Saturday, January 19, 2013

Ketika Senja Mulai Memerah 1



Yuga

Jalanan sepi.
Ya tentu saja jam sudah menunjukan pukul lewat tengah malah lebih tepatnya pukul 2.
Kriiiinnnnnggg suara bunyi telepon genggam membuyarkan lamunannya “ya” jawabnya singkat tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponsel “ya aku sebentar lagi pulang tenang saja aku  bukan anak kecil lagi” tanpa mendengar suara dari lawan bicaranya Yuga segera memencet tombol merah di ponselnya.
Wajah murung tak bersemangat, serta lingkaran hitam diantara kedua matanya menghiasi wajah pemuda laki laki berumur 24 tahun yang tampan dengan badan tegap, tubuh tinggi dan kekar menjadi idaman setiap wanita manapun yang melihatnya. Yuga Dewangga ia adalah seorang ceo di perusahaan terbesar di Indonesia tentu saja tidak perlu susah payah karena perusahaan tersebut tak lain adalah milik ayahnya sendiri Roy Dewangga.
Ia lelah ia merasa tidak punya semangat hidup lagi setelah kematian ibunya 2 tahun lalu dikarenakan kecelakaan, kecelakaan tragis ketika ibunya tertabrak oleh sebuah mobil pribadi dan pelakunya langsung kabur begitu saja membuat yuga merasakan dendam yang amat mendalam. Sampai kapanpun ia harus menemukan pelakunya, pelaku yang telah membuat seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang selalu mendengar keluh kesahnya kini ia tidak dapat mendengar lagi suara yang begitu bisa menenangkan hati yuga.
 ia menjalani sisa hidupnya tanpa gairah bahkan setiap wanita yang berteriak histeris saat melihat ketampanan yuga tidak menarik perhatian yuga sedikitpun bahkan kakaknya sendiri yang tak lain adalah Viga Dewangga seorang violins terkenal tentu saja banyak disukai oleh wanita merasa iri karena ternyata fans adiknya itu lebih banyak daripada dia.

*
Viga
 
“kau dari mana saja?” omel viga pada adiknya dengan wajah merah penuh amarah
“aku tadi jalan jalan sebentar” dengan ekspresi datar seperti biasa ditunjukan yuga kepada semua orang sambil berlalu melewati kakaknya menuju kamar.
“kau tidak tau aku ..” belum selesai perkataan viga sudah terdengar pintu kamar yuga yang dibanting dengan keras.
Ya kenapa aku selalu memperlakukan yuga seperti dia masih anak kecil mungkin karena sekarang yuga satu satunya yang ia miliki setelah ibunya yang meninggal dan ayahnya yang terlalu sibuk bekerja sampai mungkin lupa bahwa ia punya 2 orang anak laki laki yang sangat butuh akan perhatiannya.
Viga akan melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya yang tidak pernah ia lihat lagi sejak duka yang mendalam 2 tahun yang lalu bahkan Viga rela meninggalkan karirnya yang sangat ia cintai demi menemani adiknya tersebut memang terlihat tidak normal apabila kakak beradik yang keduanya adalah laki laki tapi mereka sangat menyayangi dan rela melakukan apapun demi kebahagiaan keduanya.
Viga yang masih merasa kesal terpaksa masuk ke kamarnya lalu memaksakannya untuk tidur karena banyak sekali pekerjaan yang harus dihadapinya besok selain mengurusi adiknya.

*

Lily

Kriiiiiiiinnnnnngggg krrriiiiiiinnnnggg.
Lily ayudia perlahan membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan menutupi mulutnya yang terbuka sambil meregangkan seluruh tubuhnya dengan berat ia memaksakan turun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan langkah yang diseret seret ke arah meja kecil di kamarnya untuk mematikan alarm jam yang sedaritadi terus berbunyi.
Lily membuka jendela kamarnya dan matahari yang cerah langsung menyusup masuk kedalam kamar membawa kehangatan ke sekujur tubuh gadis mungil tersebut.
Lily pun berjalan menuju pintu kamarnya dan dengan satu sentakan pintunyapun terbuka, ia langsung berjalan menuju dapurnya yang sepi karena memang ia tinggal sendiri di sebuah apartemen yang cukup luas untuk tubuh semungil lily. Lalu ia kembali dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat  dan duduk di sofa ruang tengah apartemennya sambil menghadap ke jendela merasakan matahari yang mulai menghangatkan tubuhnya.
Tiba tiba dering ponsel membuyarkan lamunan lily
Jangan lupa ada pemotretan jam sembilan
“Ya aku tidak akan pernah lupa” gerutu lily tapi memang sebenarnya lily lupa lebih tepatnya mungkin ingin melupakan karena ia lelah,  setiap hari ia harus bekerja tanpa henti ia tidak pernah merasakan yang namanya libur bahkan dihari minggu. Ini memang telah menjadi keputusannya, karena memiliki wajah yang sangat cantik dan juga tubuh yang tinggi akhirnya ia menerima tawaran untuk menjadi model di sebuah majalah, setelah itu akhirnya banyak majalah yang ingin menjadikan lily sebagai modelnya sejak saat itulah kesibukan lily semakin padat, lily lebih tertarik untuk melukis karena memang warisan dari ayahnya yang juga seorang pelukis, entah apa yang merasuki lily tapi sekarang dia menjadi jarang sekali melukis dia menghabiskan banyak waktunya berada di depan kamera dan fotografer. Lily mendengus pelan, tapi itu tidak menyurutkan semangat lily yang selalu tampil riang seperti tidak ada beban setiap harinya, ia selalu membawa kedamaian kepada orang orang disekitarnya.
Lalu lily menyesap teh hangatnya dan segera beranjak ke kamar mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 8 . 

*






No comments:

Post a Comment