Saturday, January 19, 2013

Ketika Senja Mulai Memerah 2



Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 1

Yuga

“maukah kau mengantarku?” tanya yuga sambil menggigit roti panggang yang ada di meja makan tempatnya duduk berhadapan dengan kakaknya.
“oh maaf adikku aku tidak bisa aku ada rencana akan ada pemotretan jam 9 ini” seru viga dengan wajah memohon maaf dengan sungguh sungguh
“aneh kau ini kan seorang pemain biola bukan seorang foto model?” tersungging senyum sinis di bibir yuga.
Viga menganggat bahu dengan ekspresi juga heran “entahlah mungkin dia akan mempromosikan konserku” sambil menyesap kopi panas yang menjadi favorit viga setiap pagi “yasudah aku berangkat dulu kau bisa kan memesan taksi” tangan viga menyentuh kepala yuga dan mengusap usap rambutnya, dengan gerakan cepat tangan yuga menepisnya memang yuga sangat tidak suka sikap yang seperti itu hanya karena seseorang bernama viga itu lebih tua 2 tahun dari dirinya dan juga yuga tidak suka dianggap sebagai anak kecil.
Dengan senyum tipis viga melangkah keluar dari rumah mewahnya tersebut langsung masuk mobil dan melesat dalam 1 detik mobil tersebut sudah tidak terlihat, yuga hanya mendengus pelan belum beranjak dari tempat duduknya yang semula, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju kantornya karena memang yuga adalah seorang ceo sehingga tidak ada satupun yang melarang yuga datang terlambat.

*

Lily

Lily berjalan keluar dari apartemennya ia memutuskan untuk berjalan kaki ke tempat pemotretannya karena ia tidak suka polusi ia lebih suka hidup sehat dengan olah raga setiap pagi ya mungkin bisa dibilang hanya ini olahraga yang bisa ia lakukan mengingat kesibukannya sepanjang hari bahkan untuk makanpun sering sekali ia lupa.
Lily tersenym cerah sama seperti matahari yang seolah olah terbawa oleh senyum manis lily, ia juga tersenyum kepada setiap orang yang dilihatnya, lalu ia tersenyum pada seorang laki laki tampan berpenampilan rapi memakai jas dan memandang kosong ke depan sambil melangkahkan kaki tidak beraturan , sial ..!! mood lily langsung berubah 180 derajat ketika melihat ekspresi laki laki bertubuh jangkung itu tidak ada niat sedikitpun yang terlihat di untuk membalas senyum manis lily yang ada dia hanya melirik dengan ujung matanya seakan dia hanya melihat semut yang sangat tidak penting, mereka pun berlalu tetapi wajah lily tetap saja terlihat masih kesal tidak ada lagi senyum manis yang diperlihatkan lily kepada orang orang yang dilihatnya, kenapa hanya dengan ekspresi laki laki yang tidak dikenalnya itu membuat lily langsung berubah menjadi kesal setengah mati.

*

Yuga

Aku berjalan menyusuri jalan setapak untuk menuju kantorku seperti biasa langit ini mendung sama dengan hatinya walau sebenarnya langit kota jakarta pagi ini sangat cerah namun yuga tidak pernah merasa seperti itu, ia merasa seperti akan turun badai yang akan menerjang kota dan langit akan memuntahkan seluruh isinya karena muak melihat seseorang yang tidak pernah berubah ekspresi sama sekali.
Semua orang yang dilihatnya sama seperti sedang memakai topeng, yang sedang mempunyai banyak masalah memaksakan seulas senyum agar semua orang tidak tau bahwa hidupnya sedang terpuruk. Oh tidak aku muak, aku muak dengan orang orang yang seperti itu ya memang sepertinya semua orang didunia ini termasuk ayahnya tapi terkecuali kakak dan ibunya bersikap sama, tapi .. Oh tidak perempuan itu gadis mungil berparas seperti boneka dengan poni depan dan rambut sedikit keriting menambah kesan imut pada dirinya serta kulitnya yang putih dan tubuhnya yang kurus dan tinggi tersenyum padanya senyum yang sudah pernah ia lihat sebelumnya senyum tulus yang dulu setiap pagi selalu dilihatnya ya ibu yuga teringat pada ibunya cara dia tersenyum cara dia menyapa orang orang cara dia berjalan mirip bahkan sama persis seperti ibunya, yuga menggeleng geleng cepat apa apaan ini dia menyamakan orang yang sangat ia cintai itu dengan perempuan yang ia belum mengenalnya sama sekali bahkan ini pertama kalinya mereka bertemu, lalu tanpa menghiraukan gadis tersebut yuga hanya melirik dengan ujung mata tampak kekesalan yang terlihat pada perempuan itu sudah diduga ternyata memang muka dua tapi kenapa yuga merasa berslah mengapa yuga menyesal tidak membalas senyumnya? Mengapa ? mengapa ? banyak sekali pertanyaan muncul di kepala yuga sampai membuat yuga tidak sadar bahwa ia sudah sampai di kantornya.
“selamat pagi tuan” sapa perempuan yang menjadi staff di sebuah mall tersebut karena yuga tidak suka dianggap sebagai ceo sebuah mall maka ia selalu menyebutnya itu sebagai perusahaan.
Yuga hanya mengangguk tanpa memperlihatkan seulas senyum pada staffnya lalu ia berlalu menuju ruang kerjanya.

*

Viga

“akhirnya kau sampai juga Viga Dewangga” sapa dani seorang fotografer terkenal sambil menjabat tangan dan memeluk viga
“ternyata seorang fotografer terkenal masih ingat pada teman lamanya” gurau viga
“siapa yang tidak mengenal seorang violins terkenal yang sangat digilai wanita ini” lalu merekapun tertawa bersama sama melanjutkan candaan mereka
Lalu dany melambaikan tangan kepada seseorang pertanda isyarat untuk menghampirinya viga pun menoleh mengikuti arah dari mata dani “perkenalkan lily ini viga dan viga ini lily foto model yang akan menjadi pasanganmu” seru dani, viga langsung mengulurkan tangannya dengan ramah “halo saya viga” sapa viga ramah bahkan sangat ramah tidak heran semua wanita akan menyukainya, “oh hai saya lily” lily membalas jabatan tangan viga. “oke mulai sekarang kita akan menjadi team dan aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik” teriak dani penuh semangat memang itu menjadi ciri khas fotografer terkenal itu maka tidak heran karirnya terus melesat naik “kalian siap siap ganti pakaian 15 menit lagi kita akan mulai pemotretan” ujar dani sambil meninggalkan mereka berdua, merekapun hanya mengangguk mengerti . Vigapun meninggalkan lily menuju kamar ganti laki laki sambil mengulas senyum tipis senyum yang sangat mempesona dan viga pun menyadari wajah lily yang berubah seketika menjadi merah merona namun viga tidak menanggapi hal itu dia hanya ingin serius terhadap pekerjaannya.

*

 Lily 


Wajah lily tetap kesal walaupun sudah tiba di lokasi pemotretan ia tidak bisa melupakan sikap laki laki itu walaupun ia sendiri tidak tahu siapa dia, mata lily langsung terpusat pada laki laki yang melambaikan tangan padanya tanpa berpikir panjang lilypun langsung menghampiri laki laki tersebut.
“perkenalkan lily ini viga dan viga ini lily foto model yang akan menjadi pasanganmu” mata lily seketika melotot melihat tubuh jangkung berwajah tampan dan berambut agak gondrong walaupun begitu terlihat sangat rapi dan perfect.
“halo saya viga” laki laki itu mengulurkan tangan namun lily tidak langsung membalasnya ia hanya terpesona melihat ketampanannya wajahnya mulai memerah jantungnya berdegup sangat cepat ada apa ini? Lily tidak mau laki laki yang dihadapannya ini menyadari bahwa lily sedang gugup lily langsung mengulurkan tangannya membalas jabatannya “oh hai saya lily” tenggorokannya terasa tercekat ludahnya seakan kering hingga ia mulai terasa sulit untuk bernafas tangan viga yang hangat mulai merasuk ke seluruh tubuh lily yang mulai dingin, lily merasakan tangannya mulai gemetar maka lily pun langsung mlepaskan jabatan tangannya dari laki laki yang sudah membuatnya terpesona.
Entah apa yang diucapkan oleh dani tidak terdengar jelas di telinga lily karena sibuk memperhatikan dan memandangi laki laki itu, namun tiba tiba suara itu membuyarkan lamunan lily “kalian siap siap ganti pakaian 15 menit lagi kita akan mulai pemotretan” suara dani terdengar jelas di telinga lily, lily hanya mengangguk mengikuti gerakan laki laki dihadapannya tanpa disadari dani sudah menghilang dari hadapan mereka.
Gadis itu masih menatap lekat lekat mengapa dia tidak sadar bahwa didunia ini ada manusia seperti dia, seperti viga laki laki sempurna bahkan sangat sempurna. Laki laki itu membalas tatapan lily lalu tersenyum manis sambil meninggalkannya, senyuman itu membuat lily mematung ditempat untuk beberapa detik dan lily menyadari bahwa warna muka nya sudah berubah menjadi merah pertanda apa ini? Lily menggeleng gelengkan kepala lalu ia pun tersadar sebelum orang orang tahu bahwa ia sedang melamunkan seseorang hingga wajahnya merah merona ia pun segera bergegas pergi ke ruang ganti wanita sambil tersenyum senyum dan memegang tangan yang tadi bersentuhan dengan tangan laki laki sempurna itu.


 






No comments:

Post a Comment