Buat Kamu
Kamu inget gak waktu kita pertama kali ketemu lagi?
Kamu baik dan perhatian banget sama aku, aku bahagia waktu itu
makanya aku langsung jatuh cinta sama kamu...
Kemudian semua berubah, kamu jadi cuek.
Kadang aku suka nangis sendiri ingin banget diperhatiin kaya dulu lagi
hahaha lucu ya aku jadi kaya anak kecil.
Tapi sekarang aku udah gak berharap hal indah itu terulang lagi,
yang aku harapkan hanyalah kesedihan ini segera berakhir.
Saturday, December 28, 2013
Tuesday, April 2, 2013
someday :)
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku ingin melihat matahari terbit dari timur tepat
sejajar dengan jendela tempat kita tidur, aku ingin merasakan wewangian bunga
berbagai jenis yang tertanam didepan bangunan sederhana satu lantai dengan
nuansa jaman dahulu, bangunan yang nyaman dan lumayan besar bahkan terasa
sangat besar untuk aku dan kamu.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini menjadi agak sempit, tidak ada
yang berubah dari bangunan ini masih dengan cat yang sama, dinding yang sama,
tanaman yang sama, wangi yang sama, dan rasa nyaman yang masih tetap sama. Entah
apa yang membuat bangunan ini terasa lebih sempit hanya karena penghuninya
bertambah satu orang, seorang yang begitu mirip denganku, seorang jagoan yang
tidak pernah melewatkan sudut rumah dalam seharinya untuk melakukan
persembunyian, berlari, melompat, menari, tertawa bersama aku dan kamu.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini menjadi lebih sempit karena
penghuni baru nya terlihat membesar dengan cepat, selain itu bangunan ini juga
mendapat satu penghuni baru lagi, satu orang yang cantik bagaikan putri. Seseorang
yang mirip dengan kamu dalam wujud perempuan. Tuan putri sangat berbeda dengan
jagoan, dia lebih suka berdiam di suatu tempat yang membuatnya nyaman, dan
tempat favoritnya adalah jendela itu, jendela tempat aku dan kamu tidur dan
jendela yang menjadi tempat favorit aku dan kamu juga.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini perlu untuk diperluas mengingat
tuan putri dan jagoan bertambah besar menjadi seorang remaja, sebetulnya tidak
banyak berubah dari bangunan ini hanya ditambah satu bangunan kecil tempat tuan
putri tidur, sementara jagoan tidur di tempat yang memang sudah disediakan dari
awal. Tuan putri sangat senang karena sekarang dia mempunyai jendela sendiri di
tempat yang sudah menjadi miliknya sendiri, aku yakin ketika tuan putri melihat
jendelanya dia akan teringat pada aku dan kamu.
Suatu hari
ketika aku bangun pagi aku merasa bangunan ini sangat sangat sangat luas, tidak
ada lagi yang berlari, melompat, berteriak, menangis, tertawa, bercanda bersama
sama di bangunan ini. jagoan dan tuan putri sudah mempunyai kehidupannya
sendiri di bangunan yang mereka bangun sendiri bersama pasangannya. Semoga
bangunan tempat mereka berteduh akan mempunyai cerita indah seperti tempatku
dan kamu berteduh, tempat yang mempunyai cerita manis dan pahit. aku dan kamu
mengukir cerita itu bersama sama menjadikannya pelajaran dalam hidup, dan
menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
suatu hari
ketika aku bangun pagi aku masih mendengar kamu mengucap kata yang tidak pernah
terlewatkan setiap harinya, kata yang sudah menjadi wajib untuk diucapkan. Dan
aku masih dengan jawaban yang sama setiap harinya, rasa yang sama mengatakan “I
LOVE YOU TOO”.
Saturday, January 26, 2013
TEMPE DAN TELOR GOSONG
Malam yang dingin disapu gerimis dan kabut tipis, membuatku menggigil kedinginan. Aku teringat dengan masakan ibu di malam itu dengan kondisi yang serupa.
Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.
Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.
Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.
Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.
Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"
Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."
Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"
Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-
Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.
Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.
Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.
Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.
Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"
Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."
Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"
Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-
Wednesday, January 23, 2013
Love Light 2
Cerita Sebelumnya : Love Light 1
Pagi ini gairahku sudah mencapai titik
terendah, aku tidak melihat kevin di meja makan saat sarapan aku juga disuruh
pergi sekolah dengan kak robi saja. Kemana kevin? Ah aku tidak peduli, aku juga
malas menanyakannya.
Aku berangkat sekolah diantar oleh kak robi
begitupun pulang sekolah, diperjalanan pulang kak robi membelokan motornya ke
arah yang berlawanan
“mau kemana kak?”
“ikut aja yah, aku ga akan bawa kamu kabur”
Aku sudah terlalu percaya dengan kak robi
sehingga aku menurut saja perkataannya, ternyata arah motor kak robi menuju ke
rumah sakit. Siapa yang sakit? Pikirku, tapi aku hanya diam saja tidak berani
bertanya banyak. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diajak ke ruangan UGD
yang terlihat banyak orang. Ternyata ada mama ku juga.
“mama”
Setibanya aku didepan UGD mama langsung
memelukku, aku tidak mengerti ada apa ini? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa
papa?
“ada apa ma?”
Mama hanya menangis, dan tiba tiba muncul
sosok papa dibelakangnya.
“papa?” lantas siapa yang sakit kalau bukan
papa?
“kevin” suara mama terdengar tidak jelas dan
pelan
Oh ternyata dia yang sakit, entahlah aku harus
senang atau harus prihatin atas kejadian ini.
“kevin sudah dipanggil tuhan” tangis mama
meledak kembali.
Kak robi pun langsung memelukku padahal aku
tidak ingin menangis sama sekali, aku bingung harus sedih atau senang. Ini kan farah maumu? Doamu sudah terkabulkan
oleh tuhan. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengejekku karenanya, tidak
akan ada lagi yang mengacaukan semuanya, tidak akan ada lagi penjahat yang
tinggal dirumahku, dan tidak ada lagi yang akan membentakku demi membela kevin,
sekarang kasih sayang mama dan papa sepenuhnya untukku.
Sepanjang hari aku tidak menangis sama sekali
sampai kevin dikuburpun aku tidak bisa merasakan apa apa, aku hanya bisa
memandang nisan yang bertuliskan nama Kevin.
Kevin
sekarang aku harus sedih atau harus senang? Namun jujur aku senang. Pikiran picikku muncul begitu saja saat aku memandangi nisan kevin
“de, are you okay?” kak robi menghampiriku dan
duduk disampingku
Aku hanya menangguk mantap
“ini” tiba tiba kak robi memberiku sesuatu,
sebuah laptop dan ini milikku
“kenapa bisa ada di kak robi?”
“semenjak kamu marah sama kevin gara gara
laptop kamu rusak, kevin sangat merasa bersalah. Dia langsung mengambil
laptopnya saat kamu tidur dan berusaha membetulkannya namun tidak bisa,
akhirnya dia mencari tukang service semalaman dan sendirian”
Aku hanya menyimak tanpa memberikan respon
sedikitpun
“dia baru ketemu tukang service yang buka itu
subuh subuh, akhirnya setelah selesai membetulkan laptopnya dia buru buru
pulang berharap bisa langsung memberikannya padamu, tapi kenyataannya dia
kecelakaan, mobilnya keluar jalur dan tertabrak oleh truk dari arah yang
berlawanan. Mungkin karena kelelahan atau mengantuk.”
Aku masih terdiam
“tapi de saat kejadian kevin kecelakaan, warga
menemukannya masih dalam keadaan dia sedang memegang laptop ini dengan erat
seolah dia tidak ingin membuat laptop ini cacat sedikitpun dan mengembalikannya
padamu dengan utuh”
Serasa ada pisau yang menghantam jantungku,
rasanya sakit sekali mendengar perkataan dari kak robi. Tangisku pun seketika
pecah, aku menyesali perbuatanku.
“kevin itu sayang sama kamu de, waktu kamu
tidak ingin pulang sama dia saja dia yang menyuruhku untuk mengantarmu pulang,
dia khawatir akan terjadi apa apa sama kamu”
Tangisku semakin kencang dan meledak, tubuhku
lemas aku tidak kuat lagi aku menyesal. Kak robi hanya mengelus elus pundakku
berusaha menenangkan.
“kevin itu bukan orang jahat de, dia
sebenarnya tidak ikut tawuran dia hanya kebetulan lewat dan saat itu kevin
melihat temannya sudah tidak berdaya dipukuli sampai hampir dibunuh, akhirnya
kevin merebut pisau dan untuk membela diri tidak sengaja kevin membalikan arah
pisaunya sehingga tidak sengaja tertusuk ke anak yang sudah memukuli temannya
itu”
Dengan gerakan refleks aku memeluk nisan
kevin, hal yang tidak pernah aku lakukan pada kevin saat dia masih hidup
“kevin itu bukan pembunuh de, dia hanya ingin
menyelamatkan temannya, dia adalah orang yang setia kawan oleh karena itu ibumu
tetap mempertahankannya agar dia bisa keluar dari penjara dan bisa kembali
masuk sekolah”
Kak robi meraih tubuhku dan memelukku “sampai
pada akhir hidup kevin dia masih memintaku untuk menjagamu dengan baik, dan aku
akan menepati janjiku” pelukan kak robi semakin erat dan tangisku pun semakin
kencang.
***
Kak robi ternyata menepati janjinya dia tidak
pernah meninggalkanku sedetikpun dia selalu berada disisiku mengantarku kesana
kemari sampai aku masuk perguruan tinggi yang aku impikan akhirnya dia
mengatakan cintanya padaku.
Kevin andai kamu masih ada aku ingin berbagi
kebahagiaanku bersamamu saat ini.
Love Light 1
jika aku diperbolehkan meminta satu permintaan
kepada tuhan, aku akan meminta agar dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.
“sampe sini aja”
Aku membuka pintu mobil dan sedikit berlari
menuju gerbang sekolah, sementara kevin kakakku memarkirkan mobil di ruko
samping sekolah karena peraturan yang tidak memperbolehkan murid untuk membawa
kendaraan.
“farah, kakak kamu kemarin terlibat tawuran
ya?” “farah kakak kamu kok jahat sih sampe bunuh orang” “farah bukannya kakak
kamu dipenjara kok masih masuk sekolah?” “farah kakak kamu ga tau malu banget
ya”
Hari ini aku bagai patung yang dipajang di
ruangan kelas, teman teman menghujaniku berbagai pertanyaan tentang kevin yang
terlibat tawuran 1 minggu yang lalu dan menusuk 1 orang dari sekolah lain yang
menjadi lawan tawuran sekolah kevin dan sekolahku juga, kevin sempat dipenjara
selama 2 hari tapi entah bagaimana caranya dia bisa bebas dan bisa kembali bersekolah
lagi. Aku pun hanya diam menanggapi pertanyaan yang sama.
Bel pulang sudah berbunyi, dari awal pelajaran
sampai akhir tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“de mau pulang bareng?”
Aku berjalan pura pura tidak mendengar suara
laki laki yang memanggilku sejak tadi, tiba tiba dia menarik tanganku.
“de mau pulang bareng ngga?”
“ngga” dengan suara setengah berteriak
“terus kamu mau pulang sama siapa?”
“bukan urusan kamu”
Aku menarik tanganku melepaskan genggaman
tangan kevin dan berlari. Sudah cukup dia membuat aku malu disekolah, jangan
membuat aku malu lagi di tempat lain. Daripada harus ikut pulang sama dia lebih
baik aku jalan kaki, pikirku dalam hati.
“de farah” suara seorang laki laki bertubuh
jangkung menaiki motor gede berwarna hitam
“kak robi”
Kak robi ini adalah murid kelas 3 di
sekolahku, dia adalah teman kevin tapi dia tidak nakal dan tidak pernah ikut
tawuran dia juga terkenal pintar di sekolah jauh sekali dengan kevin.
“pulang sama siapa?”
“sendiri kak”
“aku anter aja ya, ga baik pulang sendirian”
Aku pun menangguk dan langsung menaiki
motornya, dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia mengantarku
pulang dengan selamat sampai rumah.
“mau masuk dulu kak?”
“ngga deh lain kali aja”
Tersungging senyum tipis di bibirnya yang
manis dan menghangatkan, andai aja dia kakakku yang sesungguhnya. Kak robi
pamit pulang dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
“pulang sama siapa?” suara mama yang sudah
mengintip dari balik jendela dari tadi.
“kak robi”
“kenapa ga pulang sama kakakmu?”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“farah kamu ga boleh ngomong gitu”
“mama tuh kenapa sih belain kevin terus? Dia tuh
emang anak kesayangan mama sampe udah bunuh orang aja masih dibelain”
“farah!!!”
Tidak pernah aku melihat mama membentakku
dengan cara yang seperti itu, hanya karena kevin mama berbicara dengan volume
yang sangat keras dan dengan mimik muka yang menyeramkan, air mataku menetes.
“udah lah mama tuh ga pernah bela farah, mama
juga ga pernah mau nurutin maunya farah”
Aku berlari menuju kamarku, disanalah tempatku
mencurahkan segala sesuatu yang sudah membludak, aku menangis sekencang
kencangnya. Sejak ayah dinas di luar kota aku merasa tidak ada lagi yang
membelaku, mama selalu membela kevin.
***
“lagi bikin tugas ya de?”
Aku tidak menanggapinya, aku juga sedang malas
berdebat karena tugas ku yang belum juga selesai.
“sini aku bantuin”
Aku mengerutkan dahi, kalau dipikir pikir apa
salahnya aku menerima bantuannya; toh kevin sudah pernah mengerjakan tugas
seperti ini harusnya dia sudah mahir dong. Aku memberikan laptopku pada kevin
tanpa bersuara.
“ini sih gampang” katanya sambil mencubit
pipiku
“kerjain aja gausah cubit cubit”
Senyumnya yang manis mirip dengan ayahku, aku
sedikit berpikir sebenarnya dia adalah orang yang baik mungkin karena dia salah
bergaul makanya jadi seperti ini.
“aku bikinin kopi yah ... kak”
Seketika kevin menatapku mungkin kaget karena
ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan “kakak”
“kamu kalau begini keliatan deh manisnya de”
katanya sambil menggodaku, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tawuran
itu aku menunjukkan senyum manisku pada kevin.
“aku mau kopi aja deh”
“oke bos tunggu 5 menit ya”
Sementara kevin mengerjakan tugasku, aku
membuatkannya kopi dengan senang hati. Rasanya damai sekali bisa melupakan
semua kejadian pahit dan memulainya dengan kebahagiaan.
“kopi panasnya
data.....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” seketika tubuh kevin menangkapku dan
membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Aku langsung melihat ke arah kopi
yang sudah tidak berada lagi dalam genggamanku
“oh tidak laptopku” aku mengambil lap kering
dan membersihkan laptop yang hampir seluruhnya basah. Laptop ku pun sudah
blackscreen alias mati.
“besok aku benerin deh”
“besok besok! Aku butuh tugasnya sekarang
bukan besok” air mataku mengalir deras
“tapi sekarang tukang service sudah tutup
semua”
“udah deh kamu keluar aja, emang kamu tuh
tukang mengacaukau semuanya. Aku benci sama kamu” aku mendorong kevin keluar
dari kamarku dan membanting pintu.
Aku berusaha menekan tombol on tapi percuma
saja laptopku sudah tidak bisa menyala lagi, aku benci sama kevin aku tidak
ingin melihatnya lagi, aku berharap tuhan secepat mungkin mengambilnya dari
dunia ini.
Cerita Selanjutnya : Love Light 2
Tuesday, January 22, 2013
Dearest
Suatu saat nanti ...
mata kamu pasti akan melihat kekuranganku
Suatu saat nanti ...
telingamu pasti akan mendengar keburukanku
Dan suatu saat nanti,
pasti hatimu akan tersakiti oleh sikapku
Itulah aku !!!
Aku bukan manusia yang sempurna
Maka dari itu aku butuh kamu ...
Tegur aku bila aku salah ...
Nasehati aku bila aku keliru ...
Isi kekuranganku dengan kelebihanmu ...
Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus berada disampingku.
Sunday, January 20, 2013
Ketika Senja Mulai Memerah 5
Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 4
Yuga
Yuga menderita penyakit low vision yaitu gangguan
penglihatan atau keterbatasan penglihatan, apabila tidak diobati akan
menimbulkan kebutaan. Ini sudah terjadi sejak lama, sering kali yuga tidak bisa
melihat dengan jelas bahkan tidak bisa melihat sama sekali; yuga tidak pernah
peduli bahkan tidak pernah memerikskannya ke dokter padahal jadwal periksanya
adalah 1 bulan sekali.
Namun sejak kejadian kemarin sore yuga jadi hampir tidak
bisa melihat sama sekali, melihat cahaya lampu pun hanya terlihat samar samar
akhirnya viga membawanya kerumah sakit. “jangan katakan pada lily” sudah hampir
50 kali yuga mengatakan hal itu.
Viga hanya mengangguk.
Setelah 3 hari yuga dirawat dirumah sakit tetap saja tidak
ada perkembangan malah lebih parah sekarang cahaya lampu putih terlihat abu abu
dan apabila tidak memakai lampu sama sekali walaupun siang hari terlihat
menjadi gelap. Sekarang yuga memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan
digantikan oleh sepupu nya yang sudah berpengalaman.
“apa tidak bisa dilakukan operasi?” kata viga kepada dokter
dengan wajah penuh kekhawatiran.
“tidak bisa, low vision tidak bisa disembuhkan dengan cara
operasi”
“lalu dengan cara apa lagi?”
“hanya dengan melatih dia membiasakan hidup gelap gulita”
Viga meninggalkan ruang dokter kemudian masuk ke ruangan
tempat rawat yuga.
“aku sudah tahu semuanya” suara yuga tiba tiba muncul
“tahu apa?”
“aku tidak bisa melihat lagi, aku sudah sering melihat
artikel tentang penyakit ini dan semuanya sama low vision susah untuk
disembuhkan”
“susah bukan berarti tidak bisa”
“sudahlah, aku bisa menerima ini semua” yuga memejamkan mata
kemudian beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menggunakan tongkat layaknya
orang tidak bisa melihat; kadang terjatuh, kadang menabrak lemari, menabrak
semua yang dilewatinya tanpa ampun; “lihat aku bisa kan berjalan tanpa
melihat?”
*
Viga
Viga berjalan menuju apartemennya sepertinya dia sudah lama
tidak pulang karena sibuk mengurusi adiknya dirumah sakit.
“viga” suara lembut dari arah belakang muncul; viga pun
menoleh
“lily”
“aku mencarimu kemana mana, handphone mu dan yuga tidak
pernah aktif dan rumahmu selalu saja kosong”
“ayo kita bicara didalam” viga menghembuskan nafas lalu
menuntun lily untuk masuk kedalam apartemennya.
“yuga dimana?”
Viga tidak langsung menjawab, dia membuatkan secangkir teh
hangat untuk lily; wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu
“hei yuga dimana?” lily menempuk pundak viga.
“kamu ingin bertemu dengannya?”
Lily mengangguk.
“nanti aku mengajakmu menemuinya”
Dahi lily mengernyit heran namun dia tidak merespon apapun
“dengan syarat”
“apa?”
“nanti sewaktu kamu bertemu dengan yuga kamu tidak boleh
bersuara sedikitpun”
“kenapa?
“pokoknya nurut saja” lily pun akhirnya mengangguk tanda
mengerti.
Setelah selesai lily menyesap tehnya dan viga berganti
pakaian mereka bersiap siap berangkat menemui yuga.
*
Lily
“kenapa kita ke rumah sakit? Yuga sakit? Dia sakit apa?”
“sudah aku bilang kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
Lily hanya diam, dengan itungan menit mereka sampai di
ruangan tempat yuga dirawat; yuga membuka pintu dengan pelahan
“siapa?” kata yuga dengan nada sedikit membentak
“ini aku” kata viga sambil menutup pintu dan menuntun lily
untuk mendekat ke tempat yuga berbaring.
“apa kamu bertemu dengan lily” tanya yuga tiba tiba
Apa? Dia tidak
melihatku? Tubuh lily mengisyaratkan pertanyaan pada viga tanpa suara, viga
hanya menempelkan telunjuk ke arah mulutnya
“aku bertemu dengannya” kata viga
“jaga dia baik baik ya” hati lily langsung tersentak
mendengar perkataan dari yuga, dia tidak kuat lagi menahan semuanya kenapa ini
begitu tiba tiba rasanya tidak adil.
Tiba tiba lily menangis, isakannya pelan namun terdengar
ditengah ruangan yang sepi.
“viga kamu menangis?” tanya yuga. Viga hanya diam membiarkan
lily menangis dan membiarkan yuga penuh dengan tanda tanya
“aku yang menangis” suara lembut itu mulai berbicara
“kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku, apa aku ini
hanya sekedar menjadi boneka di kehidupan kalian? Apa aku tidak berhak
mengetahuinya” amarah lily seolah membludak saat itu juga, emosinya terlihat
meluap luap tak terbendung. Kedua kakak beradik itu pun hanya diam.
“oke kalo itu mau kamu saudara yuga, aku tidak akan
mengganggu kehidupanmu lagi” seketika lily berlari keluar ruangan, mereka
berdua hanya terpaku seolah olah hanya sedang melihat sebuah drama.
*
Yuga
Mataku tidak ada perubahan semua nya terlihat sama, gelap.
Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen saja daripada di rumah sakit, aku
bisa berlatih berjalan menggunakan tongkat dan tidak merepotkan siapapun.
“aku ingin ke taman” kata yuga sambil berlalu keluar rumah
“aku temani ya” viga beranjak dari tempat duduk lalu
memegangi yuga
“tidak usah aku ingin sendirian”
Viga pun menurut dan akhirnya yuga berjalan sendirian dengan
bantuan tongkat dan jalan menuju taman yang sudah hampir ia hafal
Yuga duduk di tengah taman tepat seperti biasa dia duduk
berdua dengan lily, ia memejamkan mata menikmati angin sore hari yang langsung
menyesap masuk ke tulang tulangnya.
“apabila duduk sendirian disini pertanda tidak akan mendapat
jodoh loh” suara itu tiba tiba membuyarkan lamunan yuga
“lily” yuga membuka matanya dan tetap saja gelap.
“ternyata kamu hafal ya suaraku”
“itu karena aku pergi ke tempat ini selalu berdua denganmu”
Mereka berdua tertawa melupakan kejadian yang lalu, lily
bukan orang pendendam jadi seketika saja dia melupakan kejadian itu.
“mau aku lukis?” yuga tidak menjawab tapi lily langsung
mengeluarkan pensil dan perlengkapan melukis lainnya.
Yuga hanya diam, sementara lily menggoreskan pensilnya
diatas kanvas yang sedikit basah karena air matanya; lily terus menggerak
gerakkan pensilnya, memandang yuga sejenak lalu menggoreskan pensilnya kembali
berulang ulang.
“sudah selesai” lily menghapus air mata di pipinya dan
terlihat pura pura riang seperti biasanya.
“lily apakah kamu tidak malu duduk denganku? Bahkan aku pun
tidak bisa melihat lagi hasil karyamu yang menawan itu”
Lily hanya terdiam
“coba sini aku lihat” yuga tiba tiba merebut lukisannya dari
tangan lily. Dia melihat lukisannya, menaikan sebelah alisnya, memiringkan
kepalanya ke kanan dan kekiri seperti sedang menimbang nimbang sesuatu
“sepertinya kamu melupakan sesuatu” setelah selesai menimbang nimbang.
“apa”
“setelah hampir satu minggu dirumah sakit aku tidak sempat
untuk mencukur kumisku, sepertinya kamu melupakan sedikit kumisku ini”
Bibir lily tiba tiba naik dan tersungging senyum yang
seketika berubah menjadi gelak tawa
“aku akan mecukurkan kumismu nanti” kata lily
Tangan yuga menghampiri tangan lily, mereka saling
menggenggam seolah tidak ingin terpisah
“apabila kamu ingin melihat lukisanku, aku akan meminjamkan
mataku untukmu. Bahkan kamu boleh meminjam mataku untuk selamanya”
Yuga menoleh ke arah lily, walaupun sudah terlihat apa apa
lagi namun bayangan wajah lily masih jelas terlihat dalam ingatan yuga.
Yuga menarik lily dalam pelukannya sambil menyaksikan senja
yang akan segera turun.
“apapun yang terjadi izinkan aku melukismu dengan senja
setiap hari” yuga mengangguk tetap dengan tangan yang dilingkarkan ke tubuh
lily.
seberat apapun cobaan yang dihadapi izinkan aku untuk terus tetap berada disampingmu
Ketika Senja Mulai Memerah 4
Lily
“kau datang tepat
waktu” suara laki laki itu muncul tanpa menoleh ke arah gadis yang
menghampirinya.
“aku pikir aku
terlambat” gadis itu tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
Ya tuhan jantungku rasanya mau berhenti
melihat gadis itu tersenyum dengan tulus, bukan yuga namanya bila dia tidak
bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
“ayo lukis aku” kata yuga ketus
“aku ingin melukismu
ditengah sunset jadi sabar sebentar ya” sahut lily bersemangat.
Yuga sangat tidak suka
menunggu tapi entah kenapa demi gadis ini dia rela menunggu sampai kapanpun .
“itu dia itu dia ayo
kamu siap siap tersenyum ya” lily melompat lompat riang, bibir yuga terangkat
sedikit “ayolah tunjukan senyum terbaikmu bayangkan saja bahwa yang melukismu
saat ini adalah wanita pujaanmu” lily masih bersemangat.
Yuga tertegun mendengar
setiap perkataan lily, yuga akhirnya menuruti dia memejamkan mata membayangkan
wajah ibunya namun entah kenapa wajah lily selalu muncul dan tanpa disadari
senyum tulus pun tersungging di bibir yuga, dengan penuh semangat lily melukis
wajah yuga yang memang sangat tampan dengan tersenyum seperti itu.
“selesai” teriak lily
riang membuyarkan lamunan yuga “lihat kau terlihat tampan bukan kau tahu ini
pertama kalinya aku melukis seorang pria setelah ayah” seru lily sambil
mendekati yuga dan memperlihatkan hasil lukisannya. Ini terlalu dekat sampai
sampai jantung yuga berdetak lebih keras yuga pun mendorong gadis itu karena
takut lily akan mendengar jantungnya yang sangat tidk menentu “aaahh” suara
lily saat berbenturan dengan tanah.
“maafkan aku” ujar yuga
penuh rasa berdosa sambil membantu lily berdiri, “tidak masalah mungkin aku
memang tadi terlalu dekat” sahut lily masih dengan senyum manisnya.
Sebenarnya tidak
masalah bahkan yuga sangat senang apabila berada di dekat gadis itu namun entah
apa yang telah merasukinya sehingga ia bisa berbuat kasar seperti itu.
“sudah malam aku pulang
duluan yah” seru lily sambil melirik jam tangannya
“biar aku antar pulang”
sahut yuga sambil berjalan menjauhi taman
Lily segera mengikuti
“aku tidak perlu diantar sungguh” ujar lily memohon
“yasudah aku pulang ya”
yuga pun berlalu tanpa menoleh sedikit pun kearah lily
“hati hati” teriak lily
walaupun sudah tidak mungkin terdengar oleh yuga karena bayangannya sudah
menghilang. Sebenarnya dia ingin sekai diantar oleh yuga mungkin karena gengsi
dan laki laki itu tidak memaksa jadi yasudahlah lily juga sudah terbiasa pulang
malam sendirian
Lily mulai berjalan
menjauhi taman “kenapa dia membiarkanku pulang sendirian tidak khawatir apa?”
gerutu lily sambil memajukan sedikit bibirnya pertanda cemberut, sepanjang
perjananan pulang ke apartemennya lily terus memikirkan yuga aneh bisa bisanya
lily memikirkan malaikat kegelapan tapi tak bisa dipungkiri tersungging senyum
bahagia yang terpancar dari bibir lily. Tiba tiba langkahnya terhenti dia
menoleh ke belakang “ternyata dia tidak menyusulku” gerutu lily pelan ada sedikit
kekecewaan pada ucapan lily, lily melanjutkan berjalan hingga sampai pada
apartemennya lily berbelok dan mengeluarkan kunci lalu membuka pintu sekali
lagi lily menatap ke arah jalan berharap laki laki itu uncul dan
mengkhawatirkannya tapi ternyata harapannya tidak terpenuhi laki laki itu tidak
peduli kepadanya, lily un masuk dan menutup pintu apartemennya
*
Yuga
“bodoh kenapa aku
meninggalkannya sendirian” gerutu yuga kepada dirinya sendiri, tanpa berpikir
panjang yuga kembali ke arah taman namun sosok gadis itu sudah tidak ada, yuga
berjalan sambil memutar kepala kanan kiri mencari keberadaan gadis itu, sangat
khawatir membiarkan gadis polos itu pulang sendirian, akhirnya yuga terpaku
pada sesosok gadis yang sedang berjalan sambil menunduk ya itu dia yuga enemukan
gadis itu , yuga mengikuti gadis itu dengan langkah pelan agar dia tidak
mengetahui bahwa yuga sedang mengikutinya tiba tiba langkah gadis itu pun
berhenti sepertinya sedang memikirkan sesuatu lily menoleh pelan, menyadari
gerakan lily yuga pun berbalik menghadap ke arah yang berlawanan, lily kembali
memandang lurus ke dpan yuga melanjutkan berjalan kembali, setelah hampir
setengah jam berjalan akhirnya lily berbelok ke sebuah apartemen rupanya dia
sudah sampai yuga masih terdiam menatap gadis itu dari kejauhan memastikan lily
pulang dengan selamat karena dia tidak mau kehilangan malaikat matahari yang
selalu menyinarinya.
*
Viga
Suara pintu rumah viga
terbuka, tepat nya pukul 9 malam adiknya baru sampai kerumah
“dari mana saja kau?”
tanya viga dengan mengerutkan dahi, yuga hanya tersenyum namun kali ini
senyumnya terasa berbeda senyumnya tulus sepertinya yuga sedang berbunga bugan
entah apa yang menyebabkan yuga bahagia tetapi viga senang melihatnya semoga
tetap seperti ini.
*
Lily
Bisa
kita bertemu aku tunggu jam 10 pagi di cafe biasa
Dahi lily mengernyit
setelah membaca pesan dari viga yang tertera pada layar, ada apa?apakah ada
sesuatu yang penting? Lily mengambil tas tangannya lalu keluar dari
apartemennya untuk menuju cafe yang disebutkan viga tadi.
Ternyata viga belum
datang lily langsung menduduki kursi kosong yang menghadap ke jendela lily
tidak langsung memesan apapun karena ingin menunggu viga terlebih dahulu,
setelah hampir 10 menit menunggu akhirnya viga pun datang dan langsung
menghampiri gadis manis yang menggunakan kaos kebesaran dan celana jeans
walaupun penampilannya yang biasa namun lily terlihat sangat menarik dan
mempesona.
“hai maaf aku
terlambat” sapa viga, lily langsung menoleh ke asal suara senyumnya langsung
mengembang ketika mlihat seseorang yang sedang ditunggunya sudah datang. Viga
langsung duduk dan memanggil pelayan untuk memesan setelah pelayan itu pergi
lily mulai membuka suara “sebenarnya ada apa kamu ingin menemuiku pagi pagi
begini?” tanya lily dengan nada penuh penasaran. Viga sedikit mencondongkan
tubuhnya mendekat ke wajah lili sambil bertopang siku diatas meja “kemarin
malam aku menemukan sesuatu yang aneh” seru viga dengan nada serius, dahi lily
mengernyit tanda heran “kemarin malam aku mendapati adikku tersenyum, namun
berbeda dengan sebelumnya sepertinya kemarin dia telah menemukan sesuatu yang
membuat dia bahagia atau dia telah bertemu seseorang yang telah menyenangkan
hatinya” lanjut viga, “kemarin malam?” tanya lily dengan mata melotot, viga
hanya mengangguk sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Kemrin malam ?
bukankah kemarin yuga pergi bersamaku? Apakah aku yang telah membuat dia
tersenyum? Apakah aku yang telah menyenangkan hatinya? Pertanyaan itu terus
bermunculan di kepala lily tiba tiba tubuh lily gemetar wajahnya terlihat
memerah jantungnya berdegup 2 kali lebih cepat ia merasa gugup tapi... tapi
senang mengapa perasaan ini muncul apakah aku menyuka... lily langsung
menggeleng gelengkan kepalanya sampai akhirnya lamunan lily buyar ketika
seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka.
“aaahh akhirnya” seru
viga riang “aku sudah lapar dari tadi” lanjutnya, pelayan itu menunduk hormat
dan berlalu.
“aku yakin kau sudah
lapar wajahmu udah memerah sedari tadi” ujar viga sambil melahap maknannya,
lily hanya tersenyum sebenarnya mkannya memerah bukan karena lapar bukan sama
sekali tapi justru karena cerita viga tentang.. tentang laki laki itu, laki
laki yang sudah membuat jantung lily tak karuan.
*
Yuga
“aku ingin mencari
sarapan diluar saja” seru yuga pada arbi asistennya, arbi hanya mengangguk
mengerti. Yuga segera bergegas keluar dari perusahaannya dan memilih untuk
berjalan kaki dan langkah kakinya terhenti ketika melihat sebuah cafe,
sebenarnya bukan cafe itu yang menjadi pusat perhatiannya namun seseorang yang
berada didalamnya dibalik jendela gadis itu gadis impian yuga, yuga tiba tiba
tersenyum namun senyumnya memudar ketika melihat laki laki di hadapan lily.
Viga? Kenapa mereka sarapan bersama? Mereka sepertinya krab sekali, lily
terlihat sangat bahagia ketika bersama viga berbeda apabila lily sedang bersama
yuga, yuga selalu membuat gadis itu kesal dan marah tapi viga dia bisa membuat
gadis impiannya itu tertawa lepas dan bahagia.
Tiba tiba dada yuga
merasa nyeri melihat pemandangan yang tidak mengenakan itu, yuga terasa seperti
tidak bisa bernafas tenggorokannya kering kaki yuga melemah untuk menopang
tubuh kekarnya kepalanya terasa remang remang dan seketika gelap saat tubuh
yuga ambruk di tanah.
*
Viga
Viga membaringkan
tubuhnya di sofa, lelah sekali hari ini padahal tidak bekerja dan hanya pergi
ke cafe untuk sarapan bersama lily, viga memejamkan mata sebentar lalu
membukanya kembali, tiba tiba mata viga tertuju pada suatu ruangan yang
terbuka, kamar yuga. Tidak biasanya yuga tidak mengunci kamarnya apa karena ia
buru buru berangkat kerja, viga menghampiri pintu kamar hendak menutupnya namun
dibuka kembali setelah melihat sesuatu tergeletak di tempat tidur yuga, dengan
rasa penasaran viga menghampiri benda tersebut, benda itu adalah lukisan,
lukisan wajah yuga dengan sunset di sore hari dan mata viga langsung kaget
ketika menemukan tulisan dibawah lukisan itu.
Tersenyumlah
seperti senja yang akan segera tenggelam, sangat indah.Lily
Astaga, jadi kemarin
yuga menemui lily. Apakah yang membuat yuga tersenyum bahagia itu adalah lily?
Ya benar gadis itu telah membuat yuga seorang malaikat kegelapan menemukan
cahayanya, saat itu viga menyadari bahwa yuga menyukai lily.
Krriiiiinnnggg bunyu
ponsel viga membuyarkan lamunannya, tanpa melihat siapa nama yang tertera
dilayar ia langsung menjawab “halo” wajah viga berubah menjadi cemas setelah
menempelkan ponselnya di telinga “APA?” suaranya viga terdengar sangat kencang
lalu tanpa berpikir panjang seketika ia berlari keluar rumah menyalakan mesin
lalu melesakkan mobilnya dengan kencang.
*
Lily
Lily berlali menuju
kamar tempat yuga dirawat ia tidak pernah merasa secemas ini, nafasnya terengah
engah namun tidak menghentikan lily untuk berlari air matanya tiba tiba
mengalir di pipinya, mata lily merasa lega ketika enemukan kamar tempat yuga
dirawat dia buka pintu kamar dengan ragu, setelah pintu terbuka lily mendapati
2 orang yang sedang menoleh ke arahnya, viga langsung menghampiri lily dan
mempersilahkannya masuk lalu viga menutup pintu kamarnya dari luar, hanya
tinggal lily dan yuga yang ada di ruangan tersebut.
“jadi kesini hanya
untuk bengong?kalau hanya untuk itu mending pulang saja” kata yuga ketus dan
dingin bahkan sangat dingin sampai sampai tubuh lily juga merasa dingin dan
dadanya sakit mendengar ucapan itu, kecemasan liy ternyata hanya sia sia ternyata dia membenciku hanya itu yang
ada di pikiran lily sekarang. “aku kesini ingin menemui viga bukan untuk
menemuimu” sahut lily, tanpa mendengar ucapan dari yuga, lily langsung keluar
dan menutup pintu dengan keras. Sakit .. itu yang dirasakannya sekarang.
*
Yuga
Tubuhku gemetar
jantungku berdegup kencang ketika melihat dia, gadis impianku datang untuk
menjengukku tetapi dengan wajah murung, tiba tiba viga menghampirinya dan
mengulas senyum yang ditujukan untuk lily, lily pun menatap viga sambil
tersenyum dan viga pun berlalu keluar ruangan. Hanya dengan senyuman viga saja
bisa membuat ekspresi wajah lily berubah? Yang benar saja. Ekspresi yuga
langsung berubah ketika melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya
barusan, lily tetap mematung didepan pintu “jadi kesini hanya untuk
bengong?kalau hanya untuk itu mending pulang saja” yuga membuka suara dengan
ketus dan dingin, lily mendengus kesal “aku kesini ingin menemui viga bukan
untuk menemuimu” lalu dalam hitungan detik bayangan lily sudah tidak ada di
ruangan itu diiringi suara bantingan pintu yang keras.
Apakah yang dilakukanku
sudah benar? Apa memang lily hanya bisa bahagia bersama viga? Apa aku harus
menjauhinya? Aku bukan orang yang tepat untuknya dan aku tidak mau jadi beban
untuknya, gadis impianku..
Yuga merasa kesal
mengapa ucapan kasar itu terlontar begitu saja tanpa bisa ditahan, kekesalannya
terhadap pemandangan yang tidak sedap itu berdampak buruk bagi sikapnya. Ucapan
lily seakan menjadi pedang tajam yang dengan mudah menusuk nusuk jantung yuga.
Yuga tidak tahan lagi
yuga ingin berlari mengejar gadis itu dan memeluk tubuhnya meminta maaf dengan
tulus tapi apa boleh buat untuk berdiri saja dia masih lemas, yuga hanya
mendengus kesal.
Sesaat ia menatap
kearah jendela yang berada ttepat disamping tempat tidurnya, ia melihat lihat
sekitar membayangkan seandainya ia bisa keluar dan melompat. Tatapan yuga
berhenti pada satu titik matanya langsung melotot melihat sepasang laki laki
dan perempuan sedang berpelukan, yuga tersenyum sinis apa pantas
mempertontonkan kmesraan di tempat umum?
Tapi tunggu wanita itu?
Sepertinya yuga mengenalnya, ya tentu yuga sangat mengenalnya dia lily tapi
lily sedang berpelukan dengan siapa? Oh tuhan tidak tidak tidak itu... itu
adalah viga kakakku sendiri.
Seketika tubuh yuga
terkulai lemas untunya dia sedang berbaring sehingga ia tidak akan jatuh dan
menggemparkan semua orang, dadanya terasa sesak ternyata yuga terlalu berharap,
gadis itu membenci yuga dan ternyata gadis itu .. gadis impiannya mencintai
viga.
*
Lily
Lily keluar kamar yuga
dengan ekspresi kesal, sangat kesal. Ternyata kekhawatirannya dibalas dengan
ucapan yang menyakitkan. Lily menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya
dengan keras bermaksud agar rasa kesal itu sedikit berkurang.
“lily” panggil
seseorang, lily langsung menoleh dan ternyata itu viga. Lily langsung
menghampri laki laki itu dan dduk di sampingnya.
“kenapa hanya
sebentar?” tanya viga, ya sebenarnya lily ingin berlama lama didalam, ia ingin
terus berada di samping laki laki itu apalagi disaat ia terpuruk seperti
sekarang, lily mendengus pelan dan mengangkat bahu lalu menjawab “sepertinya
dia tidak mau bertemu denganku, sepertinya dia membenciku”.
Sebenarnya lily tidak
mau laki laki itu membencinya, ia sendiri tidak tahu apa yang membuat laki laki
itu begitu bersikap seperti lily adalah ancaman besar baginya sehingga harus
menjauhinya.
“yuga kenapa?” tanya
lily penasaran dan penuh hati hati.
Senyum manis
tersungging di bibir yuga “kata dokter dia hanya kecapean butuh beberapa hari
untuk istirahat” jawab viga tenang
“syukurlah” tambah lily
sambil menunduk, jantungnya sudah bisa berdetak dengan normal setelah mendengar
jawaban bahwa yuga baik baik saja.
“kau tahu” suara viga
membuyaran lamunan lily, lily pun menoleh menatapnya “aku inginn mebuat yuga
bahagia” lanjut viga dan mendesah pelan, mata lily terbelalak kaget mendengar
pernyataan viga “sejak kematian ibu 2 tahun yang lalu aku tidak pernah
sedikitpun ada cahaya yang terpancar dari mata viga” viga menoleh menatap gadis
di sampingnya lekat lekat “aku merasa aku kehilangan sosok adikku, adik yang
dulu riang dan selalu membawa ketenangan dirumah kami, adik yang selalu
mengajak bertengar namun aku pun senang melakukannya. Sekarang untuk mengobrol
pun bisa dihitung jari. Aku merindukan dikku yang dulu“ tanpa terasa air mata
viga telah jatuh membasahi pipinya. “aku mengerti perasaanmu” sahut lily dengan
wajah penuh prihatin, viga mendekatkan tangan ke leher lily dan memeluknya
“terimakasih kau orang paling baik yang pernah kutemui” bisik viga sambil
mempererat pelukannya. Lily hanya tersenyum walaupun viga tidak bisa melihat
senyumannya.
Ternyata laki laki itu
memendam banyak sekali kesedihan dalam dirinya, ingin rasanya lily memeluk
tubuh laki laki itu, menenangkannya, menjadi obat dikala kesedihannya, menjadi
orang yang bisa membuatnya tertawa. Tapi apa daya laki laki itu membenciku,
yuga membenci lily.
*
Viga
Viga membuka kamar
rawat yuga dengan hati hati dan mnutup pintu dengan hati hati juga, viga
mendapati yuga sedang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, mengapa
yuga kembali lagi seperti dulu? Yuga kemarin sudah bisa tersenyum bahagia
mengapa sekarang berubah menjadi malaikat kegelapan lagi?
“sudah baikan” viga
membuka pembicaraan lalu duduk disebelah ranjang yuga, yuga tidak menjawab dan
sepertinya memang yuga tidak mendengar, Yuga sedang melamun. Viga menepuk
tangan yuga dan dengan satu sentakan kaget yuga langsung menoleh ke arah viga
“sejak kapan kamu ada disini?” tanya yuga ketus sambil memperbaiki posisi
duduknya karena sempat sedikit melompat ketika kaget viga sudah ada di
sampingnya
“sudah baikan?” tanya
viga tanpa menghiraukan pertanyaan yuga.
“aku rasa aku tid.. aku
baik baik saja” jawab yuga ragu “aku boleh mengajukan satu pertanyaan?” lanjut
yuga dengan nada hati hati, “tentu” sahut viga lembut dan tenang. “kamu
menyukai lily?” mata viga langsung melotot mendengar pertanyaan dari yuga
“tidak” kata viga singkat. “mengapa?lily cantik dia seorang model dan baik aku
rasa semua laki laki akan menyukainya” nada bicara yuga semakin keras, viga
mengernyitkan dahi “aku tidak punya perasaan apa apa pada lily lagipula aku
tidak berminat untuk menjalin hubungan aku inginn lebih serius untuk karir dan
keluarga” jawab viga tenang, merasa tidak puas dengan jawaban viga, yuga terus
merasa penasaran “tapi..”, “sudahlah yuga aku tidak punya dan tidak ingin punya
perasaan apa apa pada lily kau dengar itu jadi kau tidak perlu khawatir aku tau
kau menyukainya” potong viga sedikit kesal. Mata yuga melotot “dari mana kau
mengetahuinya?”, viga mendengus “dari matamu” jawabnya cepat.
*
Yuga
Dari
matamu
Mataku? Yuga berdiri
menghampiri cermin yang ada di sudut kamar rumah sakit “sepertinya mataku biasa
saja tidak ada yang berubah” gumamnya pelan dan hanya bisa didengar oleh
dirinya sendiri, yuga terus menatap lekat cermin mencari titik pada matanya
yang menunjukkan bahwa dia sangat menyukai lily, “ah sudahlah mungkin viga
hanya bergurau” seru yuga karena tidak mendapati satu keanehanpun pada matanya.
Yuga berpikir pikir
lagi sambil duduk di atas tempat tidur, jika viga saja bisa menyadari bahwa aku
menyukai lily, apakah lily juga bisa merasakan ahwa aku menyukainya? Tiba tiba
pertanyaan itu terlintas di pikiran yuga, yuga merebahkan tubuhnya di kasur bergerak
menghadap kanan dan kiri namun tidak ada rasa nyaman sama sekali didapati oleh
yuga, yuga gelisah mengapa memikirkan gadis itu saja bisa segelisah ini?
*
Viga
“kau sudah boleh pulang
hari ini” kata dokter yang telah selesai memeriksa keadaan yuga.
Viga tersenyum, lalu
membereskan semua barang barang yuga. Yuga hanya diam termenung sejak kemarin
dia tidak berbicara satu patah kata pun, dia hanya mengangguk dan menggeleng.
“kau tidak ingin pulang?” goda viga yang bermaksud agar ada sedikit reaksi yang
bagus pada yuga ternyata nihil, ekspresi yuga masih datar dan kosong yuga hanya
beranjak dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke arah viga sedikitpun.
Tiba tiba langkah yuga
terhenti dan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari
sesuatu tepatnya yuga sedang mencaris seseorang.
“dia tidak datang
karena ada jadwal pemotretan” suara viga terdengar seakan mengetahui isi dari
kepala yuga, “apa?” tanya yuga memaksakan wajah heran padahal sebenarnya memang
dia sedang mencari lily, “tapi dia akan menjengukmu nanti siang” jawab viga
sambil berlalu berjalan endahului yuga.
Sedikit kecewa
terpancar dari wajah yuga namun ya tidak apa apa jika dia sudah berjanji akan
menjenguk nanti siang. Seulas senyum terpancar dari wajah yuga, yuga berjalan
mengikuti viga yang sudah berada di dalam mobilnya.
*
Yuga
Kemana gadis itu? Viga
bilang dia akan menjengukku siang ini namun sampai sekarang belum datang juga,
yuga berkata dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul 4.
Yuga terus memegangi
ponselnya yang sedari tadi tidak berbunyi sedikitpun, yuga gelisah tak karuan,
ia ingin menelpon gadis itu namun ia sendiri bingung apa yang harus
dikatakannya. Akhirnya yuga memberanikan diri untuk mengirim pesan pada lily.
Satu jam berlalu tanpa
muncul sosok gadis impian yuga di rumahnya, ponsel yuga masih tidak berdering
sedikit pun. Kemana gadis itu? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Atau
dia sedang berkencan dengan laki laki lain? Ah sial pertanyaan bodoh itu muncul
begitu saja di kepala yuga sampai dering ponsel membuyarkan lamunanya yang
sudah tidak karuan.
Yuga langsung membuka
isi pesan di ponselnya.
Kau
ingin ku lukis lagi? Senja sedang indah sore ini
Tiba tiba bibir yuga
mulai naik seulas senyum bahagia terpancar di wajahnya, lamunan buruk seketika
terbayarkan sudah oleh isi pesan yang tidak lain adalah dari gadis impiannya,
lily.
Tanpa berpikir panjang
yuga langsung mengambil jaket dan keluar rumah tidak tanpamenoleh ke arah viga
yang sedang berlatih biola, yuga berangkat dengan semangat tidak sabar bertemu
dengan lily, tanpa disadari yuga mulai merindukan gadis itu.
Sore itu yuga
memutuskan untuk berjalan kaki karena memang dia tidak suka naik bis, dia
berjalan dengan penuh semangat. Tiba tiba langkahnya terhenti dia merasa ada
sesuatu yang mengganjal di matanya, yuga lalu mengusap usap matanya dengan
punggung tangan namun bukannya bertambah baik justru matanya mulai semakin
perih dan remang remang yuga tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas ada
apa ini ya tuhan? Jantungnya semakin berdegup cepat dan yuga masih menusap usap
matanya setelah mengerjap sekali dua kali dan ketiga kali akhirnya bayangan
sekitar terlihat dengan jelas, perasaan lega muncul seketika di hati yuga. Apa
ini? Apa yang baru saja ia rasakan? Karena matanya sudah bisa melihat dengan
sempurna akhirnya ia bergegas menuju taman tempat terakhir kali lily dan yuga
bertemu ia berjalan setengah berlari karena takut gadis impiannya menunggu
terlalu lama.
*
Yuga
“maaf sudah membuatmu
menunggu” suara itu muncul ditengah tengah ketenangan taman, suara yang sudah
tidak asing lagi bagi lily, lily segera menoleh kearahnya dan mnunjukkan senyum
terbaiknya. Yuga membalas senyuman lily dan langsung duduk di sebelahnya,
mereka duduk diatas rumput sebuah taman yang tidak terlalu banyak pengunjung
memang taman ini tidak banyak orang yang tahu karena terdapat di sudut kota.
Selama beberapa menit
tak ada suara muncul keheningan yang merasuk kedalam tubuh yuga dan lily
membuat ketenangan dalam diri mereka, dunia seakan damai bahkan mereka sempat
berpikir ingin menghentikan waktu dan biarkan tetap dalam keadaan seperti ini,
lily memejamkan mata tanda menikmati sayup sayup angin yang mengibas kan
rabutnya membuat pesona lily semakin terpancar.
“katanya kau mau
melukisku” akhirnya yuga mulai membuka suara sambil menoleh ke arah lily yang
sedang memejamkan mata menikmati sayup angin.
Lily membuka mata,
menoleh ke arah yuga dan tersenyum menampilkan barisan giginya yang rapi
“tunggu senja nya merah itu akan sangat indah apabila dipadukan dengan senyum
mu yang sama sama indah”
Yuga tertegun mendengar
ucapan lily tidak ada kata lagi yang bisa diucapkan olehnya.
“itu dia senja sudah
mulai turun ayo kau senyum” seru lily dengan semangat, lily membetulkan posisi
duduknya sehingga sekarang posisi lily tepat menghadap ke arah yuga.
Yuga menrut dan
tersenyum, entah kenapa yuga tersenyum secara tulus tanpa harus membayangkan
wajah ibu nya atau membayangkan wajah lily, dengan berada di dekat gadis itu
pun senyum yuga mengalir secara otomatis, rasa damai dan tenang mulai
menghinggapi diri yuga, ia ingin terus seperti ini berada di dekat gadis
impiannya. Lily mulai menggoreskan kuas ke atas kanvasnya, dia melirik laki
laki itu lalu menunduk melihat kanvas dan menggoreskan cat keatasnya, tiba tiba
lily menyadari sesuatu.
Lily menghentikan aktivitas
melukisnya dan menengadahkan wajah ke arah yuga, lily memiringkan sedikit
kepalanya. Sepertinya ada yang tidak beres di wajah yuga, lily pun memberanikan
diri untuk bertanya “kau baik baik saja?”.
Yuga menoleh heran dan
langsung mengangguk tanpa mengeluarkan suara, “kau pucat sekali” terdengar nada
prihatin yang diucapkan oleh lily, yuga mengerutkan dahi dan tersenyum “aku
tidak apa apa aku ingin melihat hasil lukisanmu dengan sempurna” ujar yuga
menenangkan, yuga tersenyum kembali menatap senja merah yang sangat indah sama
indahnya seperti gadis di sampingnya, lily mengangguk menurut lalu mulai
menggoreskan catnya kembali ke atas kanvas. tangan lily menari nari dengan lincahnya seperti penari balet dengan irama yang senada, senja mulai menghilang dari merah menjadi gelap.
"ini aku sudah selesai" kata lily dengan riang sambil memperlihatkan hasil lukisannya.
yuga nyaris tanpa respon dia hanya melihat, mengerutkan dahi, memiringkan kepala dan mengusap usap matanya. ada apa ini? mengapa semuanya terlihat buram, lukisan lily, wajah lily bahkan taman pun semua terlihat buram. apakah penyakitku sudah separah ini?
Subscribe to:
Comments (Atom)
