Wednesday, January 16, 2013

sayang, mengapa kita terlahir sama?



Bau rumah sakit yang khas langsung tercium ketika aku memasuki ruangan dengan langit langit, cat dan lantai berwarna putih. Wanitaku terbaring lemah tidak berdaya di atas tempat tidur kecil di pojok ruangan, dia langsung tersenyum ketika melihatku.
“aku nunggu kamu daritadi”
“maaf ya aku lama.”
Kita berdua bertatapan dan mengulas senyum manis, kali ini senyum yang terpancar dari wajah wanitaku sangat berbeda, senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Tubuhnya semakin kurus wajahnya pucat dan terlihat lingkaran hitam di kedua matanya.
“kamu semakin kurus saja” wajahku berubah sedih ketika mengucapkan hal itu, dan wanitaku hanya tersenyum. “maaf aku telah banyak membebankanmu”
“kamu ini bicara apa, kamu ini pacarku”
“sejak kamu dekat denganku kamu banyak sekali berubah, teman teman banyak menjauhimu dan banyak juga orang yang menghinamu, itu semua karena aku”
“aku tidak peduli! Yang aku peduli hanya kamu”
“kita ini tidak ditakdirkan untuk bersatu, tidak boleh”
“apa yang tidak boleh? Aku nyaman bersamamu, aku sayang sama kamu”
“aku ini seorang perempuan, aku sudah ditakdirkan seperti ini sejak aku lahir. Sedangkan kamu, karena mengenalku kamu jadi begini”
“aku tidak mau dengar kata kata itu lagi, apa peduli aku kalau kamu perempuan yang penting aku menyayangi kamu sebagai pacarku”
Wanitaku mengeluarkan air mata, sungguh tidak tega namun apa boleh buat. Aku menyayanginya, dan aku juga ingin dia tetap menjadi pacarku tapi ini bukan takdirnya,  dia harus hidup normal dan bahagia seperti sebelum dia mengenalku.
“kamu tahu rasanya ini?” wanitaku menunjukan tangannya yang diperban bekas goresan silet saat dia mencoba bunuh diri, aku hanya terdiam “sakit, namun ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kamu meninggalkan aku itu akan jauh lebih sakit”
Aku mengusap air matanya, aku tahu perasaannya dan aku pun mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan.
Sayang, mengapa kita terlahir sama?

No comments:

Post a Comment