk. Lalu kita berdua beranjak untuk siap siap memulai pemotretan.
“okeeeeee” teriak fotografer dani sambil bertepuk tangan dan semua crew pun ikut bertepuk tangan “terima kasih kalian memang hebat” puji dani pada lily dan viga “saya yakin ini akan sangat sukses” tambah dani dengan suara yang semakin keras dan melompat ke arah kerumunan para crew.
Viga menoleh ke arah lily “terimakasih ya” seru viga, “untuk apa?” sahut lily heran dengan wajah kebingungan dan masih menggemaskan “karena telah membantuku, kamu tahu kan aku bukan seorang fotomodel aku terlalu kaku untuk berada di depan kamera tapi kamu tetap sabar mengajariku terimakasih” viga menundukan badannya penuh rasa hormat “sebagai balasnya aku ingin mengajakmu makan malam bagaimana?” lanjut viga sambil tersenyum manis, wanita manapun tidak akan sanggup menolaknya apabila dia tersenyum seperti itu.
Lily terlihat sedang berpikir lalu beberapa menit kemudian terdengar jawaban “sepertinya aku tidak bisa maaf aku ada urusan” jawab lily dengan ekspresi memohon maaf, sebenarnya lily sedang tidak ada urusan, berhubung langit masih siang dan entah kenapa lily merasa malas jadi terpaksa lily mengarang cerita.
“oh begitu ya sudah tidak apa apa lain kali kan bisa” sahut viga sedikit kecewa namun tetap memperlihatkan senyum manisnya “kalau begitu aku pulang duluan ya” viga mengangkat tangan kanannya keatas sambil berlalu pergi lily hanya tersenyum sambil menyesali perbuatannya, apa apaan? Dia menolak ajakan laki laki istimewa nya? Tapi tak apa lah lagipula dia ingin sekali beristirahat di apartemennya karena dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya.
Tiba tiba ponsel lily berbunyi menandakan pesan masuk
Aku ingin di lukis dengan langit sore aku tunggu di taman jam 5
Tanpa disebutkan nama pengirimnya lily sudah tahu siapa yang mengirimkan pesan untuknya, dan tanpa berpikir panjang dia langsung meraih tasnya dan pergi meninggalkan lokasi peotretan, aneh mengapa lily menolak ajakan laki laki istimewanya dan lebih memilih datang ke taman bersama malaikat kegelapan itu?

*

No comments:

Post a Comment