Bau rumah sakit yang khas langsung tercium ketika aku
memasuki ruangan dengan langit langit, cat dan lantai berwarna putih. Wanitaku terbaring
lemah tidak berdaya di atas tempat tidur kecil di pojok ruangan, dia langsung
tersenyum ketika melihatku.
“aku nunggu kamu daritadi”
“maaf ya aku lama.”
Kita berdua bertatapan dan mengulas senyum manis, kali ini
senyum yang terpancar dari wajah wanitaku sangat berbeda, senyum yang terlihat
sangat dipaksakan. Tubuhnya semakin kurus wajahnya pucat dan terlihat lingkaran
hitam di kedua matanya.
“kamu semakin kurus saja” wajahku berubah sedih ketika
mengucapkan hal itu, dan wanitaku hanya tersenyum. “maaf aku telah banyak
membebankanmu”
“kamu ini bicara apa, kamu ini pacarku”
“sejak kamu dekat denganku kamu banyak sekali berubah, teman
teman banyak menjauhimu dan banyak juga orang yang menghinamu, itu semua karena
aku”
“aku tidak peduli! Yang aku peduli hanya kamu”
“kita ini tidak ditakdirkan untuk bersatu, tidak boleh”
“apa yang tidak boleh? Aku nyaman bersamamu, aku sayang sama
kamu”
“aku ini seorang perempuan, aku sudah ditakdirkan seperti
ini sejak aku lahir. Sedangkan kamu, karena mengenalku kamu jadi begini”
“aku tidak mau dengar kata kata itu lagi, apa peduli aku
kalau kamu perempuan yang penting aku menyayangi kamu sebagai pacarku”
Wanitaku mengeluarkan air mata, sungguh tidak tega namun apa
boleh buat. Aku menyayanginya, dan aku juga ingin dia tetap menjadi pacarku
tapi ini bukan takdirnya, dia harus
hidup normal dan bahagia seperti sebelum dia mengenalku.
“kamu tahu rasanya ini?” wanitaku menunjukan tangannya yang
diperban bekas goresan silet saat dia mencoba bunuh diri, aku hanya terdiam “sakit,
namun ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kamu meninggalkan aku itu akan
jauh lebih sakit”
Aku mengusap air matanya, aku tahu perasaannya dan aku pun
mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan.
Sayang, mengapa kita terlahir sama?
No comments:
Post a Comment