Saturday, January 26, 2013

TEMPE DAN TELOR GOSONG

Malam yang dingin disapu gerimis dan kabut tipis, membuatku menggigil kedinginan. Aku teringat dengan masakan ibu di malam itu dengan kondisi yang serupa.

Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.

Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.

Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.

Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.

Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"

Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."

Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"

Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.

Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-

No comments:

Post a Comment