Wahai para kaum LDR, apakah kalian pernah
merasa bosan? Apakah klian pernah merasa iri melihat orang orang berjalan
bergandengan tangan dengan pasangannya masing masing? Apakah kalian pernah
merasa jenuh? Atau apakah kalian pernah merasa diduakan dengan pekerjaan atau
tugas kuliahnya?
Aku pernah merasakan seperti itu, aku bosan
dengan keadaan yang terus menerus seperti ini, aku iri melihat orang orang
bergandengan tangan, aku jenuh menunggu keadaan yang tidak pasti, dan pada
point terakhir ini aku sangat sangat sangat jengah karena diduakan dengan
pekerjaannya.
Apa kalian pernah berpikir untuk menyerah
saja? Mencari yang lain yang mungkin tidak terpisahkan oleh jarak bahkan bisa
bertemu setiap hari? Mencari yang bisa mengantar jemput kemanapun kalian pergi?
Atau yang bisa malam mingguan tanpa ada absen setiap minggunya?
Mungkin memang ini alasan yang masuk akal
mengapa banyak kaum LDR yang tidak sampai pada ujung yang diinginkan, karena
ego yang terlalu berlebih, karena lebih memikirkan kepentingan diri sendiri.
Apa kalian tidak memikirkan apa yang dia
lakukan di sebrang sana? Apa kalian lebih berpikir bahwa dia disana sedang
bersenang senang dengan wanita lain? apa kalian berpikir jika dia tidak
membalas sms kalian itu berarti dia sedang sibuk membalas sms orang lain?
Aku juga sering berpikiran hal yang sama, tapi
faktanya dia jauh dari apa yang saya bayangkan selama ini, dia adalah orang
yang sangat hebat disaat orang orang sedang beristirahat dia dengan semangatnya
menaiki tower diatas gedung seperti pemanjat tebing profesional, disaat makhluk
makhluk gaib sedang gencar gencarnya berkeliaran, dia dengan berani berjalan
sendirian di lobby mall yang sudah sangat sepi bahkan mungkin angker, disaat
orang lain harus tidur selama 8 jam dalam sehari, dia mungkin tidur selama 8
jam dalam 3 hari hanya untuk melaksanakan tugasnya yang tidak semua orang bisa
melakukanya.
Keegoisan sudah pasti ada, ketika kita sebagai
wanita mungkin kurang diperhatikan. Aku marah! Aku menuntut hakku untuk
mendapatkan perhatian lebih dari pasangan, mengapa orang lain mendapatkannya
sedangkan aku tidak?
Apabila dipikir dengan akal yang sehat
bagaimana cara seseorang memperhatikan orang lain sedangkan tubuhnya sendiri
tidak dia perhatikan? Bagaimana dia bisa menanyakan kabar orang lain jika kabar
dirinya sendiri dia tidak tahu? Bagaimana dia bisa menanyakan sudah makan atau
belum jika dia sendiri lupa apa dia sudah makan atau belum?
Mungkin aku lebih beruntung dari kaum LDR
lainnya, ada yang bertemunya hanya 6 bulan sekali hanya pada saat liburan
semester, ada juga yang 8 bulan sekali, ada yang 1 tahun sekali, ada yang dari
awal pacaran sampai 5 tahun tidak pernah bertemu tapi akhirnya mereka menikah,
kuncinya yaitu keyakinan. Apabila dari awal kita sudah yakin bisa menjalaninya
pasti akan terlihat lebih mudah untuk kedepannya, namun jika sebaliknya dari
awal saja sudah ragu otomatis kedepannya akan terasa lebih berat.
Pacaran jarak jauh bukanlah sesuatu yang
mengerikan, diambil dari buku Long Distance Hearts bahwa “LDR it tak seburuk
yang kita bayangkan” cerita tentang pasangan LDR yang terpisahkan jarak antara
jawa dan maluku utara. Seperti yang dikatakan oleh pasangan LDR yang satu ini
“jangan pernah kamu memiliki prasangka atau berfikiran jelek terhadapku, karena
itu akan merusak hubungan kita” selama kita tidak berprasangka buruk terhadap
pasangan, hati kita damai dan dijauhkan dari masalah yang bisa merusak hubungan
yang telah kita jaga.
Rindu yang membuncah setiap harinya membuat
mood dan emosi naik turun, menangis setiap malam mungkin sudah menjadi ritual
yang rutin, namun komitmen, kepercayaan dan komunikasi menjadi kunci utama
hubungan LDR, kesabaran dan kesetiaan juga sangat teruji karena hanya bisa
bertemu beberapa kali dalam setahun. Teringat salah satu lirik lagu “There can
be miracles when you believe...” aku
percaya semua akan indah pada waktunya.
No comments:
Post a Comment