Yuga
Jalanan sepi.
Ya tentu saja jam sudah
menunjukan pukul lewat tengah malah lebih tepatnya pukul 2.
Kriiiinnnnnggg suara
bunyi telepon genggam membuyarkan lamunannya “ya” jawabnya singkat tanpa
melihat nama yang tertera pada layar ponsel “ya aku sebentar lagi pulang tenang
saja aku bukan anak kecil lagi” tanpa
mendengar suara dari lawan bicaranya Yuga segera memencet tombol merah di
ponselnya.
Wajah murung tak
bersemangat, serta lingkaran hitam diantara kedua matanya menghiasi wajah pemuda
laki laki berumur 24 tahun yang tampan dengan badan tegap, tubuh tinggi dan
kekar menjadi idaman setiap wanita manapun yang melihatnya. Yuga Dewangga ia
adalah seorang ceo di perusahaan terbesar di Indonesia tentu saja tidak perlu
susah payah karena perusahaan tersebut tak lain adalah milik ayahnya sendiri
Roy Dewangga.
Ia lelah ia merasa
tidak punya semangat hidup lagi setelah kematian ibunya 2 tahun lalu
dikarenakan kecelakaan, kecelakaan tragis ketika ibunya tertabrak oleh sebuah
mobil pribadi dan pelakunya langsung kabur begitu saja membuat yuga merasakan
dendam yang amat mendalam. Sampai kapanpun ia harus menemukan pelakunya, pelaku
yang telah membuat seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang selalu
mendengar keluh kesahnya kini ia tidak dapat mendengar lagi suara yang begitu
bisa menenangkan hati yuga.
ia menjalani sisa hidupnya tanpa gairah bahkan
setiap wanita yang berteriak histeris saat melihat ketampanan yuga tidak
menarik perhatian yuga sedikitpun bahkan kakaknya sendiri yang tak lain adalah
Viga Dewangga seorang violins terkenal tentu saja banyak disukai oleh wanita
merasa iri karena ternyata fans adiknya itu lebih banyak daripada dia.
*
Viga
“kau dari mana saja?”
omel viga pada adiknya dengan wajah merah penuh amarah
“aku tadi jalan jalan
sebentar” dengan ekspresi datar seperti biasa ditunjukan yuga kepada semua
orang sambil berlalu melewati kakaknya menuju kamar.
“kau tidak tau aku ..”
belum selesai perkataan viga sudah terdengar pintu kamar yuga yang dibanting
dengan keras.
Ya kenapa aku selalu
memperlakukan yuga seperti dia masih anak kecil mungkin karena sekarang yuga
satu satunya yang ia miliki setelah ibunya yang meninggal dan ayahnya yang
terlalu sibuk bekerja sampai mungkin lupa bahwa ia punya 2 orang anak laki laki
yang sangat butuh akan perhatiannya.
Viga akan melakukan
apapun demi kebahagiaan adiknya yang tidak pernah ia lihat lagi sejak duka yang
mendalam 2 tahun yang lalu bahkan Viga rela meninggalkan karirnya yang sangat
ia cintai demi menemani adiknya tersebut memang terlihat tidak normal apabila
kakak beradik yang keduanya adalah laki laki tapi mereka sangat menyayangi dan
rela melakukan apapun demi kebahagiaan keduanya.
Viga yang masih merasa
kesal terpaksa masuk ke kamarnya lalu memaksakannya untuk tidur karena banyak
sekali pekerjaan yang harus dihadapinya besok selain mengurusi adiknya.
*
Lily
Kriiiiiiiinnnnnngggg
krrriiiiiiinnnnggg.
Lily ayudia perlahan
membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan menutupi mulutnya
yang terbuka sambil meregangkan seluruh tubuhnya dengan berat ia memaksakan
turun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan langkah yang diseret seret ke
arah meja kecil di kamarnya untuk mematikan alarm jam yang sedaritadi terus
berbunyi.
Lily membuka jendela
kamarnya dan matahari yang cerah langsung menyusup masuk kedalam kamar membawa
kehangatan ke sekujur tubuh gadis mungil tersebut.
Lily pun berjalan
menuju pintu kamarnya dan dengan satu sentakan pintunyapun terbuka, ia langsung
berjalan menuju dapurnya yang sepi karena memang ia tinggal sendiri di sebuah
apartemen yang cukup luas untuk tubuh semungil lily. Lalu ia kembali dari dapur
sambil membawa secangkir teh hangat dan
duduk di sofa ruang tengah apartemennya sambil menghadap ke jendela merasakan
matahari yang mulai menghangatkan tubuhnya.
Tiba tiba dering ponsel
membuyarkan lamunan lily
Jangan
lupa ada pemotretan jam sembilan
“Ya aku tidak akan
pernah lupa” gerutu lily tapi memang sebenarnya lily lupa lebih tepatnya
mungkin ingin melupakan karena ia lelah,
setiap hari ia harus bekerja tanpa henti ia tidak pernah merasakan yang
namanya libur bahkan dihari minggu. Ini memang telah menjadi keputusannya,
karena memiliki wajah yang sangat cantik dan juga tubuh yang tinggi akhirnya ia
menerima tawaran untuk menjadi model di sebuah majalah, setelah itu akhirnya
banyak majalah yang ingin menjadikan lily sebagai modelnya sejak saat itulah
kesibukan lily semakin padat, lily lebih tertarik untuk melukis karena memang
warisan dari ayahnya yang juga seorang pelukis, entah apa yang merasuki lily
tapi sekarang dia menjadi jarang sekali melukis dia menghabiskan banyak
waktunya berada di depan kamera dan fotografer. Lily mendengus pelan, tapi itu
tidak menyurutkan semangat lily yang selalu tampil riang seperti tidak ada
beban setiap harinya, ia selalu membawa kedamaian kepada orang orang
disekitarnya.
Lalu lily menyesap teh
hangatnya dan segera beranjak ke kamar mandi karena jam sudah menunjukkan pukul
8 .
*
No comments:
Post a Comment