Sunday, January 20, 2013

Ketika Senja Mulai Memerah 5



 Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 4

Yuga

Yuga menderita penyakit low vision yaitu gangguan penglihatan atau keterbatasan penglihatan, apabila tidak diobati akan menimbulkan kebutaan. Ini sudah terjadi sejak lama, sering kali yuga tidak bisa melihat dengan jelas bahkan tidak bisa melihat sama sekali; yuga tidak pernah peduli bahkan tidak pernah memerikskannya ke dokter padahal jadwal periksanya adalah 1 bulan sekali.
Namun sejak kejadian kemarin sore yuga jadi hampir tidak bisa melihat sama sekali, melihat cahaya lampu pun hanya terlihat samar samar akhirnya viga membawanya kerumah sakit. “jangan katakan pada lily” sudah hampir 50 kali yuga mengatakan hal itu.
Viga hanya mengangguk.
Setelah 3 hari yuga dirawat dirumah sakit tetap saja tidak ada perkembangan malah lebih parah sekarang cahaya lampu putih terlihat abu abu dan apabila tidak memakai lampu sama sekali walaupun siang hari terlihat menjadi gelap. Sekarang yuga memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan digantikan oleh sepupu nya yang sudah berpengalaman.
“apa tidak bisa dilakukan operasi?” kata viga kepada dokter dengan wajah penuh kekhawatiran.
“tidak bisa, low vision tidak bisa disembuhkan dengan cara operasi”
“lalu dengan cara apa lagi?”
“hanya dengan melatih dia membiasakan hidup gelap gulita”
Viga meninggalkan ruang dokter kemudian masuk ke ruangan tempat rawat yuga.
“aku sudah tahu semuanya” suara yuga tiba tiba muncul
“tahu apa?”
“aku tidak bisa melihat lagi, aku sudah sering melihat artikel tentang penyakit ini dan semuanya sama low vision susah untuk disembuhkan”
“susah bukan berarti tidak bisa”
“sudahlah, aku bisa menerima ini semua” yuga memejamkan mata kemudian beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menggunakan tongkat layaknya orang tidak bisa melihat; kadang terjatuh, kadang menabrak lemari, menabrak semua yang dilewatinya tanpa ampun; “lihat aku bisa kan berjalan tanpa melihat?”

*

Viga

Viga berjalan menuju apartemennya sepertinya dia sudah lama tidak pulang karena sibuk mengurusi adiknya dirumah sakit.
“viga” suara lembut dari arah belakang muncul; viga pun menoleh
“lily”
“aku mencarimu kemana mana, handphone mu dan yuga tidak pernah aktif dan rumahmu selalu saja kosong”
“ayo kita bicara didalam” viga menghembuskan nafas lalu menuntun lily untuk masuk kedalam apartemennya.
“yuga dimana?”
Viga tidak langsung menjawab, dia membuatkan secangkir teh hangat untuk lily; wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu
“hei yuga dimana?” lily menempuk pundak viga.
“kamu ingin bertemu dengannya?”
Lily mengangguk.
“nanti aku mengajakmu menemuinya”
Dahi lily mengernyit heran namun dia tidak merespon apapun
“dengan syarat”
“apa?”
“nanti sewaktu kamu bertemu dengan yuga kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
“kenapa?
“pokoknya nurut saja” lily pun akhirnya mengangguk tanda mengerti.
Setelah selesai lily menyesap tehnya dan viga berganti pakaian mereka bersiap siap berangkat menemui yuga.

*

Lily

“kenapa kita ke rumah sakit? Yuga sakit? Dia sakit apa?”
“sudah aku bilang kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
Lily hanya diam, dengan itungan menit mereka sampai di ruangan tempat yuga dirawat; yuga membuka pintu dengan pelahan
“siapa?” kata yuga dengan nada sedikit membentak
“ini aku” kata viga sambil menutup pintu dan menuntun lily untuk mendekat ke tempat yuga berbaring.
“apa kamu bertemu dengan lily” tanya yuga tiba tiba
Apa? Dia tidak melihatku? Tubuh lily mengisyaratkan pertanyaan pada viga tanpa suara, viga hanya menempelkan telunjuk ke arah mulutnya
“aku bertemu dengannya” kata viga
“jaga dia baik baik ya” hati lily langsung tersentak mendengar perkataan dari yuga, dia tidak kuat lagi menahan semuanya kenapa ini begitu tiba tiba rasanya tidak adil.
Tiba tiba lily menangis, isakannya pelan namun terdengar ditengah ruangan yang sepi.
“viga kamu menangis?” tanya yuga. Viga hanya diam membiarkan lily menangis dan membiarkan yuga penuh dengan tanda tanya
“aku yang menangis” suara lembut itu mulai berbicara
“kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku, apa aku ini hanya sekedar menjadi boneka di kehidupan kalian? Apa aku tidak berhak mengetahuinya” amarah lily seolah membludak saat itu juga, emosinya terlihat meluap luap tak terbendung. Kedua kakak beradik itu pun hanya diam.
“oke kalo itu mau kamu saudara yuga, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi” seketika lily berlari keluar ruangan, mereka berdua hanya terpaku seolah olah hanya sedang melihat sebuah drama.
*
Yuga
Mataku tidak ada perubahan semua nya terlihat sama, gelap. Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen saja daripada di rumah sakit, aku bisa berlatih berjalan menggunakan tongkat dan tidak merepotkan siapapun.
“aku ingin ke taman” kata yuga sambil berlalu keluar rumah
“aku temani ya” viga beranjak dari tempat duduk lalu memegangi yuga
“tidak usah aku ingin sendirian”
Viga pun menurut dan akhirnya yuga berjalan sendirian dengan bantuan tongkat dan jalan menuju taman yang sudah hampir ia hafal
Yuga duduk di tengah taman tepat seperti biasa dia duduk berdua dengan lily, ia memejamkan mata menikmati angin sore hari yang langsung menyesap masuk ke tulang tulangnya.
“apabila duduk sendirian disini pertanda tidak akan mendapat jodoh loh” suara itu tiba tiba membuyarkan lamunan yuga
“lily” yuga membuka matanya dan tetap saja gelap.
“ternyata kamu hafal ya suaraku”
“itu karena aku pergi ke tempat ini selalu berdua denganmu”
Mereka berdua tertawa melupakan kejadian yang lalu, lily bukan orang pendendam jadi seketika saja dia melupakan kejadian itu.
“mau aku lukis?” yuga tidak menjawab tapi lily langsung mengeluarkan pensil dan perlengkapan melukis lainnya.
Yuga hanya diam, sementara lily menggoreskan pensilnya diatas kanvas yang sedikit basah karena air matanya; lily terus menggerak gerakkan pensilnya, memandang yuga sejenak lalu menggoreskan pensilnya kembali berulang ulang.
“sudah selesai” lily menghapus air mata di pipinya dan terlihat pura pura riang seperti biasanya.
“lily apakah kamu tidak malu duduk denganku? Bahkan aku pun tidak bisa melihat lagi hasil karyamu yang menawan itu”
Lily hanya terdiam
“coba sini aku lihat” yuga tiba tiba merebut lukisannya dari tangan lily. Dia melihat lukisannya, menaikan sebelah alisnya, memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri seperti sedang menimbang nimbang sesuatu “sepertinya kamu melupakan sesuatu” setelah selesai menimbang nimbang.
“apa”
“setelah hampir satu minggu dirumah sakit aku tidak sempat untuk mencukur kumisku, sepertinya kamu melupakan sedikit kumisku ini”
Bibir lily tiba tiba naik dan tersungging senyum yang seketika berubah menjadi gelak tawa
“aku akan mecukurkan kumismu nanti” kata lily
Tangan yuga menghampiri tangan lily, mereka saling menggenggam seolah tidak ingin terpisah
“apabila kamu ingin melihat lukisanku, aku akan meminjamkan mataku untukmu. Bahkan kamu boleh meminjam mataku untuk selamanya”
Yuga menoleh ke arah lily, walaupun sudah terlihat apa apa lagi namun bayangan wajah lily masih jelas terlihat dalam ingatan yuga.
Yuga menarik lily dalam pelukannya sambil menyaksikan senja yang akan segera turun.
“apapun yang terjadi izinkan aku melukismu dengan senja setiap hari” yuga mengangguk tetap dengan tangan yang dilingkarkan ke tubuh lily.
 seberat apapun cobaan yang dihadapi izinkan aku untuk terus tetap berada disampingmu

No comments:

Post a Comment