Buat Kamu
Kamu inget gak waktu kita pertama kali ketemu lagi?
Kamu baik dan perhatian banget sama aku, aku bahagia waktu itu
makanya aku langsung jatuh cinta sama kamu...
Kemudian semua berubah, kamu jadi cuek.
Kadang aku suka nangis sendiri ingin banget diperhatiin kaya dulu lagi
hahaha lucu ya aku jadi kaya anak kecil.
Tapi sekarang aku udah gak berharap hal indah itu terulang lagi,
yang aku harapkan hanyalah kesedihan ini segera berakhir.
Litli Drengurinn
sekarang saya seperti ini, esok hari saya akan berbeda dari hari sebelumnya.
Saturday, December 28, 2013
Tuesday, April 2, 2013
someday :)
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku ingin melihat matahari terbit dari timur tepat
sejajar dengan jendela tempat kita tidur, aku ingin merasakan wewangian bunga
berbagai jenis yang tertanam didepan bangunan sederhana satu lantai dengan
nuansa jaman dahulu, bangunan yang nyaman dan lumayan besar bahkan terasa
sangat besar untuk aku dan kamu.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini menjadi agak sempit, tidak ada
yang berubah dari bangunan ini masih dengan cat yang sama, dinding yang sama,
tanaman yang sama, wangi yang sama, dan rasa nyaman yang masih tetap sama. Entah
apa yang membuat bangunan ini terasa lebih sempit hanya karena penghuninya
bertambah satu orang, seorang yang begitu mirip denganku, seorang jagoan yang
tidak pernah melewatkan sudut rumah dalam seharinya untuk melakukan
persembunyian, berlari, melompat, menari, tertawa bersama aku dan kamu.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini menjadi lebih sempit karena
penghuni baru nya terlihat membesar dengan cepat, selain itu bangunan ini juga
mendapat satu penghuni baru lagi, satu orang yang cantik bagaikan putri. Seseorang
yang mirip dengan kamu dalam wujud perempuan. Tuan putri sangat berbeda dengan
jagoan, dia lebih suka berdiam di suatu tempat yang membuatnya nyaman, dan
tempat favoritnya adalah jendela itu, jendela tempat aku dan kamu tidur dan
jendela yang menjadi tempat favorit aku dan kamu juga.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini perlu untuk diperluas mengingat
tuan putri dan jagoan bertambah besar menjadi seorang remaja, sebetulnya tidak
banyak berubah dari bangunan ini hanya ditambah satu bangunan kecil tempat tuan
putri tidur, sementara jagoan tidur di tempat yang memang sudah disediakan dari
awal. Tuan putri sangat senang karena sekarang dia mempunyai jendela sendiri di
tempat yang sudah menjadi miliknya sendiri, aku yakin ketika tuan putri melihat
jendelanya dia akan teringat pada aku dan kamu.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini sangat sangat sangat luas, tidak
ada lagi yang berlari, melompat, berteriak, menangis, tertawa, bercanda bersama
sama di bangunan ini. jagoan dan tuan putri sudah mempunyai kehidupannya
sendiri di bangunan yang mereka bangun sendiri bersama pasangannya. Semoga
bangunan tempat mereka berteduh akan mempunyai cerita indah seperti tempatku
dan kamu berteduh, tempat yang mempunyai cerita manis dan pahit. aku dan kamu
mengukir cerita itu bersama sama menjadikannya pelajaran dalam hidup, dan
menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
suatu hari
ketika aku bangun pagi aku masih mendengar kamu mengucap kata yang tidak pernah
terlewatkan setiap harinya, kata yang sudah menjadi wajib untuk diucapkan. Dan
aku masih dengan jawaban yang sama setiap harinya, rasa yang sama mengatakan “I
LOVE YOU TOO”.
Saturday, January 26, 2013
TEMPE DAN TELOR GOSONG
Malam yang dingin disapu gerimis dan kabut tipis, membuatku menggigil kedinginan. Aku teringat dengan masakan ibu di malam itu dengan kondisi yang serupa.
Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.
Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.
Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.
Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.
Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"
Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."
Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"
Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-
Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.
Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.
Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.
Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.
Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"
Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."
Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"
Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-
Wednesday, January 23, 2013
Love Light 2
Cerita Sebelumnya : Love Light 1
Pagi ini gairahku sudah mencapai titik
terendah, aku tidak melihat kevin di meja makan saat sarapan aku juga disuruh
pergi sekolah dengan kak robi saja. Kemana kevin? Ah aku tidak peduli, aku juga
malas menanyakannya.
Aku berangkat sekolah diantar oleh kak robi
begitupun pulang sekolah, diperjalanan pulang kak robi membelokan motornya ke
arah yang berlawanan
“mau kemana kak?”
“ikut aja yah, aku ga akan bawa kamu kabur”
Aku sudah terlalu percaya dengan kak robi
sehingga aku menurut saja perkataannya, ternyata arah motor kak robi menuju ke
rumah sakit. Siapa yang sakit? Pikirku, tapi aku hanya diam saja tidak berani
bertanya banyak. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diajak ke ruangan UGD
yang terlihat banyak orang. Ternyata ada mama ku juga.
“mama”
Setibanya aku didepan UGD mama langsung
memelukku, aku tidak mengerti ada apa ini? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa
papa?
“ada apa ma?”
Mama hanya menangis, dan tiba tiba muncul
sosok papa dibelakangnya.
“papa?” lantas siapa yang sakit kalau bukan
papa?
“kevin” suara mama terdengar tidak jelas dan
pelan
Oh ternyata dia yang sakit, entahlah aku harus
senang atau harus prihatin atas kejadian ini.
“kevin sudah dipanggil tuhan” tangis mama
meledak kembali.
Kak robi pun langsung memelukku padahal aku
tidak ingin menangis sama sekali, aku bingung harus sedih atau senang. Ini kan farah maumu? Doamu sudah terkabulkan
oleh tuhan. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengejekku karenanya, tidak
akan ada lagi yang mengacaukan semuanya, tidak akan ada lagi penjahat yang
tinggal dirumahku, dan tidak ada lagi yang akan membentakku demi membela kevin,
sekarang kasih sayang mama dan papa sepenuhnya untukku.
Sepanjang hari aku tidak menangis sama sekali
sampai kevin dikuburpun aku tidak bisa merasakan apa apa, aku hanya bisa
memandang nisan yang bertuliskan nama Kevin.
Kevin
sekarang aku harus sedih atau harus senang? Namun jujur aku senang. Pikiran picikku muncul begitu saja saat aku memandangi nisan kevin
“de, are you okay?” kak robi menghampiriku dan
duduk disampingku
Aku hanya menangguk mantap
“ini” tiba tiba kak robi memberiku sesuatu,
sebuah laptop dan ini milikku
“kenapa bisa ada di kak robi?”
“semenjak kamu marah sama kevin gara gara
laptop kamu rusak, kevin sangat merasa bersalah. Dia langsung mengambil
laptopnya saat kamu tidur dan berusaha membetulkannya namun tidak bisa,
akhirnya dia mencari tukang service semalaman dan sendirian”
Aku hanya menyimak tanpa memberikan respon
sedikitpun
“dia baru ketemu tukang service yang buka itu
subuh subuh, akhirnya setelah selesai membetulkan laptopnya dia buru buru
pulang berharap bisa langsung memberikannya padamu, tapi kenyataannya dia
kecelakaan, mobilnya keluar jalur dan tertabrak oleh truk dari arah yang
berlawanan. Mungkin karena kelelahan atau mengantuk.”
Aku masih terdiam
“tapi de saat kejadian kevin kecelakaan, warga
menemukannya masih dalam keadaan dia sedang memegang laptop ini dengan erat
seolah dia tidak ingin membuat laptop ini cacat sedikitpun dan mengembalikannya
padamu dengan utuh”
Serasa ada pisau yang menghantam jantungku,
rasanya sakit sekali mendengar perkataan dari kak robi. Tangisku pun seketika
pecah, aku menyesali perbuatanku.
“kevin itu sayang sama kamu de, waktu kamu
tidak ingin pulang sama dia saja dia yang menyuruhku untuk mengantarmu pulang,
dia khawatir akan terjadi apa apa sama kamu”
Tangisku semakin kencang dan meledak, tubuhku
lemas aku tidak kuat lagi aku menyesal. Kak robi hanya mengelus elus pundakku
berusaha menenangkan.
“kevin itu bukan orang jahat de, dia
sebenarnya tidak ikut tawuran dia hanya kebetulan lewat dan saat itu kevin
melihat temannya sudah tidak berdaya dipukuli sampai hampir dibunuh, akhirnya
kevin merebut pisau dan untuk membela diri tidak sengaja kevin membalikan arah
pisaunya sehingga tidak sengaja tertusuk ke anak yang sudah memukuli temannya
itu”
Dengan gerakan refleks aku memeluk nisan
kevin, hal yang tidak pernah aku lakukan pada kevin saat dia masih hidup
“kevin itu bukan pembunuh de, dia hanya ingin
menyelamatkan temannya, dia adalah orang yang setia kawan oleh karena itu ibumu
tetap mempertahankannya agar dia bisa keluar dari penjara dan bisa kembali
masuk sekolah”
Kak robi meraih tubuhku dan memelukku “sampai
pada akhir hidup kevin dia masih memintaku untuk menjagamu dengan baik, dan aku
akan menepati janjiku” pelukan kak robi semakin erat dan tangisku pun semakin
kencang.
***
Kak robi ternyata menepati janjinya dia tidak
pernah meninggalkanku sedetikpun dia selalu berada disisiku mengantarku kesana
kemari sampai aku masuk perguruan tinggi yang aku impikan akhirnya dia
mengatakan cintanya padaku.
Kevin andai kamu masih ada aku ingin berbagi
kebahagiaanku bersamamu saat ini.
Love Light 1
jika aku diperbolehkan meminta satu permintaan
kepada tuhan, aku akan meminta agar dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.
“sampe sini aja”
Aku membuka pintu mobil dan sedikit berlari
menuju gerbang sekolah, sementara kevin kakakku memarkirkan mobil di ruko
samping sekolah karena peraturan yang tidak memperbolehkan murid untuk membawa
kendaraan.
“farah, kakak kamu kemarin terlibat tawuran
ya?” “farah kakak kamu kok jahat sih sampe bunuh orang” “farah bukannya kakak
kamu dipenjara kok masih masuk sekolah?” “farah kakak kamu ga tau malu banget
ya”
Hari ini aku bagai patung yang dipajang di
ruangan kelas, teman teman menghujaniku berbagai pertanyaan tentang kevin yang
terlibat tawuran 1 minggu yang lalu dan menusuk 1 orang dari sekolah lain yang
menjadi lawan tawuran sekolah kevin dan sekolahku juga, kevin sempat dipenjara
selama 2 hari tapi entah bagaimana caranya dia bisa bebas dan bisa kembali bersekolah
lagi. Aku pun hanya diam menanggapi pertanyaan yang sama.
Bel pulang sudah berbunyi, dari awal pelajaran
sampai akhir tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“de mau pulang bareng?”
Aku berjalan pura pura tidak mendengar suara
laki laki yang memanggilku sejak tadi, tiba tiba dia menarik tanganku.
“de mau pulang bareng ngga?”
“ngga” dengan suara setengah berteriak
“terus kamu mau pulang sama siapa?”
“bukan urusan kamu”
Aku menarik tanganku melepaskan genggaman
tangan kevin dan berlari. Sudah cukup dia membuat aku malu disekolah, jangan
membuat aku malu lagi di tempat lain. Daripada harus ikut pulang sama dia lebih
baik aku jalan kaki, pikirku dalam hati.
“de farah” suara seorang laki laki bertubuh
jangkung menaiki motor gede berwarna hitam
“kak robi”
Kak robi ini adalah murid kelas 3 di
sekolahku, dia adalah teman kevin tapi dia tidak nakal dan tidak pernah ikut
tawuran dia juga terkenal pintar di sekolah jauh sekali dengan kevin.
“pulang sama siapa?”
“sendiri kak”
“aku anter aja ya, ga baik pulang sendirian”
Aku pun menangguk dan langsung menaiki
motornya, dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia mengantarku
pulang dengan selamat sampai rumah.
“mau masuk dulu kak?”
“ngga deh lain kali aja”
Tersungging senyum tipis di bibirnya yang
manis dan menghangatkan, andai aja dia kakakku yang sesungguhnya. Kak robi
pamit pulang dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
“pulang sama siapa?” suara mama yang sudah
mengintip dari balik jendela dari tadi.
“kak robi”
“kenapa ga pulang sama kakakmu?”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“farah kamu ga boleh ngomong gitu”
“mama tuh kenapa sih belain kevin terus? Dia tuh
emang anak kesayangan mama sampe udah bunuh orang aja masih dibelain”
“farah!!!”
Tidak pernah aku melihat mama membentakku
dengan cara yang seperti itu, hanya karena kevin mama berbicara dengan volume
yang sangat keras dan dengan mimik muka yang menyeramkan, air mataku menetes.
“udah lah mama tuh ga pernah bela farah, mama
juga ga pernah mau nurutin maunya farah”
Aku berlari menuju kamarku, disanalah tempatku
mencurahkan segala sesuatu yang sudah membludak, aku menangis sekencang
kencangnya. Sejak ayah dinas di luar kota aku merasa tidak ada lagi yang
membelaku, mama selalu membela kevin.
***
“lagi bikin tugas ya de?”
Aku tidak menanggapinya, aku juga sedang malas
berdebat karena tugas ku yang belum juga selesai.
“sini aku bantuin”
Aku mengerutkan dahi, kalau dipikir pikir apa
salahnya aku menerima bantuannya; toh kevin sudah pernah mengerjakan tugas
seperti ini harusnya dia sudah mahir dong. Aku memberikan laptopku pada kevin
tanpa bersuara.
“ini sih gampang” katanya sambil mencubit
pipiku
“kerjain aja gausah cubit cubit”
Senyumnya yang manis mirip dengan ayahku, aku
sedikit berpikir sebenarnya dia adalah orang yang baik mungkin karena dia salah
bergaul makanya jadi seperti ini.
“aku bikinin kopi yah ... kak”
Seketika kevin menatapku mungkin kaget karena
ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan “kakak”
“kamu kalau begini keliatan deh manisnya de”
katanya sambil menggodaku, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tawuran
itu aku menunjukkan senyum manisku pada kevin.
“aku mau kopi aja deh”
“oke bos tunggu 5 menit ya”
Sementara kevin mengerjakan tugasku, aku
membuatkannya kopi dengan senang hati. Rasanya damai sekali bisa melupakan
semua kejadian pahit dan memulainya dengan kebahagiaan.
“kopi panasnya
data.....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” seketika tubuh kevin menangkapku dan
membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Aku langsung melihat ke arah kopi
yang sudah tidak berada lagi dalam genggamanku
“oh tidak laptopku” aku mengambil lap kering
dan membersihkan laptop yang hampir seluruhnya basah. Laptop ku pun sudah
blackscreen alias mati.
“besok aku benerin deh”
“besok besok! Aku butuh tugasnya sekarang
bukan besok” air mataku mengalir deras
“tapi sekarang tukang service sudah tutup
semua”
“udah deh kamu keluar aja, emang kamu tuh
tukang mengacaukau semuanya. Aku benci sama kamu” aku mendorong kevin keluar
dari kamarku dan membanting pintu.
Aku berusaha menekan tombol on tapi percuma
saja laptopku sudah tidak bisa menyala lagi, aku benci sama kevin aku tidak
ingin melihatnya lagi, aku berharap tuhan secepat mungkin mengambilnya dari
dunia ini.
Cerita Selanjutnya : Love Light 2
Tuesday, January 22, 2013
Dearest
Suatu saat nanti ...
mata kamu pasti akan melihat kekuranganku
Suatu saat nanti ...
telingamu pasti akan mendengar keburukanku
Dan suatu saat nanti,
pasti hatimu akan tersakiti oleh sikapku
Itulah aku !!!
Aku bukan manusia yang sempurna
Maka dari itu aku butuh kamu ...
Tegur aku bila aku salah ...
Nasehati aku bila aku keliru ...
Isi kekuranganku dengan kelebihanmu ...
Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus berada disampingku.
Sunday, January 20, 2013
Ketika Senja Mulai Memerah 5
Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 4
Yuga
Yuga menderita penyakit low vision yaitu gangguan
penglihatan atau keterbatasan penglihatan, apabila tidak diobati akan
menimbulkan kebutaan. Ini sudah terjadi sejak lama, sering kali yuga tidak bisa
melihat dengan jelas bahkan tidak bisa melihat sama sekali; yuga tidak pernah
peduli bahkan tidak pernah memerikskannya ke dokter padahal jadwal periksanya
adalah 1 bulan sekali.
Namun sejak kejadian kemarin sore yuga jadi hampir tidak
bisa melihat sama sekali, melihat cahaya lampu pun hanya terlihat samar samar
akhirnya viga membawanya kerumah sakit. “jangan katakan pada lily” sudah hampir
50 kali yuga mengatakan hal itu.
Viga hanya mengangguk.
Setelah 3 hari yuga dirawat dirumah sakit tetap saja tidak
ada perkembangan malah lebih parah sekarang cahaya lampu putih terlihat abu abu
dan apabila tidak memakai lampu sama sekali walaupun siang hari terlihat
menjadi gelap. Sekarang yuga memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan
digantikan oleh sepupu nya yang sudah berpengalaman.
“apa tidak bisa dilakukan operasi?” kata viga kepada dokter
dengan wajah penuh kekhawatiran.
“tidak bisa, low vision tidak bisa disembuhkan dengan cara
operasi”
“lalu dengan cara apa lagi?”
“hanya dengan melatih dia membiasakan hidup gelap gulita”
Viga meninggalkan ruang dokter kemudian masuk ke ruangan
tempat rawat yuga.
“aku sudah tahu semuanya” suara yuga tiba tiba muncul
“tahu apa?”
“aku tidak bisa melihat lagi, aku sudah sering melihat
artikel tentang penyakit ini dan semuanya sama low vision susah untuk
disembuhkan”
“susah bukan berarti tidak bisa”
“sudahlah, aku bisa menerima ini semua” yuga memejamkan mata
kemudian beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menggunakan tongkat layaknya
orang tidak bisa melihat; kadang terjatuh, kadang menabrak lemari, menabrak
semua yang dilewatinya tanpa ampun; “lihat aku bisa kan berjalan tanpa
melihat?”
*
Viga
Viga berjalan menuju apartemennya sepertinya dia sudah lama
tidak pulang karena sibuk mengurusi adiknya dirumah sakit.
“viga” suara lembut dari arah belakang muncul; viga pun
menoleh
“lily”
“aku mencarimu kemana mana, handphone mu dan yuga tidak
pernah aktif dan rumahmu selalu saja kosong”
“ayo kita bicara didalam” viga menghembuskan nafas lalu
menuntun lily untuk masuk kedalam apartemennya.
“yuga dimana?”
Viga tidak langsung menjawab, dia membuatkan secangkir teh
hangat untuk lily; wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu
“hei yuga dimana?” lily menempuk pundak viga.
“kamu ingin bertemu dengannya?”
Lily mengangguk.
“nanti aku mengajakmu menemuinya”
Dahi lily mengernyit heran namun dia tidak merespon apapun
“dengan syarat”
“apa?”
“nanti sewaktu kamu bertemu dengan yuga kamu tidak boleh
bersuara sedikitpun”
“kenapa?
“pokoknya nurut saja” lily pun akhirnya mengangguk tanda
mengerti.
Setelah selesai lily menyesap tehnya dan viga berganti
pakaian mereka bersiap siap berangkat menemui yuga.
*
Lily
“kenapa kita ke rumah sakit? Yuga sakit? Dia sakit apa?”
“sudah aku bilang kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
Lily hanya diam, dengan itungan menit mereka sampai di
ruangan tempat yuga dirawat; yuga membuka pintu dengan pelahan
“siapa?” kata yuga dengan nada sedikit membentak
“ini aku” kata viga sambil menutup pintu dan menuntun lily
untuk mendekat ke tempat yuga berbaring.
“apa kamu bertemu dengan lily” tanya yuga tiba tiba
Apa? Dia tidak
melihatku? Tubuh lily mengisyaratkan pertanyaan pada viga tanpa suara, viga
hanya menempelkan telunjuk ke arah mulutnya
“aku bertemu dengannya” kata viga
“jaga dia baik baik ya” hati lily langsung tersentak
mendengar perkataan dari yuga, dia tidak kuat lagi menahan semuanya kenapa ini
begitu tiba tiba rasanya tidak adil.
Tiba tiba lily menangis, isakannya pelan namun terdengar
ditengah ruangan yang sepi.
“viga kamu menangis?” tanya yuga. Viga hanya diam membiarkan
lily menangis dan membiarkan yuga penuh dengan tanda tanya
“aku yang menangis” suara lembut itu mulai berbicara
“kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku, apa aku ini
hanya sekedar menjadi boneka di kehidupan kalian? Apa aku tidak berhak
mengetahuinya” amarah lily seolah membludak saat itu juga, emosinya terlihat
meluap luap tak terbendung. Kedua kakak beradik itu pun hanya diam.
“oke kalo itu mau kamu saudara yuga, aku tidak akan
mengganggu kehidupanmu lagi” seketika lily berlari keluar ruangan, mereka
berdua hanya terpaku seolah olah hanya sedang melihat sebuah drama.
*
Yuga
Mataku tidak ada perubahan semua nya terlihat sama, gelap.
Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen saja daripada di rumah sakit, aku
bisa berlatih berjalan menggunakan tongkat dan tidak merepotkan siapapun.
“aku ingin ke taman” kata yuga sambil berlalu keluar rumah
“aku temani ya” viga beranjak dari tempat duduk lalu
memegangi yuga
“tidak usah aku ingin sendirian”
Viga pun menurut dan akhirnya yuga berjalan sendirian dengan
bantuan tongkat dan jalan menuju taman yang sudah hampir ia hafal
Yuga duduk di tengah taman tepat seperti biasa dia duduk
berdua dengan lily, ia memejamkan mata menikmati angin sore hari yang langsung
menyesap masuk ke tulang tulangnya.
“apabila duduk sendirian disini pertanda tidak akan mendapat
jodoh loh” suara itu tiba tiba membuyarkan lamunan yuga
“lily” yuga membuka matanya dan tetap saja gelap.
“ternyata kamu hafal ya suaraku”
“itu karena aku pergi ke tempat ini selalu berdua denganmu”
Mereka berdua tertawa melupakan kejadian yang lalu, lily
bukan orang pendendam jadi seketika saja dia melupakan kejadian itu.
“mau aku lukis?” yuga tidak menjawab tapi lily langsung
mengeluarkan pensil dan perlengkapan melukis lainnya.
Yuga hanya diam, sementara lily menggoreskan pensilnya
diatas kanvas yang sedikit basah karena air matanya; lily terus menggerak
gerakkan pensilnya, memandang yuga sejenak lalu menggoreskan pensilnya kembali
berulang ulang.
“sudah selesai” lily menghapus air mata di pipinya dan
terlihat pura pura riang seperti biasanya.
“lily apakah kamu tidak malu duduk denganku? Bahkan aku pun
tidak bisa melihat lagi hasil karyamu yang menawan itu”
Lily hanya terdiam
“coba sini aku lihat” yuga tiba tiba merebut lukisannya dari
tangan lily. Dia melihat lukisannya, menaikan sebelah alisnya, memiringkan
kepalanya ke kanan dan kekiri seperti sedang menimbang nimbang sesuatu
“sepertinya kamu melupakan sesuatu” setelah selesai menimbang nimbang.
“apa”
“setelah hampir satu minggu dirumah sakit aku tidak sempat
untuk mencukur kumisku, sepertinya kamu melupakan sedikit kumisku ini”
Bibir lily tiba tiba naik dan tersungging senyum yang
seketika berubah menjadi gelak tawa
“aku akan mecukurkan kumismu nanti” kata lily
Tangan yuga menghampiri tangan lily, mereka saling
menggenggam seolah tidak ingin terpisah
“apabila kamu ingin melihat lukisanku, aku akan meminjamkan
mataku untukmu. Bahkan kamu boleh meminjam mataku untuk selamanya”
Yuga menoleh ke arah lily, walaupun sudah terlihat apa apa
lagi namun bayangan wajah lily masih jelas terlihat dalam ingatan yuga.
Yuga menarik lily dalam pelukannya sambil menyaksikan senja
yang akan segera turun.
“apapun yang terjadi izinkan aku melukismu dengan senja
setiap hari” yuga mengangguk tetap dengan tangan yang dilingkarkan ke tubuh
lily.
seberat apapun cobaan yang dihadapi izinkan aku untuk terus tetap berada disampingmu
Subscribe to:
Comments (Atom)
