Cahaya oranye menerobos masuk ke dalam
jendela, menyoroti tubuhku yang lunglai bagai tidak bernyawa, entah apa yang
dipikiranku saat itu. Mataku melihat ke sekeliling dan sosok itu masih saja
tepat selalu berada di sisiku.
Aku berbaring disini sudah hampir 32 jam dengan
berbagai alat alat rumah sakit yang aku sendiri tidak tahu nama benda tersebut.
Sakit? Entahlah mungkin aku sudah lupa rasanya sakit ditusuk dengan alat alat
seperti ini.
Aku heran mengapa aku masih bisa bertahan
disini, menginap disini seharga dengan hotel berbintang di kota besar walaupun
disini jelas jelas jauh sangat tidak nyaman, mengapa aku tidak dirumah saja
menikmati siksaan ini karena ulahku sendiri, atau mengapa aku tidak dibiarkan
mati saja? Mengapa dia masih menginginkan aku setelah apa yang aku perbuat?
***
Namaku aldi, aku masih duduk di kelas 2 SMU
swasta di kota bandung. Ibuku hanya seorang buruh laundry milik tetangga yang
penghasilannya hanya 20.000 per hari, ayahku sudah meninggal sejak aku masih
sekolah dasar. Aku anak tunggal, sebenarnya aku punya seorang adik tapi karena
keadaan keluargaku tidak bisa membiayainya maka dia diadopsi oleh orang lain,
aku pikir kenapa tidak aku saja yang diadopsi mungkin saja aku bisa hidup enak
dengan keluarga kaya tidak seperti sekarang ini yang mengakui nya saja aku
malu.
Aku merasa tuhan itu tidak adil, teman temanku
disekolah bisa setiap hari makan enak, menggunakan kendaraan yang mewah, tas
yang mahal dan masih banyak lagi. Sedangkan aku? Makan saja hanya satu kali
dalam sehari, aku malu...
Ibuku kerja setiap hari tanpa henti dari jam 7
pagi sampai jam 10 malam, aku tidak peduli toh memang sudah seharusnya seperti
itu. Aku hampir tidak pernah satu kata pun berbicara padanya, entahlah aku
tidak peduli padanya dia saja tidak pernah membahagiakanku.
Suatu hari ibuku memberiku tas baru katanya
dia mengumpulkan uangnya selama sebulan untuk bisa membeli ini, tas berwarna
hitam dan besar katanya biar muat untuk semua buku-buku ku tapi mungkin tas ini
lebih cocok untuk anak sekolah dasar dengan gambar spiderman didepannya,
katanya ini yang paling murah dan uangnya baru cukup untuk beli ini nanti dia
akan belikan yang lebih bagus dari ini, untuk beli tas murahan seperti ini saja
aku harus menunggu selama sebulan apalagi tas yang dipakai teman temanku
mungkin aku harus menunggu selama 10 tahun dahulu baru dibelikan, jangan harap
aku mau memakai tas ini ke sekolahan bisa bisa aku jadi bahan ejekan seluruh
kelas bahkan seluruh sekolah. Aku ingin seperti teman temanku di sekolah yang
rata rata orang kaya.
***
Aku diajak oleh salah satu temanku ke suatu
tempat yang katanya itu tempat berkumpulnya para orang orang kaya dan jika aku
ikut kesana maka aku juga akan bergaul dengan orang orang kaya, jelas saja aku
tidak menolak memang ini yang aku impikan.
Akhirnya aku datang ke tempat yang dimaksud,
tempat yang lebih mirip diskotik namun sedikit kecil aku diajak masuk dan aku
dipersilahkan untuk bersenang senang, aku menikmati minuman yang biasa diminum
oleh orang orang kaya dan aku juga dikelilingi oleh wanita wanita cantik, oh
betapa indahnya hidup ini ternyata dunia ini adil sangat adil.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam ketika
aku larut dalam kesenangan, aku berpamitan pulang kepada teman temanku namun
mereka menghalanginya katanya waktu pulang itu biasanya setelah subuh jadi aku
dipaksa untuk tetap berada disini meskipun kepalaku sudah pusing dipengaruhi
oleh minuman minuman yang beralkohol, salah satu temanku mendekatiku rizki
namanya dia adalah orang paling populer di sekolah. Dia memberiku sebuah
bungkusan kecil yang berisi obat, entah obat apa itu aku sendiri tidak tahu
yang jelas dia bilang dengan ini kita bisa merasa lebih hidup dari sebelumnya
kita bisa merasa lebih bebas dan beban pun akan terlupakan dengan sendirinya.
Aku merasa beban hidupku sudah terlalu berat apa salahnya aku merasa beban ku
hilang sejenak, akhirnya aku meminum obat tersebut dan memang temanku sangat
benar setelah aku memakan obat itu aku merasa lebih hidup aku mersa aku adalah
orang kaya yang aku impikan selama ini aku merasa bukan anak orang miskin yang
selalu diejek teman teman satu sekolah, aku tidak ingin melewatkan hari ini
begitu saja aku merasa sangat bebas....
1 bulan aku memakai obat itu obat yang
dinamakan narkoba, obat yang bisa membuatku lebih berani dari sebelumnya, obat
yang bisa membuatku dari lemah menjadi kuat. Obat tersebut tidak murah aku bisa
mendapatkannya dengan membohongi ibuku, aku bilang bahwa uang tersebut untuk
membeli buku karena sebentar lagi aku memasuki kelas 3, dan dengan mudahnya dia
memberiku hasil keringatnya siang malam, pernah dia sampai tidak makan selama 3
hari karena uangnya aku pakai untuk membeli obat itu...
***
Aku sangat membutuhkan obat itu tubuhku sudah
tidak kuat lagi menahannya, ibuku tidak mempunyai uang lagi dan barang barang
dirumah pun sudah habis aku jual, aku hampir pingsan tubuhku sudah 1 tahun
lebih ketergantungan oleh obat itu.
Aku kehabisan akal, aku sudah tidak bisa
berpikir jernih, aku sangat membutuhkan obat itu. Aku berjalan luntang lantung
kesana kemari seperti orang yang sudah kehilangan arah. Akhirnya dengan tubuh
yang sudah lemah aku nekat menjambret dompet ibu ibu yang sedang belanja di
pasar, dengan cepat aku merebut dompet tersebut dan langsung berlari kencang,
aku mendengar teriakan ibu ibu itu dan semua orang yang ada ditempat kejadian,
aku mendengar orang orang banyak berlari mengejarku, dengan sisa sisa tenaga
yang ada aku berusaha berlari sekencang mungkin, aku merasakan kakiku sudah
tidak kuat lagi melangkah, aku terjatuh dan aku merasakan sakit terkena pukulan
ditengah kerumunan orang orang yang penuh dengan amarah, setengah sadar aku
masih bisa melihat api yang diacungkan oleh salah satu orang yang
mengerumuniku, aku masih merasakan pukulan yang teramat sakit di seluruh tubuhku
sampai aku tidak bisa lagi menahannya dan aku pun tidak sadarkan diri.
***
Aku telah dipukuli dan dibakar, setengah
tubuhku hangus untung ada polisi yang cepat datang kalau tidak tubuhku bisa
bisa hanya tinggal abu. Ketika aku sadar aku sudah berada di ruangan yang
dipenuhi alat alat rumah sakit, tubuhku penuh perban mataku hanya bisa melihat
sebelah, yang satunya lagi hampir tidak bisa terbuka karena terkena pukulan
tajam.
Dengan sebelah mata aku bisa melihat sosok
wanita itu masih berada disampingku, sosok ibuku yang sudah aku sakiti selama
ini, sosok yang aku hampir tidak pernah memanggil dia dengan sebutan “ibu”,
sosok yang selalu menyebut namaku disetiap doa nya tapi aku malah melupakannya
bahkan mengganggap dia tidak ada, dia berusaha pinjam uang kesana kemari agar
aku bisa dirawat dengan layak di tempat ini.
Aku sadar dialah pahawanku, orang yang selalu
membukakan pintu maaf untuk anak yang sudah durhaka terhadapnya. Aku melihat
dia menangis melihatku seperti ini, aku bahkan tidak pernah menangisinya ketika
dia menderita tidak makan karena ulahku, oh ibu andai saja waktu bisa terulang
lagi aku ingin sekali membahagiakanmu, menjadikan sisa hidupmu lebih berarti.
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu ibu namun
untuk bergerak saja aku sudah tidak mampu akhirnya ibu memberiku secarik kertas
dan sebuah pulpen dan dia menuntunku untuk menuliskan apa yang ingin aku
katakan padanya, dengan sisa sisa tenagaku aku menuliskan “maaf ibu, aku sayang
padamu” walaupun sangat tidak jelas tapi dia megerti maksudku dan dia langsung
menjawab “iya nak ibu juga sayang padamu” dan untuk pertama kalinya aku dengan
ikhlas membiarkan dia mencium keningku.
Sekarang aku bisa pergi dengan tenang,
walaupun aku tidak bisa membahagiakannya selama hidupku tapi aku bisa menyadari
semua kesalahanku dan di akhir hidupku aku bisa melihat ibuku tersenyum
karenaku... aku sayang padamu ibu.
No comments:
Post a Comment