Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 1
Yuga
“maukah kau
mengantarku?” tanya yuga sambil menggigit roti panggang yang ada di meja makan
tempatnya duduk berhadapan dengan kakaknya.
“oh maaf adikku aku
tidak bisa aku ada rencana akan ada pemotretan jam 9 ini” seru viga dengan
wajah memohon maaf dengan sungguh sungguh
“aneh kau ini kan
seorang pemain biola bukan seorang foto model?” tersungging senyum sinis di
bibir yuga.
Viga menganggat bahu
dengan ekspresi juga heran “entahlah mungkin dia akan mempromosikan konserku”
sambil menyesap kopi panas yang menjadi favorit viga setiap pagi “yasudah aku
berangkat dulu kau bisa kan memesan taksi” tangan viga menyentuh kepala yuga
dan mengusap usap rambutnya, dengan gerakan cepat tangan yuga menepisnya memang
yuga sangat tidak suka sikap yang seperti itu hanya karena seseorang bernama
viga itu lebih tua 2 tahun dari dirinya dan juga yuga tidak suka dianggap
sebagai anak kecil.
Dengan senyum tipis
viga melangkah keluar dari rumah mewahnya tersebut langsung masuk mobil dan
melesat dalam 1 detik mobil tersebut sudah tidak terlihat, yuga hanya mendengus
pelan belum beranjak dari tempat duduknya yang semula, akhirnya ia memutuskan
untuk berjalan kaki saja menuju kantornya karena memang yuga adalah seorang ceo
sehingga tidak ada satupun yang melarang yuga datang terlambat.
*
Lily
Lily berjalan keluar
dari apartemennya ia memutuskan untuk berjalan kaki ke tempat pemotretannya
karena ia tidak suka polusi ia lebih suka hidup sehat dengan olah raga setiap
pagi ya mungkin bisa dibilang hanya ini olahraga yang bisa ia lakukan mengingat
kesibukannya sepanjang hari bahkan untuk makanpun sering sekali ia lupa.
Lily tersenym cerah
sama seperti matahari yang seolah olah terbawa oleh senyum manis lily, ia juga
tersenyum kepada setiap orang yang dilihatnya, lalu ia tersenyum pada seorang
laki laki tampan berpenampilan rapi memakai jas dan memandang kosong ke depan
sambil melangkahkan kaki tidak beraturan , sial ..!! mood lily langsung berubah
180 derajat ketika melihat ekspresi laki laki bertubuh jangkung itu tidak ada
niat sedikitpun yang terlihat di untuk membalas senyum manis lily yang ada dia
hanya melirik dengan ujung matanya seakan dia hanya melihat semut yang sangat
tidak penting, mereka pun berlalu tetapi wajah lily tetap saja terlihat masih
kesal tidak ada lagi senyum manis yang diperlihatkan lily kepada orang orang
yang dilihatnya, kenapa hanya dengan ekspresi laki laki yang tidak dikenalnya
itu membuat lily langsung berubah menjadi kesal setengah mati.
*
Yuga
Aku berjalan menyusuri
jalan setapak untuk menuju kantorku seperti biasa langit ini mendung sama
dengan hatinya walau sebenarnya langit kota jakarta pagi ini sangat cerah namun
yuga tidak pernah merasa seperti itu, ia merasa seperti akan turun badai yang
akan menerjang kota dan langit akan memuntahkan seluruh isinya karena muak
melihat seseorang yang tidak pernah berubah ekspresi sama sekali.
Semua orang yang
dilihatnya sama seperti sedang memakai topeng, yang sedang mempunyai banyak masalah
memaksakan seulas senyum agar semua orang tidak tau bahwa hidupnya sedang
terpuruk. Oh tidak aku muak, aku muak dengan orang orang yang seperti itu ya
memang sepertinya semua orang didunia ini termasuk ayahnya tapi terkecuali
kakak dan ibunya bersikap sama, tapi .. Oh tidak perempuan itu gadis mungil
berparas seperti boneka dengan poni depan dan rambut sedikit keriting menambah
kesan imut pada dirinya serta kulitnya yang putih dan tubuhnya yang kurus dan
tinggi tersenyum padanya senyum yang sudah pernah ia lihat sebelumnya senyum
tulus yang dulu setiap pagi selalu dilihatnya ya ibu yuga teringat pada ibunya
cara dia tersenyum cara dia menyapa orang orang cara dia berjalan mirip bahkan
sama persis seperti ibunya, yuga menggeleng geleng cepat apa apaan ini dia
menyamakan orang yang sangat ia cintai itu dengan perempuan yang ia belum
mengenalnya sama sekali bahkan ini pertama kalinya mereka bertemu, lalu tanpa
menghiraukan gadis tersebut yuga hanya melirik dengan ujung mata tampak
kekesalan yang terlihat pada perempuan itu sudah diduga ternyata memang muka
dua tapi kenapa yuga merasa berslah mengapa yuga menyesal tidak membalas
senyumnya? Mengapa ? mengapa ? banyak sekali pertanyaan muncul di kepala yuga
sampai membuat yuga tidak sadar bahwa ia sudah sampai di kantornya.
“selamat pagi tuan”
sapa perempuan yang menjadi staff di sebuah mall tersebut karena yuga tidak
suka dianggap sebagai ceo sebuah mall maka ia selalu menyebutnya itu sebagai
perusahaan.
Yuga hanya mengangguk
tanpa memperlihatkan seulas senyum pada staffnya lalu ia berlalu menuju ruang
kerjanya.
*
Viga
“akhirnya kau sampai
juga Viga Dewangga” sapa dani seorang fotografer terkenal sambil menjabat
tangan dan memeluk viga
“ternyata seorang
fotografer terkenal masih ingat pada teman lamanya” gurau viga
“siapa yang tidak
mengenal seorang violins terkenal yang sangat digilai wanita ini” lalu
merekapun tertawa bersama sama melanjutkan candaan mereka
Lalu dany melambaikan
tangan kepada seseorang pertanda isyarat untuk menghampirinya viga pun menoleh
mengikuti arah dari mata dani “perkenalkan lily ini viga dan viga ini lily foto
model yang akan menjadi pasanganmu” seru dani, viga langsung mengulurkan
tangannya dengan ramah “halo saya viga” sapa viga ramah bahkan sangat ramah
tidak heran semua wanita akan menyukainya, “oh hai saya lily” lily membalas
jabatan tangan viga. “oke mulai sekarang kita akan menjadi team dan aku harap
kalian bisa bekerja sama dengan baik” teriak dani penuh semangat memang itu
menjadi ciri khas fotografer terkenal itu maka tidak heran karirnya terus
melesat naik “kalian siap siap ganti pakaian 15 menit lagi kita akan mulai
pemotretan” ujar dani sambil meninggalkan mereka berdua, merekapun hanya
mengangguk mengerti . Vigapun meninggalkan lily menuju kamar ganti laki laki
sambil mengulas senyum tipis senyum yang sangat mempesona dan viga pun
menyadari wajah lily yang berubah seketika menjadi merah merona namun viga
tidak menanggapi hal itu dia hanya ingin serius terhadap pekerjaannya.
*
Lily
Wajah lily tetap kesal
walaupun sudah tiba di lokasi pemotretan ia tidak bisa melupakan sikap laki
laki itu walaupun ia sendiri tidak tahu siapa dia, mata lily langsung terpusat
pada laki laki yang melambaikan tangan padanya tanpa berpikir panjang lilypun
langsung menghampiri laki laki tersebut.
“perkenalkan lily ini
viga dan viga ini lily foto model yang akan menjadi pasanganmu” mata lily
seketika melotot melihat tubuh jangkung berwajah tampan dan berambut agak
gondrong walaupun begitu terlihat sangat rapi dan perfect.
“halo saya viga” laki
laki itu mengulurkan tangan namun lily tidak langsung membalasnya ia hanya
terpesona melihat ketampanannya wajahnya mulai memerah jantungnya berdegup
sangat cepat ada apa ini? Lily tidak mau laki laki yang dihadapannya ini
menyadari bahwa lily sedang gugup lily langsung mengulurkan tangannya membalas
jabatannya “oh hai saya lily” tenggorokannya terasa tercekat ludahnya seakan
kering hingga ia mulai terasa sulit untuk bernafas tangan viga yang hangat
mulai merasuk ke seluruh tubuh lily yang mulai dingin, lily merasakan tangannya
mulai gemetar maka lily pun langsung mlepaskan jabatan tangannya dari laki laki
yang sudah membuatnya terpesona.
Entah apa yang
diucapkan oleh dani tidak terdengar jelas di telinga lily karena sibuk
memperhatikan dan memandangi laki laki itu, namun tiba tiba suara itu
membuyarkan lamunan lily “kalian siap siap ganti pakaian 15 menit lagi kita
akan mulai pemotretan” suara dani terdengar jelas di telinga lily, lily hanya
mengangguk mengikuti gerakan laki laki dihadapannya tanpa disadari dani sudah
menghilang dari hadapan mereka.
Gadis itu masih menatap
lekat lekat mengapa dia tidak sadar bahwa didunia ini ada manusia seperti dia,
seperti viga laki laki sempurna bahkan sangat sempurna. Laki laki itu membalas
tatapan lily lalu tersenyum manis sambil meninggalkannya, senyuman itu membuat
lily mematung ditempat untuk beberapa detik dan lily menyadari bahwa warna muka
nya sudah berubah menjadi merah pertanda apa ini? Lily menggeleng gelengkan
kepala lalu ia pun tersadar sebelum orang orang tahu bahwa ia sedang melamunkan
seseorang hingga wajahnya merah merona ia pun segera bergegas pergi ke ruang
ganti wanita sambil tersenyum senyum dan memegang tangan yang tadi bersentuhan
dengan tangan laki laki sempurna itu.
No comments:
Post a Comment