Wednesday, January 23, 2013

Love Light 2


Cerita Sebelumnya : Love Light 1

Pagi ini gairahku sudah mencapai titik terendah, aku tidak melihat kevin di meja makan saat sarapan aku juga disuruh pergi sekolah dengan kak robi saja. Kemana kevin? Ah aku tidak peduli, aku juga malas menanyakannya.
Aku berangkat sekolah diantar oleh kak robi begitupun pulang sekolah, diperjalanan pulang kak robi membelokan motornya ke arah yang berlawanan
“mau kemana kak?”
“ikut aja yah, aku ga akan bawa kamu kabur”
Aku sudah terlalu percaya dengan kak robi sehingga aku menurut saja perkataannya, ternyata arah motor kak robi menuju ke rumah sakit. Siapa yang sakit? Pikirku, tapi aku hanya diam saja tidak berani bertanya banyak. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diajak ke ruangan UGD yang terlihat banyak orang. Ternyata ada mama ku juga.
“mama”
Setibanya aku didepan UGD mama langsung memelukku, aku tidak mengerti ada apa ini? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa papa?
“ada apa ma?”
Mama hanya menangis, dan tiba tiba muncul sosok papa dibelakangnya.
“papa?” lantas siapa yang sakit kalau bukan papa?
“kevin” suara mama terdengar tidak jelas dan pelan
Oh ternyata dia yang sakit, entahlah aku harus senang atau harus prihatin atas kejadian ini.
“kevin sudah dipanggil tuhan” tangis mama meledak kembali.
Kak robi pun langsung memelukku padahal aku tidak ingin menangis sama sekali, aku bingung harus sedih atau senang. Ini kan farah maumu? Doamu sudah terkabulkan oleh tuhan. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengejekku karenanya, tidak akan ada lagi yang mengacaukan semuanya, tidak akan ada lagi penjahat yang tinggal dirumahku, dan tidak ada lagi yang akan membentakku demi membela kevin, sekarang kasih sayang mama dan papa sepenuhnya untukku.
Sepanjang hari aku tidak menangis sama sekali sampai kevin dikuburpun aku tidak bisa merasakan apa apa, aku hanya bisa memandang nisan yang bertuliskan nama Kevin.
Kevin sekarang aku harus sedih atau harus senang? Namun jujur aku senang. Pikiran picikku muncul begitu saja saat aku memandangi nisan kevin
“de, are you okay?” kak robi menghampiriku dan duduk disampingku
Aku hanya menangguk mantap
“ini” tiba tiba kak robi memberiku sesuatu, sebuah laptop dan ini milikku
“kenapa bisa ada di kak robi?”
“semenjak kamu marah sama kevin gara gara laptop kamu rusak, kevin sangat merasa bersalah. Dia langsung mengambil laptopnya saat kamu tidur dan berusaha membetulkannya namun tidak bisa, akhirnya dia mencari tukang service semalaman dan sendirian”
Aku hanya menyimak tanpa memberikan respon sedikitpun
“dia baru ketemu tukang service yang buka itu subuh subuh, akhirnya setelah selesai membetulkan laptopnya dia buru buru pulang berharap bisa langsung memberikannya padamu, tapi kenyataannya dia kecelakaan, mobilnya keluar jalur dan tertabrak oleh truk dari arah yang berlawanan. Mungkin karena kelelahan atau mengantuk.”
Aku masih terdiam
“tapi de saat kejadian kevin kecelakaan, warga menemukannya masih dalam keadaan dia sedang memegang laptop ini dengan erat seolah dia tidak ingin membuat laptop ini cacat sedikitpun dan mengembalikannya padamu dengan utuh”
Serasa ada pisau yang menghantam jantungku, rasanya sakit sekali mendengar perkataan dari kak robi. Tangisku pun seketika pecah, aku menyesali perbuatanku.
“kevin itu sayang sama kamu de, waktu kamu tidak ingin pulang sama dia saja dia yang menyuruhku untuk mengantarmu pulang, dia khawatir akan terjadi apa apa sama kamu”
Tangisku semakin kencang dan meledak, tubuhku lemas aku tidak kuat lagi aku menyesal. Kak robi hanya mengelus elus pundakku berusaha menenangkan.
“kevin itu bukan orang jahat de, dia sebenarnya tidak ikut tawuran dia hanya kebetulan lewat dan saat itu kevin melihat temannya sudah tidak berdaya dipukuli sampai hampir dibunuh, akhirnya kevin merebut pisau dan untuk membela diri tidak sengaja kevin membalikan arah pisaunya sehingga tidak sengaja tertusuk ke anak yang sudah memukuli temannya itu”
Dengan gerakan refleks aku memeluk nisan kevin, hal yang tidak pernah aku lakukan pada kevin saat dia masih hidup
“kevin itu bukan pembunuh de, dia hanya ingin menyelamatkan temannya, dia adalah orang yang setia kawan oleh karena itu ibumu tetap mempertahankannya agar dia bisa keluar dari penjara dan bisa kembali masuk sekolah”
Kak robi meraih tubuhku dan memelukku “sampai pada akhir hidup kevin dia masih memintaku untuk menjagamu dengan baik, dan aku akan menepati janjiku” pelukan kak robi semakin erat dan tangisku pun semakin kencang.

***

Kak robi ternyata menepati janjinya dia tidak pernah meninggalkanku sedetikpun dia selalu berada disisiku mengantarku kesana kemari sampai aku masuk perguruan tinggi yang aku impikan akhirnya dia mengatakan cintanya padaku.
Kevin andai kamu masih ada aku ingin berbagi kebahagiaanku bersamamu saat ini.



No comments:

Post a Comment