Cerita Sebelumnya : Love Light 1
Pagi ini gairahku sudah mencapai titik
terendah, aku tidak melihat kevin di meja makan saat sarapan aku juga disuruh
pergi sekolah dengan kak robi saja. Kemana kevin? Ah aku tidak peduli, aku juga
malas menanyakannya.
Aku berangkat sekolah diantar oleh kak robi
begitupun pulang sekolah, diperjalanan pulang kak robi membelokan motornya ke
arah yang berlawanan
“mau kemana kak?”
“ikut aja yah, aku ga akan bawa kamu kabur”
Aku sudah terlalu percaya dengan kak robi
sehingga aku menurut saja perkataannya, ternyata arah motor kak robi menuju ke
rumah sakit. Siapa yang sakit? Pikirku, tapi aku hanya diam saja tidak berani
bertanya banyak. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diajak ke ruangan UGD
yang terlihat banyak orang. Ternyata ada mama ku juga.
“mama”
Setibanya aku didepan UGD mama langsung
memelukku, aku tidak mengerti ada apa ini? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa
papa?
“ada apa ma?”
Mama hanya menangis, dan tiba tiba muncul
sosok papa dibelakangnya.
“papa?” lantas siapa yang sakit kalau bukan
papa?
“kevin” suara mama terdengar tidak jelas dan
pelan
Oh ternyata dia yang sakit, entahlah aku harus
senang atau harus prihatin atas kejadian ini.
“kevin sudah dipanggil tuhan” tangis mama
meledak kembali.
Kak robi pun langsung memelukku padahal aku
tidak ingin menangis sama sekali, aku bingung harus sedih atau senang. Ini kan farah maumu? Doamu sudah terkabulkan
oleh tuhan. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengejekku karenanya, tidak
akan ada lagi yang mengacaukan semuanya, tidak akan ada lagi penjahat yang
tinggal dirumahku, dan tidak ada lagi yang akan membentakku demi membela kevin,
sekarang kasih sayang mama dan papa sepenuhnya untukku.
Sepanjang hari aku tidak menangis sama sekali
sampai kevin dikuburpun aku tidak bisa merasakan apa apa, aku hanya bisa
memandang nisan yang bertuliskan nama Kevin.
Kevin
sekarang aku harus sedih atau harus senang? Namun jujur aku senang. Pikiran picikku muncul begitu saja saat aku memandangi nisan kevin
“de, are you okay?” kak robi menghampiriku dan
duduk disampingku
Aku hanya menangguk mantap
“ini” tiba tiba kak robi memberiku sesuatu,
sebuah laptop dan ini milikku
“kenapa bisa ada di kak robi?”
“semenjak kamu marah sama kevin gara gara
laptop kamu rusak, kevin sangat merasa bersalah. Dia langsung mengambil
laptopnya saat kamu tidur dan berusaha membetulkannya namun tidak bisa,
akhirnya dia mencari tukang service semalaman dan sendirian”
Aku hanya menyimak tanpa memberikan respon
sedikitpun
“dia baru ketemu tukang service yang buka itu
subuh subuh, akhirnya setelah selesai membetulkan laptopnya dia buru buru
pulang berharap bisa langsung memberikannya padamu, tapi kenyataannya dia
kecelakaan, mobilnya keluar jalur dan tertabrak oleh truk dari arah yang
berlawanan. Mungkin karena kelelahan atau mengantuk.”
Aku masih terdiam
“tapi de saat kejadian kevin kecelakaan, warga
menemukannya masih dalam keadaan dia sedang memegang laptop ini dengan erat
seolah dia tidak ingin membuat laptop ini cacat sedikitpun dan mengembalikannya
padamu dengan utuh”
Serasa ada pisau yang menghantam jantungku,
rasanya sakit sekali mendengar perkataan dari kak robi. Tangisku pun seketika
pecah, aku menyesali perbuatanku.
“kevin itu sayang sama kamu de, waktu kamu
tidak ingin pulang sama dia saja dia yang menyuruhku untuk mengantarmu pulang,
dia khawatir akan terjadi apa apa sama kamu”
Tangisku semakin kencang dan meledak, tubuhku
lemas aku tidak kuat lagi aku menyesal. Kak robi hanya mengelus elus pundakku
berusaha menenangkan.
“kevin itu bukan orang jahat de, dia
sebenarnya tidak ikut tawuran dia hanya kebetulan lewat dan saat itu kevin
melihat temannya sudah tidak berdaya dipukuli sampai hampir dibunuh, akhirnya
kevin merebut pisau dan untuk membela diri tidak sengaja kevin membalikan arah
pisaunya sehingga tidak sengaja tertusuk ke anak yang sudah memukuli temannya
itu”
Dengan gerakan refleks aku memeluk nisan
kevin, hal yang tidak pernah aku lakukan pada kevin saat dia masih hidup
“kevin itu bukan pembunuh de, dia hanya ingin
menyelamatkan temannya, dia adalah orang yang setia kawan oleh karena itu ibumu
tetap mempertahankannya agar dia bisa keluar dari penjara dan bisa kembali
masuk sekolah”
Kak robi meraih tubuhku dan memelukku “sampai
pada akhir hidup kevin dia masih memintaku untuk menjagamu dengan baik, dan aku
akan menepati janjiku” pelukan kak robi semakin erat dan tangisku pun semakin
kencang.
***
Kak robi ternyata menepati janjinya dia tidak
pernah meninggalkanku sedetikpun dia selalu berada disisiku mengantarku kesana
kemari sampai aku masuk perguruan tinggi yang aku impikan akhirnya dia
mengatakan cintanya padaku.
Kevin andai kamu masih ada aku ingin berbagi
kebahagiaanku bersamamu saat ini.
No comments:
Post a Comment