Saturday, December 28, 2013

Buat Kamu

Buat Kamu

Kamu inget gak waktu kita pertama kali ketemu lagi?
Kamu baik dan perhatian banget sama aku, aku bahagia waktu itu
makanya aku langsung jatuh cinta sama kamu...
Kemudian semua berubah, kamu jadi cuek.
Kadang aku suka nangis sendiri ingin banget diperhatiin kaya dulu lagi
hahaha lucu ya aku jadi kaya anak kecil.
Tapi sekarang aku udah gak berharap hal indah itu terulang lagi,
yang aku harapkan hanyalah kesedihan ini segera berakhir.

Tuesday, April 2, 2013

someday :)

Suatu hari ketika aku bangun pagi aku ingin melihat matahari terbit dari timur tepat sejajar dengan jendela tempat kita tidur, aku ingin merasakan wewangian bunga berbagai jenis yang tertanam didepan bangunan sederhana satu lantai dengan nuansa jaman dahulu, bangunan yang nyaman dan lumayan besar bahkan terasa sangat besar untuk aku dan kamu.

Suatu hari ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini menjadi agak sempit, tidak ada yang berubah dari bangunan ini masih dengan cat yang sama, dinding yang sama, tanaman yang sama, wangi yang sama, dan rasa nyaman yang masih tetap sama. Entah apa yang membuat bangunan ini terasa lebih sempit hanya karena penghuninya bertambah satu orang, seorang yang begitu mirip denganku, seorang jagoan yang tidak pernah melewatkan sudut rumah dalam seharinya untuk melakukan persembunyian, berlari, melompat, menari, tertawa bersama aku dan kamu.

Suatu hari ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini menjadi lebih sempit karena penghuni baru nya terlihat membesar dengan cepat, selain itu bangunan ini juga mendapat satu penghuni baru lagi, satu orang yang cantik bagaikan putri. Seseorang yang mirip dengan kamu dalam wujud perempuan. Tuan putri sangat berbeda dengan jagoan, dia lebih suka berdiam di suatu tempat yang membuatnya nyaman, dan tempat favoritnya adalah jendela itu, jendela tempat aku dan kamu tidur dan jendela yang menjadi tempat favorit aku dan kamu juga.

Suatu hari ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini perlu untuk diperluas mengingat tuan putri dan jagoan bertambah besar menjadi seorang remaja, sebetulnya tidak banyak berubah dari bangunan ini hanya ditambah satu bangunan kecil tempat tuan putri tidur, sementara jagoan tidur di tempat yang memang sudah disediakan dari awal. Tuan putri sangat senang karena sekarang dia mempunyai jendela sendiri di tempat yang sudah menjadi miliknya sendiri, aku yakin ketika tuan putri melihat jendelanya dia akan teringat pada aku dan kamu.

Suatu hari ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini sangat sangat sangat luas, tidak ada lagi yang berlari, melompat, berteriak, menangis, tertawa, bercanda bersama sama di bangunan ini. jagoan dan tuan putri sudah mempunyai kehidupannya sendiri di bangunan yang mereka bangun sendiri bersama pasangannya. Semoga bangunan tempat mereka berteduh akan mempunyai cerita indah seperti tempatku dan kamu berteduh, tempat yang mempunyai cerita manis dan pahit. aku dan kamu mengukir cerita itu bersama sama menjadikannya pelajaran dalam hidup, dan menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.

suatu hari ketika aku bangun pagi aku masih mendengar kamu mengucap kata yang tidak pernah terlewatkan setiap harinya, kata yang sudah menjadi wajib untuk diucapkan. Dan aku masih dengan jawaban yang sama setiap harinya, rasa yang sama mengatakan “I LOVE YOU TOO”.

Saturday, January 26, 2013

TEMPE DAN TELOR GOSONG

Malam yang dingin disapu gerimis dan kabut tipis, membuatku menggigil kedinginan. Aku teringat dengan masakan ibu di malam itu dengan kondisi yang serupa.

Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.

Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.

Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.

Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.

Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"

Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."

Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"

Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.

Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-

Wednesday, January 23, 2013

Love Light 2


Cerita Sebelumnya : Love Light 1

Pagi ini gairahku sudah mencapai titik terendah, aku tidak melihat kevin di meja makan saat sarapan aku juga disuruh pergi sekolah dengan kak robi saja. Kemana kevin? Ah aku tidak peduli, aku juga malas menanyakannya.
Aku berangkat sekolah diantar oleh kak robi begitupun pulang sekolah, diperjalanan pulang kak robi membelokan motornya ke arah yang berlawanan
“mau kemana kak?”
“ikut aja yah, aku ga akan bawa kamu kabur”
Aku sudah terlalu percaya dengan kak robi sehingga aku menurut saja perkataannya, ternyata arah motor kak robi menuju ke rumah sakit. Siapa yang sakit? Pikirku, tapi aku hanya diam saja tidak berani bertanya banyak. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diajak ke ruangan UGD yang terlihat banyak orang. Ternyata ada mama ku juga.
“mama”
Setibanya aku didepan UGD mama langsung memelukku, aku tidak mengerti ada apa ini? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa papa?
“ada apa ma?”
Mama hanya menangis, dan tiba tiba muncul sosok papa dibelakangnya.
“papa?” lantas siapa yang sakit kalau bukan papa?
“kevin” suara mama terdengar tidak jelas dan pelan
Oh ternyata dia yang sakit, entahlah aku harus senang atau harus prihatin atas kejadian ini.
“kevin sudah dipanggil tuhan” tangis mama meledak kembali.
Kak robi pun langsung memelukku padahal aku tidak ingin menangis sama sekali, aku bingung harus sedih atau senang. Ini kan farah maumu? Doamu sudah terkabulkan oleh tuhan. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengejekku karenanya, tidak akan ada lagi yang mengacaukan semuanya, tidak akan ada lagi penjahat yang tinggal dirumahku, dan tidak ada lagi yang akan membentakku demi membela kevin, sekarang kasih sayang mama dan papa sepenuhnya untukku.
Sepanjang hari aku tidak menangis sama sekali sampai kevin dikuburpun aku tidak bisa merasakan apa apa, aku hanya bisa memandang nisan yang bertuliskan nama Kevin.
Kevin sekarang aku harus sedih atau harus senang? Namun jujur aku senang. Pikiran picikku muncul begitu saja saat aku memandangi nisan kevin
“de, are you okay?” kak robi menghampiriku dan duduk disampingku
Aku hanya menangguk mantap
“ini” tiba tiba kak robi memberiku sesuatu, sebuah laptop dan ini milikku
“kenapa bisa ada di kak robi?”
“semenjak kamu marah sama kevin gara gara laptop kamu rusak, kevin sangat merasa bersalah. Dia langsung mengambil laptopnya saat kamu tidur dan berusaha membetulkannya namun tidak bisa, akhirnya dia mencari tukang service semalaman dan sendirian”
Aku hanya menyimak tanpa memberikan respon sedikitpun
“dia baru ketemu tukang service yang buka itu subuh subuh, akhirnya setelah selesai membetulkan laptopnya dia buru buru pulang berharap bisa langsung memberikannya padamu, tapi kenyataannya dia kecelakaan, mobilnya keluar jalur dan tertabrak oleh truk dari arah yang berlawanan. Mungkin karena kelelahan atau mengantuk.”
Aku masih terdiam
“tapi de saat kejadian kevin kecelakaan, warga menemukannya masih dalam keadaan dia sedang memegang laptop ini dengan erat seolah dia tidak ingin membuat laptop ini cacat sedikitpun dan mengembalikannya padamu dengan utuh”
Serasa ada pisau yang menghantam jantungku, rasanya sakit sekali mendengar perkataan dari kak robi. Tangisku pun seketika pecah, aku menyesali perbuatanku.
“kevin itu sayang sama kamu de, waktu kamu tidak ingin pulang sama dia saja dia yang menyuruhku untuk mengantarmu pulang, dia khawatir akan terjadi apa apa sama kamu”
Tangisku semakin kencang dan meledak, tubuhku lemas aku tidak kuat lagi aku menyesal. Kak robi hanya mengelus elus pundakku berusaha menenangkan.
“kevin itu bukan orang jahat de, dia sebenarnya tidak ikut tawuran dia hanya kebetulan lewat dan saat itu kevin melihat temannya sudah tidak berdaya dipukuli sampai hampir dibunuh, akhirnya kevin merebut pisau dan untuk membela diri tidak sengaja kevin membalikan arah pisaunya sehingga tidak sengaja tertusuk ke anak yang sudah memukuli temannya itu”
Dengan gerakan refleks aku memeluk nisan kevin, hal yang tidak pernah aku lakukan pada kevin saat dia masih hidup
“kevin itu bukan pembunuh de, dia hanya ingin menyelamatkan temannya, dia adalah orang yang setia kawan oleh karena itu ibumu tetap mempertahankannya agar dia bisa keluar dari penjara dan bisa kembali masuk sekolah”
Kak robi meraih tubuhku dan memelukku “sampai pada akhir hidup kevin dia masih memintaku untuk menjagamu dengan baik, dan aku akan menepati janjiku” pelukan kak robi semakin erat dan tangisku pun semakin kencang.

***

Kak robi ternyata menepati janjinya dia tidak pernah meninggalkanku sedetikpun dia selalu berada disisiku mengantarku kesana kemari sampai aku masuk perguruan tinggi yang aku impikan akhirnya dia mengatakan cintanya padaku.
Kevin andai kamu masih ada aku ingin berbagi kebahagiaanku bersamamu saat ini.



Love Light 1


jika aku diperbolehkan meminta satu permintaan kepada tuhan, aku akan meminta agar dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.


“sampe sini aja”
Aku membuka pintu mobil dan sedikit berlari menuju gerbang sekolah, sementara kevin kakakku memarkirkan mobil di ruko samping sekolah karena peraturan yang tidak memperbolehkan murid untuk membawa kendaraan.
“farah, kakak kamu kemarin terlibat tawuran ya?” “farah kakak kamu kok jahat sih sampe bunuh orang” “farah bukannya kakak kamu dipenjara kok masih masuk sekolah?” “farah kakak kamu ga tau malu banget ya”
Hari ini aku bagai patung yang dipajang di ruangan kelas, teman teman menghujaniku berbagai pertanyaan tentang kevin yang terlibat tawuran 1 minggu yang lalu dan menusuk 1 orang dari sekolah lain yang menjadi lawan tawuran sekolah kevin dan sekolahku juga, kevin sempat dipenjara selama 2 hari tapi entah bagaimana caranya dia bisa bebas dan bisa kembali bersekolah lagi. Aku pun hanya diam menanggapi pertanyaan yang sama.
Bel pulang sudah berbunyi, dari awal pelajaran sampai akhir tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“de mau pulang bareng?”
Aku berjalan pura pura tidak mendengar suara laki laki yang memanggilku sejak tadi, tiba tiba dia menarik tanganku.
“de mau pulang bareng ngga?”
“ngga” dengan suara setengah berteriak
“terus kamu mau pulang sama siapa?”
“bukan urusan kamu”
Aku menarik tanganku melepaskan genggaman tangan kevin dan berlari. Sudah cukup dia membuat aku malu disekolah, jangan membuat aku malu lagi di tempat lain. Daripada harus ikut pulang sama dia lebih baik aku jalan kaki, pikirku dalam hati.
“de farah” suara seorang laki laki bertubuh jangkung menaiki motor gede berwarna hitam
“kak robi”
Kak robi ini adalah murid kelas 3 di sekolahku, dia adalah teman kevin tapi dia tidak nakal dan tidak pernah ikut tawuran dia juga terkenal pintar di sekolah jauh sekali dengan kevin.
“pulang sama siapa?”
“sendiri kak”
“aku anter aja ya, ga baik pulang sendirian”
Aku pun menangguk dan langsung menaiki motornya, dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia mengantarku pulang dengan selamat sampai rumah.
“mau masuk dulu kak?”
“ngga deh lain kali aja”
Tersungging senyum tipis di bibirnya yang manis dan menghangatkan, andai aja dia kakakku yang sesungguhnya. Kak robi pamit pulang dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
“pulang sama siapa?” suara mama yang sudah mengintip dari balik jendela dari tadi.
“kak robi”
“kenapa ga pulang sama kakakmu?”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“farah kamu ga boleh ngomong gitu”
“mama tuh kenapa sih belain kevin terus? Dia tuh emang anak kesayangan mama sampe udah bunuh orang aja masih dibelain”
“farah!!!”
Tidak pernah aku melihat mama membentakku dengan cara yang seperti itu, hanya karena kevin mama berbicara dengan volume yang sangat keras dan dengan mimik muka yang menyeramkan, air mataku menetes.
“udah lah mama tuh ga pernah bela farah, mama juga ga pernah mau nurutin maunya farah”
Aku berlari menuju kamarku, disanalah tempatku mencurahkan segala sesuatu yang sudah membludak, aku menangis sekencang kencangnya. Sejak ayah dinas di luar kota aku merasa tidak ada lagi yang membelaku, mama selalu membela kevin.

***

“lagi bikin tugas ya de?”
Aku tidak menanggapinya, aku juga sedang malas berdebat karena tugas ku yang belum juga selesai.
“sini aku bantuin”
Aku mengerutkan dahi, kalau dipikir pikir apa salahnya aku menerima bantuannya; toh kevin sudah pernah mengerjakan tugas seperti ini harusnya dia sudah mahir dong. Aku memberikan laptopku pada kevin tanpa bersuara.
“ini sih gampang” katanya sambil mencubit pipiku
“kerjain aja gausah cubit cubit”
Senyumnya yang manis mirip dengan ayahku, aku sedikit berpikir sebenarnya dia adalah orang yang baik mungkin karena dia salah bergaul makanya jadi seperti ini.
“aku bikinin kopi yah ... kak”
Seketika kevin menatapku mungkin kaget karena ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan “kakak”
“kamu kalau begini keliatan deh manisnya de” katanya sambil menggodaku, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tawuran itu aku menunjukkan senyum manisku pada kevin.
“aku mau kopi aja deh”
“oke bos tunggu 5 menit ya”
Sementara kevin mengerjakan tugasku, aku membuatkannya kopi dengan senang hati. Rasanya damai sekali bisa melupakan semua kejadian pahit dan memulainya dengan kebahagiaan.
“kopi panasnya data.....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” seketika tubuh kevin menangkapku dan membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Aku langsung melihat ke arah kopi yang sudah tidak berada lagi dalam genggamanku
“oh tidak laptopku” aku mengambil lap kering dan membersihkan laptop yang hampir seluruhnya basah. Laptop ku pun sudah blackscreen alias mati.
“besok aku benerin deh”
“besok besok! Aku butuh tugasnya sekarang bukan besok” air mataku mengalir deras
“tapi sekarang tukang service sudah tutup semua”
“udah deh kamu keluar aja, emang kamu tuh tukang mengacaukau semuanya. Aku benci sama kamu” aku mendorong kevin keluar dari kamarku dan membanting pintu.
Aku berusaha menekan tombol on tapi percuma saja laptopku sudah tidak bisa menyala lagi, aku benci sama kevin aku tidak ingin melihatnya lagi, aku berharap tuhan secepat mungkin mengambilnya dari dunia ini.

***


Cerita Selanjutnya : Love Light 2

Tuesday, January 22, 2013

Dearest

 Suatu saat nanti ...
mata kamu pasti akan melihat kekuranganku
Suatu saat nanti ...
telingamu pasti akan mendengar keburukanku
Dan suatu saat nanti,
pasti hatimu akan tersakiti oleh sikapku
Itulah aku !!!
Aku bukan manusia yang sempurna
Maka dari itu aku butuh kamu ...
Tegur aku bila aku salah ...
Nasehati aku bila aku keliru ...
Isi kekuranganku dengan kelebihanmu ...
Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus berada disampingku.

Sunday, January 20, 2013

Ketika Senja Mulai Memerah 5



 Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 4

Yuga

Yuga menderita penyakit low vision yaitu gangguan penglihatan atau keterbatasan penglihatan, apabila tidak diobati akan menimbulkan kebutaan. Ini sudah terjadi sejak lama, sering kali yuga tidak bisa melihat dengan jelas bahkan tidak bisa melihat sama sekali; yuga tidak pernah peduli bahkan tidak pernah memerikskannya ke dokter padahal jadwal periksanya adalah 1 bulan sekali.
Namun sejak kejadian kemarin sore yuga jadi hampir tidak bisa melihat sama sekali, melihat cahaya lampu pun hanya terlihat samar samar akhirnya viga membawanya kerumah sakit. “jangan katakan pada lily” sudah hampir 50 kali yuga mengatakan hal itu.
Viga hanya mengangguk.
Setelah 3 hari yuga dirawat dirumah sakit tetap saja tidak ada perkembangan malah lebih parah sekarang cahaya lampu putih terlihat abu abu dan apabila tidak memakai lampu sama sekali walaupun siang hari terlihat menjadi gelap. Sekarang yuga memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan digantikan oleh sepupu nya yang sudah berpengalaman.
“apa tidak bisa dilakukan operasi?” kata viga kepada dokter dengan wajah penuh kekhawatiran.
“tidak bisa, low vision tidak bisa disembuhkan dengan cara operasi”
“lalu dengan cara apa lagi?”
“hanya dengan melatih dia membiasakan hidup gelap gulita”
Viga meninggalkan ruang dokter kemudian masuk ke ruangan tempat rawat yuga.
“aku sudah tahu semuanya” suara yuga tiba tiba muncul
“tahu apa?”
“aku tidak bisa melihat lagi, aku sudah sering melihat artikel tentang penyakit ini dan semuanya sama low vision susah untuk disembuhkan”
“susah bukan berarti tidak bisa”
“sudahlah, aku bisa menerima ini semua” yuga memejamkan mata kemudian beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menggunakan tongkat layaknya orang tidak bisa melihat; kadang terjatuh, kadang menabrak lemari, menabrak semua yang dilewatinya tanpa ampun; “lihat aku bisa kan berjalan tanpa melihat?”

*

Viga

Viga berjalan menuju apartemennya sepertinya dia sudah lama tidak pulang karena sibuk mengurusi adiknya dirumah sakit.
“viga” suara lembut dari arah belakang muncul; viga pun menoleh
“lily”
“aku mencarimu kemana mana, handphone mu dan yuga tidak pernah aktif dan rumahmu selalu saja kosong”
“ayo kita bicara didalam” viga menghembuskan nafas lalu menuntun lily untuk masuk kedalam apartemennya.
“yuga dimana?”
Viga tidak langsung menjawab, dia membuatkan secangkir teh hangat untuk lily; wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu
“hei yuga dimana?” lily menempuk pundak viga.
“kamu ingin bertemu dengannya?”
Lily mengangguk.
“nanti aku mengajakmu menemuinya”
Dahi lily mengernyit heran namun dia tidak merespon apapun
“dengan syarat”
“apa?”
“nanti sewaktu kamu bertemu dengan yuga kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
“kenapa?
“pokoknya nurut saja” lily pun akhirnya mengangguk tanda mengerti.
Setelah selesai lily menyesap tehnya dan viga berganti pakaian mereka bersiap siap berangkat menemui yuga.

*

Lily

“kenapa kita ke rumah sakit? Yuga sakit? Dia sakit apa?”
“sudah aku bilang kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
Lily hanya diam, dengan itungan menit mereka sampai di ruangan tempat yuga dirawat; yuga membuka pintu dengan pelahan
“siapa?” kata yuga dengan nada sedikit membentak
“ini aku” kata viga sambil menutup pintu dan menuntun lily untuk mendekat ke tempat yuga berbaring.
“apa kamu bertemu dengan lily” tanya yuga tiba tiba
Apa? Dia tidak melihatku? Tubuh lily mengisyaratkan pertanyaan pada viga tanpa suara, viga hanya menempelkan telunjuk ke arah mulutnya
“aku bertemu dengannya” kata viga
“jaga dia baik baik ya” hati lily langsung tersentak mendengar perkataan dari yuga, dia tidak kuat lagi menahan semuanya kenapa ini begitu tiba tiba rasanya tidak adil.
Tiba tiba lily menangis, isakannya pelan namun terdengar ditengah ruangan yang sepi.
“viga kamu menangis?” tanya yuga. Viga hanya diam membiarkan lily menangis dan membiarkan yuga penuh dengan tanda tanya
“aku yang menangis” suara lembut itu mulai berbicara
“kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku, apa aku ini hanya sekedar menjadi boneka di kehidupan kalian? Apa aku tidak berhak mengetahuinya” amarah lily seolah membludak saat itu juga, emosinya terlihat meluap luap tak terbendung. Kedua kakak beradik itu pun hanya diam.
“oke kalo itu mau kamu saudara yuga, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi” seketika lily berlari keluar ruangan, mereka berdua hanya terpaku seolah olah hanya sedang melihat sebuah drama.
*
Yuga
Mataku tidak ada perubahan semua nya terlihat sama, gelap. Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen saja daripada di rumah sakit, aku bisa berlatih berjalan menggunakan tongkat dan tidak merepotkan siapapun.
“aku ingin ke taman” kata yuga sambil berlalu keluar rumah
“aku temani ya” viga beranjak dari tempat duduk lalu memegangi yuga
“tidak usah aku ingin sendirian”
Viga pun menurut dan akhirnya yuga berjalan sendirian dengan bantuan tongkat dan jalan menuju taman yang sudah hampir ia hafal
Yuga duduk di tengah taman tepat seperti biasa dia duduk berdua dengan lily, ia memejamkan mata menikmati angin sore hari yang langsung menyesap masuk ke tulang tulangnya.
“apabila duduk sendirian disini pertanda tidak akan mendapat jodoh loh” suara itu tiba tiba membuyarkan lamunan yuga
“lily” yuga membuka matanya dan tetap saja gelap.
“ternyata kamu hafal ya suaraku”
“itu karena aku pergi ke tempat ini selalu berdua denganmu”
Mereka berdua tertawa melupakan kejadian yang lalu, lily bukan orang pendendam jadi seketika saja dia melupakan kejadian itu.
“mau aku lukis?” yuga tidak menjawab tapi lily langsung mengeluarkan pensil dan perlengkapan melukis lainnya.
Yuga hanya diam, sementara lily menggoreskan pensilnya diatas kanvas yang sedikit basah karena air matanya; lily terus menggerak gerakkan pensilnya, memandang yuga sejenak lalu menggoreskan pensilnya kembali berulang ulang.
“sudah selesai” lily menghapus air mata di pipinya dan terlihat pura pura riang seperti biasanya.
“lily apakah kamu tidak malu duduk denganku? Bahkan aku pun tidak bisa melihat lagi hasil karyamu yang menawan itu”
Lily hanya terdiam
“coba sini aku lihat” yuga tiba tiba merebut lukisannya dari tangan lily. Dia melihat lukisannya, menaikan sebelah alisnya, memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri seperti sedang menimbang nimbang sesuatu “sepertinya kamu melupakan sesuatu” setelah selesai menimbang nimbang.
“apa”
“setelah hampir satu minggu dirumah sakit aku tidak sempat untuk mencukur kumisku, sepertinya kamu melupakan sedikit kumisku ini”
Bibir lily tiba tiba naik dan tersungging senyum yang seketika berubah menjadi gelak tawa
“aku akan mecukurkan kumismu nanti” kata lily
Tangan yuga menghampiri tangan lily, mereka saling menggenggam seolah tidak ingin terpisah
“apabila kamu ingin melihat lukisanku, aku akan meminjamkan mataku untukmu. Bahkan kamu boleh meminjam mataku untuk selamanya”
Yuga menoleh ke arah lily, walaupun sudah terlihat apa apa lagi namun bayangan wajah lily masih jelas terlihat dalam ingatan yuga.
Yuga menarik lily dalam pelukannya sambil menyaksikan senja yang akan segera turun.
“apapun yang terjadi izinkan aku melukismu dengan senja setiap hari” yuga mengangguk tetap dengan tangan yang dilingkarkan ke tubuh lily.
 seberat apapun cobaan yang dihadapi izinkan aku untuk terus tetap berada disampingmu