Thursday, January 17, 2013

Takdir tuhan tidak pernah salah


Aku ingin menceritakan kehidupan salah satu tetangga rumahku yang sangat memprihatinkan, aku dan semua tetanggaku biasa memanggilnya bi ade. Dia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan, mereka semua kini sudah menikah kecuali bi ade, kakak kakaknya terlahir normal hanya dia saja yang sedikit berbeda. Suaranya tidak jelas didengar, kelakuannya hampir seperti orang tidak waras, kerjaan sehari harinya hanya mengelilingi komplek siang dan malam, kadang membuang sampah milik tetangga ke TPA dengan imbalan 1000 rupiah, untuk mandipun dia pergi ke sungai. Beruntung dia masih mempunyai keluarga yang lengkap meskipun kedua orang tuanya sudah renta. Tahun 2010 kakak kedua dari bi ade pindah keluar kota ikut dengan suaminya kini tersisa dua kakak bi ade yang masih tinggal di sekitar rumah orang tuanya.

Pada akhir 2010 kakak tertua dari bi ade meninggal dunia karena salah satu penyakit parah dan tidak sempat dilarikan kerumah sakit karena keterbatasan biaya, suami dari kakaknya pun tidak bekerja hanya luntang lantung kerja serabutan dan anaknya pernah masuk penjara karena ketahuan mencuri handphone salah satu temannya.

Orang tua dan semua tetangga berpikir untuk membawa bi ade saja ke rumah sakit jiwa siapa tahu kalau dia disana bisa dirawat dengan layak karena keadaan orang tuanya yang sudah tua dan kakak yang ketiga sibuk dengan keluarganya sendiri sudah tidak sanggup lagi merawatnya sampai sampai bi ade sering buang air besar dan kecil di gang gang atau di halaman rumah tetangga. Akhirnya bi ade pun dibawa ke rumah sakit jiwa terdekat.

Selang 2 minggu bi ade dikembalikan oleh pihak rumah sakit, mereka mengatakan bahwa dia tidak gila hanya saja ada kelainan pada dirinya dan ini tidak bisa disembuhkan. Terpaksa bi ade kembali ke rumah dengan dirawat oleh kedua orang tuanya.

Pada tahun 2011 ayah dari bi ade yang sudah hampir 80 tahun meninggal dunia disusul oleh istrinya yang hanya berselang 2 minggu setelah kematian ayah bi ade. Kini bi ade hidup sendiri ditemani kakak ketiganya yang tinggal bersebelahan dengan rumah bi ade. Hidup bi ade kembali normal setelah sebulan kematian orang tuanya, seperti biasa dia hanya berjalan mengelilingi komplek siang malam tanpa lelah, kita sebagai tetangga hanya bisa menegur menyuruh dia untuk istirahat saja dirumah.

Pertengahan tahun 2012 kakak dari bi ade beserta keluarganya kabur entah kemana, kabar dari tetangga dia mempunyai utang dimana mana dengan alasan untuk menghidupi bi ade padahal bi ade tidak pernah sama sekali merasakan uang tersebut bahkan rumah orang tuanya bi ade pun kini kosong karena barang barangnya sudah habis dijual oleh kakak ketiganya itu.

Sekarang bi ade hidup sendirian, benar benar sendirian. Kakak kedua nya meminta dia untuk pindah dan tinggal bersamanya namun dia tidak mau dia lebih memilih tinggal disini dirumah ayah dan ibunya.
Seperti biasa bi ade hanya berjalan jalan keliling komplek setiap harinya dengan suaranya yang tidak jelas namun khas, kadang ibuku memberinya sedikit uang untuk makan dan tetangga yang lain pun melakukan hal yang sama secara bergantian.

Sekarang saat aku menulis cerita ini suara bi ade masih terdengar di telingaku, dia orang yang tak kenal lelah. Mungkin apabila tuhan mentakdirkan dia untuk hidup normal dia akan menjadi orang sukses yang berguna untuk orang lain.


No comments:

Post a Comment