Saturday, January 26, 2013

TEMPE DAN TELOR GOSONG

Malam yang dingin disapu gerimis dan kabut tipis, membuatku menggigil kedinginan. Aku teringat dengan masakan ibu di malam itu dengan kondisi yang serupa.

Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja sepanjang hari. Ia membersihkan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk di dapur kecil kami.

Tepat pukul tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana; berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambel teri dan nasi.

Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya gosong. Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengpun sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telor gosong.

Namun sungguh luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak pernah hilang dari pandangan.

Ayah berkata "Bu, termakasih ya" lalu ayah juga menanyakan kegiatan aku dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan adalah yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong"

Sebelum tidur aku pergi ke kamar ayah da bertanya, "apa ayah benar benar menyukai tempe dan telor gosong?" Ayah memelukku dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata "Nak, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun anakku."

Ini pelajaran yang aku praktikkan di tahun tahun berikutnya : "Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat bertumbuh dan abadi"

Ingatlah bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.

Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
-motivasi-

Wednesday, January 23, 2013

Love Light 2


Cerita Sebelumnya : Love Light 1

Pagi ini gairahku sudah mencapai titik terendah, aku tidak melihat kevin di meja makan saat sarapan aku juga disuruh pergi sekolah dengan kak robi saja. Kemana kevin? Ah aku tidak peduli, aku juga malas menanyakannya.
Aku berangkat sekolah diantar oleh kak robi begitupun pulang sekolah, diperjalanan pulang kak robi membelokan motornya ke arah yang berlawanan
“mau kemana kak?”
“ikut aja yah, aku ga akan bawa kamu kabur”
Aku sudah terlalu percaya dengan kak robi sehingga aku menurut saja perkataannya, ternyata arah motor kak robi menuju ke rumah sakit. Siapa yang sakit? Pikirku, tapi aku hanya diam saja tidak berani bertanya banyak. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diajak ke ruangan UGD yang terlihat banyak orang. Ternyata ada mama ku juga.
“mama”
Setibanya aku didepan UGD mama langsung memelukku, aku tidak mengerti ada apa ini? Apa ada sesuatu yang buruk menimpa papa?
“ada apa ma?”
Mama hanya menangis, dan tiba tiba muncul sosok papa dibelakangnya.
“papa?” lantas siapa yang sakit kalau bukan papa?
“kevin” suara mama terdengar tidak jelas dan pelan
Oh ternyata dia yang sakit, entahlah aku harus senang atau harus prihatin atas kejadian ini.
“kevin sudah dipanggil tuhan” tangis mama meledak kembali.
Kak robi pun langsung memelukku padahal aku tidak ingin menangis sama sekali, aku bingung harus sedih atau senang. Ini kan farah maumu? Doamu sudah terkabulkan oleh tuhan. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengejekku karenanya, tidak akan ada lagi yang mengacaukan semuanya, tidak akan ada lagi penjahat yang tinggal dirumahku, dan tidak ada lagi yang akan membentakku demi membela kevin, sekarang kasih sayang mama dan papa sepenuhnya untukku.
Sepanjang hari aku tidak menangis sama sekali sampai kevin dikuburpun aku tidak bisa merasakan apa apa, aku hanya bisa memandang nisan yang bertuliskan nama Kevin.
Kevin sekarang aku harus sedih atau harus senang? Namun jujur aku senang. Pikiran picikku muncul begitu saja saat aku memandangi nisan kevin
“de, are you okay?” kak robi menghampiriku dan duduk disampingku
Aku hanya menangguk mantap
“ini” tiba tiba kak robi memberiku sesuatu, sebuah laptop dan ini milikku
“kenapa bisa ada di kak robi?”
“semenjak kamu marah sama kevin gara gara laptop kamu rusak, kevin sangat merasa bersalah. Dia langsung mengambil laptopnya saat kamu tidur dan berusaha membetulkannya namun tidak bisa, akhirnya dia mencari tukang service semalaman dan sendirian”
Aku hanya menyimak tanpa memberikan respon sedikitpun
“dia baru ketemu tukang service yang buka itu subuh subuh, akhirnya setelah selesai membetulkan laptopnya dia buru buru pulang berharap bisa langsung memberikannya padamu, tapi kenyataannya dia kecelakaan, mobilnya keluar jalur dan tertabrak oleh truk dari arah yang berlawanan. Mungkin karena kelelahan atau mengantuk.”
Aku masih terdiam
“tapi de saat kejadian kevin kecelakaan, warga menemukannya masih dalam keadaan dia sedang memegang laptop ini dengan erat seolah dia tidak ingin membuat laptop ini cacat sedikitpun dan mengembalikannya padamu dengan utuh”
Serasa ada pisau yang menghantam jantungku, rasanya sakit sekali mendengar perkataan dari kak robi. Tangisku pun seketika pecah, aku menyesali perbuatanku.
“kevin itu sayang sama kamu de, waktu kamu tidak ingin pulang sama dia saja dia yang menyuruhku untuk mengantarmu pulang, dia khawatir akan terjadi apa apa sama kamu”
Tangisku semakin kencang dan meledak, tubuhku lemas aku tidak kuat lagi aku menyesal. Kak robi hanya mengelus elus pundakku berusaha menenangkan.
“kevin itu bukan orang jahat de, dia sebenarnya tidak ikut tawuran dia hanya kebetulan lewat dan saat itu kevin melihat temannya sudah tidak berdaya dipukuli sampai hampir dibunuh, akhirnya kevin merebut pisau dan untuk membela diri tidak sengaja kevin membalikan arah pisaunya sehingga tidak sengaja tertusuk ke anak yang sudah memukuli temannya itu”
Dengan gerakan refleks aku memeluk nisan kevin, hal yang tidak pernah aku lakukan pada kevin saat dia masih hidup
“kevin itu bukan pembunuh de, dia hanya ingin menyelamatkan temannya, dia adalah orang yang setia kawan oleh karena itu ibumu tetap mempertahankannya agar dia bisa keluar dari penjara dan bisa kembali masuk sekolah”
Kak robi meraih tubuhku dan memelukku “sampai pada akhir hidup kevin dia masih memintaku untuk menjagamu dengan baik, dan aku akan menepati janjiku” pelukan kak robi semakin erat dan tangisku pun semakin kencang.

***

Kak robi ternyata menepati janjinya dia tidak pernah meninggalkanku sedetikpun dia selalu berada disisiku mengantarku kesana kemari sampai aku masuk perguruan tinggi yang aku impikan akhirnya dia mengatakan cintanya padaku.
Kevin andai kamu masih ada aku ingin berbagi kebahagiaanku bersamamu saat ini.



Love Light 1


jika aku diperbolehkan meminta satu permintaan kepada tuhan, aku akan meminta agar dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.


“sampe sini aja”
Aku membuka pintu mobil dan sedikit berlari menuju gerbang sekolah, sementara kevin kakakku memarkirkan mobil di ruko samping sekolah karena peraturan yang tidak memperbolehkan murid untuk membawa kendaraan.
“farah, kakak kamu kemarin terlibat tawuran ya?” “farah kakak kamu kok jahat sih sampe bunuh orang” “farah bukannya kakak kamu dipenjara kok masih masuk sekolah?” “farah kakak kamu ga tau malu banget ya”
Hari ini aku bagai patung yang dipajang di ruangan kelas, teman teman menghujaniku berbagai pertanyaan tentang kevin yang terlibat tawuran 1 minggu yang lalu dan menusuk 1 orang dari sekolah lain yang menjadi lawan tawuran sekolah kevin dan sekolahku juga, kevin sempat dipenjara selama 2 hari tapi entah bagaimana caranya dia bisa bebas dan bisa kembali bersekolah lagi. Aku pun hanya diam menanggapi pertanyaan yang sama.
Bel pulang sudah berbunyi, dari awal pelajaran sampai akhir tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“de mau pulang bareng?”
Aku berjalan pura pura tidak mendengar suara laki laki yang memanggilku sejak tadi, tiba tiba dia menarik tanganku.
“de mau pulang bareng ngga?”
“ngga” dengan suara setengah berteriak
“terus kamu mau pulang sama siapa?”
“bukan urusan kamu”
Aku menarik tanganku melepaskan genggaman tangan kevin dan berlari. Sudah cukup dia membuat aku malu disekolah, jangan membuat aku malu lagi di tempat lain. Daripada harus ikut pulang sama dia lebih baik aku jalan kaki, pikirku dalam hati.
“de farah” suara seorang laki laki bertubuh jangkung menaiki motor gede berwarna hitam
“kak robi”
Kak robi ini adalah murid kelas 3 di sekolahku, dia adalah teman kevin tapi dia tidak nakal dan tidak pernah ikut tawuran dia juga terkenal pintar di sekolah jauh sekali dengan kevin.
“pulang sama siapa?”
“sendiri kak”
“aku anter aja ya, ga baik pulang sendirian”
Aku pun menangguk dan langsung menaiki motornya, dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia mengantarku pulang dengan selamat sampai rumah.
“mau masuk dulu kak?”
“ngga deh lain kali aja”
Tersungging senyum tipis di bibirnya yang manis dan menghangatkan, andai aja dia kakakku yang sesungguhnya. Kak robi pamit pulang dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
“pulang sama siapa?” suara mama yang sudah mengintip dari balik jendela dari tadi.
“kak robi”
“kenapa ga pulang sama kakakmu?”
“mah tolong deh bilangin sama dia kalo disekolah jangan deket deket sama aku deh, aku malu. Anggep aja kalo di sekolah tuh kita ga saling kenal kalo perlu di rumah juga”
“farah kamu ga boleh ngomong gitu”
“mama tuh kenapa sih belain kevin terus? Dia tuh emang anak kesayangan mama sampe udah bunuh orang aja masih dibelain”
“farah!!!”
Tidak pernah aku melihat mama membentakku dengan cara yang seperti itu, hanya karena kevin mama berbicara dengan volume yang sangat keras dan dengan mimik muka yang menyeramkan, air mataku menetes.
“udah lah mama tuh ga pernah bela farah, mama juga ga pernah mau nurutin maunya farah”
Aku berlari menuju kamarku, disanalah tempatku mencurahkan segala sesuatu yang sudah membludak, aku menangis sekencang kencangnya. Sejak ayah dinas di luar kota aku merasa tidak ada lagi yang membelaku, mama selalu membela kevin.

***

“lagi bikin tugas ya de?”
Aku tidak menanggapinya, aku juga sedang malas berdebat karena tugas ku yang belum juga selesai.
“sini aku bantuin”
Aku mengerutkan dahi, kalau dipikir pikir apa salahnya aku menerima bantuannya; toh kevin sudah pernah mengerjakan tugas seperti ini harusnya dia sudah mahir dong. Aku memberikan laptopku pada kevin tanpa bersuara.
“ini sih gampang” katanya sambil mencubit pipiku
“kerjain aja gausah cubit cubit”
Senyumnya yang manis mirip dengan ayahku, aku sedikit berpikir sebenarnya dia adalah orang yang baik mungkin karena dia salah bergaul makanya jadi seperti ini.
“aku bikinin kopi yah ... kak”
Seketika kevin menatapku mungkin kaget karena ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan “kakak”
“kamu kalau begini keliatan deh manisnya de” katanya sambil menggodaku, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian tawuran itu aku menunjukkan senyum manisku pada kevin.
“aku mau kopi aja deh”
“oke bos tunggu 5 menit ya”
Sementara kevin mengerjakan tugasku, aku membuatkannya kopi dengan senang hati. Rasanya damai sekali bisa melupakan semua kejadian pahit dan memulainya dengan kebahagiaan.
“kopi panasnya data.....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” seketika tubuh kevin menangkapku dan membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Aku langsung melihat ke arah kopi yang sudah tidak berada lagi dalam genggamanku
“oh tidak laptopku” aku mengambil lap kering dan membersihkan laptop yang hampir seluruhnya basah. Laptop ku pun sudah blackscreen alias mati.
“besok aku benerin deh”
“besok besok! Aku butuh tugasnya sekarang bukan besok” air mataku mengalir deras
“tapi sekarang tukang service sudah tutup semua”
“udah deh kamu keluar aja, emang kamu tuh tukang mengacaukau semuanya. Aku benci sama kamu” aku mendorong kevin keluar dari kamarku dan membanting pintu.
Aku berusaha menekan tombol on tapi percuma saja laptopku sudah tidak bisa menyala lagi, aku benci sama kevin aku tidak ingin melihatnya lagi, aku berharap tuhan secepat mungkin mengambilnya dari dunia ini.

***


Cerita Selanjutnya : Love Light 2

Tuesday, January 22, 2013

Dearest

 Suatu saat nanti ...
mata kamu pasti akan melihat kekuranganku
Suatu saat nanti ...
telingamu pasti akan mendengar keburukanku
Dan suatu saat nanti,
pasti hatimu akan tersakiti oleh sikapku
Itulah aku !!!
Aku bukan manusia yang sempurna
Maka dari itu aku butuh kamu ...
Tegur aku bila aku salah ...
Nasehati aku bila aku keliru ...
Isi kekuranganku dengan kelebihanmu ...
Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus berada disampingku.

Sunday, January 20, 2013

Ketika Senja Mulai Memerah 5



 Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 4

Yuga

Yuga menderita penyakit low vision yaitu gangguan penglihatan atau keterbatasan penglihatan, apabila tidak diobati akan menimbulkan kebutaan. Ini sudah terjadi sejak lama, sering kali yuga tidak bisa melihat dengan jelas bahkan tidak bisa melihat sama sekali; yuga tidak pernah peduli bahkan tidak pernah memerikskannya ke dokter padahal jadwal periksanya adalah 1 bulan sekali.
Namun sejak kejadian kemarin sore yuga jadi hampir tidak bisa melihat sama sekali, melihat cahaya lampu pun hanya terlihat samar samar akhirnya viga membawanya kerumah sakit. “jangan katakan pada lily” sudah hampir 50 kali yuga mengatakan hal itu.
Viga hanya mengangguk.
Setelah 3 hari yuga dirawat dirumah sakit tetap saja tidak ada perkembangan malah lebih parah sekarang cahaya lampu putih terlihat abu abu dan apabila tidak memakai lampu sama sekali walaupun siang hari terlihat menjadi gelap. Sekarang yuga memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan digantikan oleh sepupu nya yang sudah berpengalaman.
“apa tidak bisa dilakukan operasi?” kata viga kepada dokter dengan wajah penuh kekhawatiran.
“tidak bisa, low vision tidak bisa disembuhkan dengan cara operasi”
“lalu dengan cara apa lagi?”
“hanya dengan melatih dia membiasakan hidup gelap gulita”
Viga meninggalkan ruang dokter kemudian masuk ke ruangan tempat rawat yuga.
“aku sudah tahu semuanya” suara yuga tiba tiba muncul
“tahu apa?”
“aku tidak bisa melihat lagi, aku sudah sering melihat artikel tentang penyakit ini dan semuanya sama low vision susah untuk disembuhkan”
“susah bukan berarti tidak bisa”
“sudahlah, aku bisa menerima ini semua” yuga memejamkan mata kemudian beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menggunakan tongkat layaknya orang tidak bisa melihat; kadang terjatuh, kadang menabrak lemari, menabrak semua yang dilewatinya tanpa ampun; “lihat aku bisa kan berjalan tanpa melihat?”

*

Viga

Viga berjalan menuju apartemennya sepertinya dia sudah lama tidak pulang karena sibuk mengurusi adiknya dirumah sakit.
“viga” suara lembut dari arah belakang muncul; viga pun menoleh
“lily”
“aku mencarimu kemana mana, handphone mu dan yuga tidak pernah aktif dan rumahmu selalu saja kosong”
“ayo kita bicara didalam” viga menghembuskan nafas lalu menuntun lily untuk masuk kedalam apartemennya.
“yuga dimana?”
Viga tidak langsung menjawab, dia membuatkan secangkir teh hangat untuk lily; wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu
“hei yuga dimana?” lily menempuk pundak viga.
“kamu ingin bertemu dengannya?”
Lily mengangguk.
“nanti aku mengajakmu menemuinya”
Dahi lily mengernyit heran namun dia tidak merespon apapun
“dengan syarat”
“apa?”
“nanti sewaktu kamu bertemu dengan yuga kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
“kenapa?
“pokoknya nurut saja” lily pun akhirnya mengangguk tanda mengerti.
Setelah selesai lily menyesap tehnya dan viga berganti pakaian mereka bersiap siap berangkat menemui yuga.

*

Lily

“kenapa kita ke rumah sakit? Yuga sakit? Dia sakit apa?”
“sudah aku bilang kamu tidak boleh bersuara sedikitpun”
Lily hanya diam, dengan itungan menit mereka sampai di ruangan tempat yuga dirawat; yuga membuka pintu dengan pelahan
“siapa?” kata yuga dengan nada sedikit membentak
“ini aku” kata viga sambil menutup pintu dan menuntun lily untuk mendekat ke tempat yuga berbaring.
“apa kamu bertemu dengan lily” tanya yuga tiba tiba
Apa? Dia tidak melihatku? Tubuh lily mengisyaratkan pertanyaan pada viga tanpa suara, viga hanya menempelkan telunjuk ke arah mulutnya
“aku bertemu dengannya” kata viga
“jaga dia baik baik ya” hati lily langsung tersentak mendengar perkataan dari yuga, dia tidak kuat lagi menahan semuanya kenapa ini begitu tiba tiba rasanya tidak adil.
Tiba tiba lily menangis, isakannya pelan namun terdengar ditengah ruangan yang sepi.
“viga kamu menangis?” tanya yuga. Viga hanya diam membiarkan lily menangis dan membiarkan yuga penuh dengan tanda tanya
“aku yang menangis” suara lembut itu mulai berbicara
“kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku, apa aku ini hanya sekedar menjadi boneka di kehidupan kalian? Apa aku tidak berhak mengetahuinya” amarah lily seolah membludak saat itu juga, emosinya terlihat meluap luap tak terbendung. Kedua kakak beradik itu pun hanya diam.
“oke kalo itu mau kamu saudara yuga, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi” seketika lily berlari keluar ruangan, mereka berdua hanya terpaku seolah olah hanya sedang melihat sebuah drama.
*
Yuga
Mataku tidak ada perubahan semua nya terlihat sama, gelap. Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen saja daripada di rumah sakit, aku bisa berlatih berjalan menggunakan tongkat dan tidak merepotkan siapapun.
“aku ingin ke taman” kata yuga sambil berlalu keluar rumah
“aku temani ya” viga beranjak dari tempat duduk lalu memegangi yuga
“tidak usah aku ingin sendirian”
Viga pun menurut dan akhirnya yuga berjalan sendirian dengan bantuan tongkat dan jalan menuju taman yang sudah hampir ia hafal
Yuga duduk di tengah taman tepat seperti biasa dia duduk berdua dengan lily, ia memejamkan mata menikmati angin sore hari yang langsung menyesap masuk ke tulang tulangnya.
“apabila duduk sendirian disini pertanda tidak akan mendapat jodoh loh” suara itu tiba tiba membuyarkan lamunan yuga
“lily” yuga membuka matanya dan tetap saja gelap.
“ternyata kamu hafal ya suaraku”
“itu karena aku pergi ke tempat ini selalu berdua denganmu”
Mereka berdua tertawa melupakan kejadian yang lalu, lily bukan orang pendendam jadi seketika saja dia melupakan kejadian itu.
“mau aku lukis?” yuga tidak menjawab tapi lily langsung mengeluarkan pensil dan perlengkapan melukis lainnya.
Yuga hanya diam, sementara lily menggoreskan pensilnya diatas kanvas yang sedikit basah karena air matanya; lily terus menggerak gerakkan pensilnya, memandang yuga sejenak lalu menggoreskan pensilnya kembali berulang ulang.
“sudah selesai” lily menghapus air mata di pipinya dan terlihat pura pura riang seperti biasanya.
“lily apakah kamu tidak malu duduk denganku? Bahkan aku pun tidak bisa melihat lagi hasil karyamu yang menawan itu”
Lily hanya terdiam
“coba sini aku lihat” yuga tiba tiba merebut lukisannya dari tangan lily. Dia melihat lukisannya, menaikan sebelah alisnya, memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri seperti sedang menimbang nimbang sesuatu “sepertinya kamu melupakan sesuatu” setelah selesai menimbang nimbang.
“apa”
“setelah hampir satu minggu dirumah sakit aku tidak sempat untuk mencukur kumisku, sepertinya kamu melupakan sedikit kumisku ini”
Bibir lily tiba tiba naik dan tersungging senyum yang seketika berubah menjadi gelak tawa
“aku akan mecukurkan kumismu nanti” kata lily
Tangan yuga menghampiri tangan lily, mereka saling menggenggam seolah tidak ingin terpisah
“apabila kamu ingin melihat lukisanku, aku akan meminjamkan mataku untukmu. Bahkan kamu boleh meminjam mataku untuk selamanya”
Yuga menoleh ke arah lily, walaupun sudah terlihat apa apa lagi namun bayangan wajah lily masih jelas terlihat dalam ingatan yuga.
Yuga menarik lily dalam pelukannya sambil menyaksikan senja yang akan segera turun.
“apapun yang terjadi izinkan aku melukismu dengan senja setiap hari” yuga mengangguk tetap dengan tangan yang dilingkarkan ke tubuh lily.
 seberat apapun cobaan yang dihadapi izinkan aku untuk terus tetap berada disampingmu

Ketika Senja Mulai Memerah 4



Cerita sebelumnya : Ketika Senja Mulai Memerah 3

Lily

“kau datang tepat waktu” suara laki laki itu muncul tanpa menoleh ke arah gadis yang menghampirinya.
“aku pikir aku terlambat” gadis itu tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
 Ya tuhan jantungku rasanya mau berhenti melihat gadis itu tersenyum dengan tulus, bukan yuga namanya bila dia tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
“ayo lukis aku” kata yuga ketus
“aku ingin melukismu ditengah sunset jadi sabar sebentar ya” sahut lily bersemangat.
Yuga sangat tidak suka menunggu tapi entah kenapa demi gadis ini dia rela menunggu sampai kapanpun .
“itu dia itu dia ayo kamu siap siap tersenyum ya” lily melompat lompat riang, bibir yuga terangkat sedikit “ayolah tunjukan senyum terbaikmu bayangkan saja bahwa yang melukismu saat ini adalah wanita pujaanmu” lily masih bersemangat.
Yuga tertegun mendengar setiap perkataan lily, yuga akhirnya menuruti dia memejamkan mata membayangkan wajah ibunya namun entah kenapa wajah lily selalu muncul dan tanpa disadari senyum tulus pun tersungging di bibir yuga, dengan penuh semangat lily melukis wajah yuga yang memang sangat tampan dengan tersenyum seperti itu.
“selesai” teriak lily riang membuyarkan lamunan yuga “lihat kau terlihat tampan bukan kau tahu ini pertama kalinya aku melukis seorang pria setelah ayah” seru lily sambil mendekati yuga dan memperlihatkan hasil lukisannya. Ini terlalu dekat sampai sampai jantung yuga berdetak lebih keras yuga pun mendorong gadis itu karena takut lily akan mendengar jantungnya yang sangat tidk menentu “aaahh” suara lily saat berbenturan dengan tanah.
“maafkan aku” ujar yuga penuh rasa berdosa sambil membantu lily berdiri, “tidak masalah mungkin aku memang tadi terlalu dekat” sahut lily masih dengan senyum manisnya.
Sebenarnya tidak masalah bahkan yuga sangat senang apabila berada di dekat gadis itu namun entah apa yang telah merasukinya sehingga ia bisa berbuat kasar seperti itu.
“sudah malam aku pulang duluan yah” seru lily sambil melirik jam tangannya
“biar aku antar pulang” sahut yuga sambil berjalan menjauhi taman
Lily segera mengikuti “aku tidak perlu diantar sungguh” ujar lily memohon
“yasudah aku pulang ya” yuga pun berlalu tanpa menoleh sedikit pun kearah lily
“hati hati” teriak lily walaupun sudah tidak mungkin terdengar oleh yuga karena bayangannya sudah menghilang. Sebenarnya dia ingin sekai diantar oleh yuga mungkin karena gengsi dan laki laki itu tidak memaksa jadi yasudahlah lily juga sudah terbiasa pulang malam sendirian
Lily mulai berjalan menjauhi taman “kenapa dia membiarkanku pulang sendirian tidak khawatir apa?” gerutu lily sambil memajukan sedikit bibirnya pertanda cemberut, sepanjang perjananan pulang ke apartemennya lily terus memikirkan yuga aneh bisa bisanya lily memikirkan malaikat kegelapan tapi tak bisa dipungkiri tersungging senyum bahagia yang terpancar dari bibir lily. Tiba tiba langkahnya terhenti dia menoleh ke belakang “ternyata dia tidak menyusulku” gerutu lily pelan ada sedikit kekecewaan pada ucapan lily, lily melanjutkan berjalan hingga sampai pada apartemennya lily berbelok dan mengeluarkan kunci lalu membuka pintu sekali lagi lily menatap ke arah jalan berharap laki laki itu uncul dan mengkhawatirkannya tapi ternyata harapannya tidak terpenuhi laki laki itu tidak peduli kepadanya, lily un masuk dan menutup pintu apartemennya

*
 Yuga

“bodoh kenapa aku meninggalkannya sendirian” gerutu yuga kepada dirinya sendiri, tanpa berpikir panjang yuga kembali ke arah taman namun sosok gadis itu sudah tidak ada, yuga berjalan sambil memutar kepala kanan kiri mencari keberadaan gadis itu, sangat khawatir membiarkan gadis polos itu pulang sendirian, akhirnya yuga terpaku pada sesosok gadis yang sedang berjalan sambil menunduk ya itu dia yuga enemukan gadis itu , yuga mengikuti gadis itu dengan langkah pelan agar dia tidak mengetahui bahwa yuga sedang mengikutinya tiba tiba langkah gadis itu pun berhenti sepertinya sedang memikirkan sesuatu lily menoleh pelan, menyadari gerakan lily yuga pun berbalik menghadap ke arah yang berlawanan, lily kembali memandang lurus ke dpan yuga melanjutkan berjalan kembali, setelah hampir setengah jam berjalan akhirnya lily berbelok ke sebuah apartemen rupanya dia sudah sampai yuga masih terdiam menatap gadis itu dari kejauhan memastikan lily pulang dengan selamat karena dia tidak mau kehilangan malaikat matahari yang selalu menyinarinya.

*
Viga

Suara pintu rumah viga terbuka, tepat nya pukul 9 malam adiknya baru sampai kerumah
“dari mana saja kau?” tanya viga dengan mengerutkan dahi, yuga hanya tersenyum namun kali ini senyumnya terasa berbeda senyumnya tulus sepertinya yuga sedang berbunga bugan entah apa yang menyebabkan yuga bahagia tetapi viga senang melihatnya semoga tetap seperti ini.

*
Lily

Bisa kita bertemu aku tunggu jam 10 pagi di cafe biasa
Dahi lily mengernyit setelah membaca pesan dari viga yang tertera pada layar, ada apa?apakah ada sesuatu yang penting? Lily mengambil tas tangannya lalu keluar dari apartemennya untuk menuju cafe yang disebutkan viga tadi.
Ternyata viga belum datang lily langsung menduduki kursi kosong yang menghadap ke jendela lily tidak langsung memesan apapun karena ingin menunggu viga terlebih dahulu, setelah hampir 10 menit menunggu akhirnya viga pun datang dan langsung menghampiri gadis manis yang menggunakan kaos kebesaran dan celana jeans walaupun penampilannya yang biasa namun lily terlihat sangat menarik dan mempesona.
“hai maaf aku terlambat” sapa viga, lily langsung menoleh ke asal suara senyumnya langsung mengembang ketika mlihat seseorang yang sedang ditunggunya sudah datang. Viga langsung duduk dan memanggil pelayan untuk memesan setelah pelayan itu pergi lily mulai membuka suara “sebenarnya ada apa kamu ingin menemuiku pagi pagi begini?” tanya lily dengan nada penuh penasaran. Viga sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat ke wajah lili sambil bertopang siku diatas meja “kemarin malam aku menemukan sesuatu yang aneh” seru viga dengan nada serius, dahi lily mengernyit tanda heran “kemarin malam aku mendapati adikku tersenyum, namun berbeda dengan sebelumnya sepertinya kemarin dia telah menemukan sesuatu yang membuat dia bahagia atau dia telah bertemu seseorang yang telah menyenangkan hatinya” lanjut viga, “kemarin malam?” tanya lily dengan mata melotot, viga hanya mengangguk sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Kemrin malam ? bukankah kemarin yuga pergi bersamaku? Apakah aku yang telah membuat dia tersenyum? Apakah aku yang telah menyenangkan hatinya? Pertanyaan itu terus bermunculan di kepala lily tiba tiba tubuh lily gemetar wajahnya terlihat memerah jantungnya berdegup 2 kali lebih cepat ia merasa gugup tapi... tapi senang mengapa perasaan ini muncul apakah aku menyuka... lily langsung menggeleng gelengkan kepalanya sampai akhirnya lamunan lily buyar ketika seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka.
“aaahh akhirnya” seru viga riang “aku sudah lapar dari tadi” lanjutnya, pelayan itu menunduk hormat dan berlalu.
“aku yakin kau sudah lapar wajahmu udah memerah sedari tadi” ujar viga sambil melahap maknannya, lily hanya tersenyum sebenarnya mkannya memerah bukan karena lapar bukan sama sekali tapi justru karena cerita viga tentang.. tentang laki laki itu, laki laki yang sudah membuat jantung lily tak karuan.

*
Yuga

“aku ingin mencari sarapan diluar saja” seru yuga pada arbi asistennya, arbi hanya mengangguk mengerti. Yuga segera bergegas keluar dari perusahaannya dan memilih untuk berjalan kaki dan langkah kakinya terhenti ketika melihat sebuah cafe, sebenarnya bukan cafe itu yang menjadi pusat perhatiannya namun seseorang yang berada didalamnya dibalik jendela gadis itu gadis impian yuga, yuga tiba tiba tersenyum namun senyumnya memudar ketika melihat laki laki di hadapan lily. Viga? Kenapa mereka sarapan bersama? Mereka sepertinya krab sekali, lily terlihat sangat bahagia ketika bersama viga berbeda apabila lily sedang bersama yuga, yuga selalu membuat gadis itu kesal dan marah tapi viga dia bisa membuat gadis impiannya itu tertawa lepas dan bahagia.
Tiba tiba dada yuga merasa nyeri melihat pemandangan yang tidak mengenakan itu, yuga terasa seperti tidak bisa bernafas tenggorokannya kering kaki yuga melemah untuk menopang tubuh kekarnya kepalanya terasa remang remang dan seketika gelap saat tubuh yuga ambruk di tanah.

*

Viga

Viga membaringkan tubuhnya di sofa, lelah sekali hari ini padahal tidak bekerja dan hanya pergi ke cafe untuk sarapan bersama lily, viga memejamkan mata sebentar lalu membukanya kembali, tiba tiba mata viga tertuju pada suatu ruangan yang terbuka, kamar yuga. Tidak biasanya yuga tidak mengunci kamarnya apa karena ia buru buru berangkat kerja, viga menghampiri pintu kamar hendak menutupnya namun dibuka kembali setelah melihat sesuatu tergeletak di tempat tidur yuga, dengan rasa penasaran viga menghampiri benda tersebut, benda itu adalah lukisan, lukisan wajah yuga dengan sunset di sore hari dan mata viga langsung kaget ketika menemukan tulisan dibawah lukisan itu.
Tersenyumlah seperti senja yang akan segera tenggelam, sangat indah.Lily
Astaga, jadi kemarin yuga menemui lily. Apakah yang membuat yuga tersenyum bahagia itu adalah lily? Ya benar gadis itu telah membuat yuga seorang malaikat kegelapan menemukan cahayanya, saat itu viga menyadari bahwa yuga menyukai lily.
Krriiiiinnnggg bunyu ponsel viga membuyarkan lamunannya, tanpa melihat siapa nama yang tertera dilayar ia langsung menjawab “halo” wajah viga berubah menjadi cemas setelah menempelkan ponselnya di telinga “APA?” suaranya viga terdengar sangat kencang lalu tanpa berpikir panjang seketika ia berlari keluar rumah menyalakan mesin lalu melesakkan mobilnya dengan kencang.

*

Lily

Lily berlali menuju kamar tempat yuga dirawat ia tidak pernah merasa secemas ini, nafasnya terengah engah namun tidak menghentikan lily untuk berlari air matanya tiba tiba mengalir di pipinya, mata lily merasa lega ketika enemukan kamar tempat yuga dirawat dia buka pintu kamar dengan ragu, setelah pintu terbuka lily mendapati 2 orang yang sedang menoleh ke arahnya, viga langsung menghampiri lily dan mempersilahkannya masuk lalu viga menutup pintu kamarnya dari luar, hanya tinggal lily dan yuga yang ada di ruangan tersebut.
“jadi kesini hanya untuk bengong?kalau hanya untuk itu mending pulang saja” kata yuga ketus dan dingin bahkan sangat dingin sampai sampai tubuh lily juga merasa dingin dan dadanya sakit mendengar ucapan itu, kecemasan liy ternyata hanya sia sia ternyata dia membenciku hanya itu yang ada di pikiran lily sekarang. “aku kesini ingin menemui viga bukan untuk menemuimu” sahut lily, tanpa mendengar ucapan dari yuga, lily langsung keluar dan menutup pintu dengan keras. Sakit .. itu yang dirasakannya sekarang.

*

Yuga

Tubuhku gemetar jantungku berdegup kencang ketika melihat dia, gadis impianku datang untuk menjengukku tetapi dengan wajah murung, tiba tiba viga menghampirinya dan mengulas senyum yang ditujukan untuk lily, lily pun menatap viga sambil tersenyum dan viga pun berlalu keluar ruangan. Hanya dengan senyuman viga saja bisa membuat ekspresi wajah lily berubah? Yang benar saja. Ekspresi yuga langsung berubah ketika melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya barusan, lily tetap mematung didepan pintu “jadi kesini hanya untuk bengong?kalau hanya untuk itu mending pulang saja” yuga membuka suara dengan ketus dan dingin, lily mendengus kesal “aku kesini ingin menemui viga bukan untuk menemuimu” lalu dalam hitungan detik bayangan lily sudah tidak ada di ruangan itu diiringi suara bantingan pintu yang keras.
Apakah yang dilakukanku sudah benar? Apa memang lily hanya bisa bahagia bersama viga? Apa aku harus menjauhinya? Aku bukan orang yang tepat untuknya dan aku tidak mau jadi beban untuknya, gadis impianku..

Yuga merasa kesal mengapa ucapan kasar itu terlontar begitu saja tanpa bisa ditahan, kekesalannya terhadap pemandangan yang tidak sedap itu berdampak buruk bagi sikapnya. Ucapan lily seakan menjadi pedang tajam yang dengan mudah menusuk nusuk jantung yuga.
Yuga tidak tahan lagi yuga ingin berlari mengejar gadis itu dan memeluk tubuhnya meminta maaf dengan tulus tapi apa boleh buat untuk berdiri saja dia masih lemas, yuga hanya mendengus kesal.
Sesaat ia menatap kearah jendela yang berada ttepat disamping tempat tidurnya, ia melihat lihat sekitar membayangkan seandainya ia bisa keluar dan melompat. Tatapan yuga berhenti pada satu titik matanya langsung melotot melihat sepasang laki laki dan perempuan sedang berpelukan, yuga tersenyum sinis apa pantas mempertontonkan kmesraan di tempat umum?
Tapi tunggu wanita itu? Sepertinya yuga mengenalnya, ya tentu yuga sangat mengenalnya dia lily tapi lily sedang berpelukan dengan siapa? Oh tuhan tidak tidak tidak itu... itu adalah viga kakakku sendiri.
Seketika tubuh yuga terkulai lemas untunya dia sedang berbaring sehingga ia tidak akan jatuh dan menggemparkan semua orang, dadanya terasa sesak ternyata yuga terlalu berharap, gadis itu membenci yuga dan ternyata gadis itu .. gadis impiannya mencintai viga.

*

Lily

Lily keluar kamar yuga dengan ekspresi kesal, sangat kesal. Ternyata kekhawatirannya dibalas dengan ucapan yang menyakitkan. Lily menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras bermaksud agar rasa kesal itu sedikit berkurang.
“lily” panggil seseorang, lily langsung menoleh dan ternyata itu viga. Lily langsung menghampri laki laki itu dan dduk di sampingnya.
“kenapa hanya sebentar?” tanya viga, ya sebenarnya lily ingin berlama lama didalam, ia ingin terus berada di samping laki laki itu apalagi disaat ia terpuruk seperti sekarang, lily mendengus pelan dan mengangkat bahu lalu menjawab “sepertinya dia tidak mau bertemu denganku, sepertinya dia membenciku”.
Sebenarnya lily tidak mau laki laki itu membencinya, ia sendiri tidak tahu apa yang membuat laki laki itu begitu bersikap seperti lily adalah ancaman besar baginya sehingga harus menjauhinya.
“yuga kenapa?” tanya lily penasaran dan penuh hati hati.
Senyum manis tersungging di bibir yuga “kata dokter dia hanya kecapean butuh beberapa hari untuk istirahat” jawab viga tenang
“syukurlah” tambah lily sambil menunduk, jantungnya sudah bisa berdetak dengan normal setelah mendengar jawaban bahwa yuga baik baik saja.
“kau tahu” suara viga membuyaran lamunan lily, lily pun menoleh menatapnya “aku inginn mebuat yuga bahagia” lanjut viga dan mendesah pelan, mata lily terbelalak kaget mendengar pernyataan viga “sejak kematian ibu 2 tahun yang lalu aku tidak pernah sedikitpun ada cahaya yang terpancar dari mata viga” viga menoleh menatap gadis di sampingnya lekat lekat “aku merasa aku kehilangan sosok adikku, adik yang dulu riang dan selalu membawa ketenangan dirumah kami, adik yang selalu mengajak bertengar namun aku pun senang melakukannya. Sekarang untuk mengobrol pun bisa dihitung jari. Aku merindukan dikku yang dulu“ tanpa terasa air mata viga telah jatuh membasahi pipinya. “aku mengerti perasaanmu” sahut lily dengan wajah penuh prihatin, viga mendekatkan tangan ke leher lily dan memeluknya “terimakasih kau orang paling baik yang pernah kutemui” bisik viga sambil mempererat pelukannya. Lily hanya tersenyum walaupun viga tidak bisa melihat senyumannya.
Ternyata laki laki itu memendam banyak sekali kesedihan dalam dirinya, ingin rasanya lily memeluk tubuh laki laki itu, menenangkannya, menjadi obat dikala kesedihannya, menjadi orang yang bisa membuatnya tertawa. Tapi apa daya laki laki itu membenciku, yuga membenci lily.

*

Viga

Viga membuka kamar rawat yuga dengan hati hati dan mnutup pintu dengan hati hati juga, viga mendapati yuga sedang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, mengapa yuga kembali lagi seperti dulu? Yuga kemarin sudah bisa tersenyum bahagia mengapa sekarang berubah menjadi malaikat kegelapan lagi?
“sudah baikan” viga membuka pembicaraan lalu duduk disebelah ranjang yuga, yuga tidak menjawab dan sepertinya memang yuga tidak mendengar, Yuga sedang melamun. Viga menepuk tangan yuga dan dengan satu sentakan kaget yuga langsung menoleh ke arah viga “sejak kapan kamu ada disini?” tanya yuga ketus sambil memperbaiki posisi duduknya karena sempat sedikit melompat ketika kaget viga sudah ada di sampingnya
“sudah baikan?” tanya viga tanpa menghiraukan pertanyaan yuga.
“aku rasa aku tid.. aku baik baik saja” jawab yuga ragu “aku boleh mengajukan satu pertanyaan?” lanjut yuga dengan nada hati hati, “tentu” sahut viga lembut dan tenang. “kamu menyukai lily?” mata viga langsung melotot mendengar pertanyaan dari yuga “tidak” kata viga singkat. “mengapa?lily cantik dia seorang model dan baik aku rasa semua laki laki akan menyukainya” nada bicara yuga semakin keras, viga mengernyitkan dahi “aku tidak punya perasaan apa apa pada lily lagipula aku tidak berminat untuk menjalin hubungan aku inginn lebih serius untuk karir dan keluarga” jawab viga tenang, merasa tidak puas dengan jawaban viga, yuga terus merasa penasaran “tapi..”, “sudahlah yuga aku tidak punya dan tidak ingin punya perasaan apa apa pada lily kau dengar itu jadi kau tidak perlu khawatir aku tau kau menyukainya” potong viga sedikit kesal. Mata yuga melotot “dari mana kau mengetahuinya?”, viga mendengus “dari matamu” jawabnya cepat.

*

Yuga

Dari matamu
Mataku? Yuga berdiri menghampiri cermin yang ada di sudut kamar rumah sakit “sepertinya mataku biasa saja tidak ada yang berubah” gumamnya pelan dan hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, yuga terus menatap lekat cermin mencari titik pada matanya yang menunjukkan bahwa dia sangat menyukai lily, “ah sudahlah mungkin viga hanya bergurau” seru yuga karena tidak mendapati satu keanehanpun pada matanya.
Yuga berpikir pikir lagi sambil duduk di atas tempat tidur, jika viga saja bisa menyadari bahwa aku menyukai lily, apakah lily juga bisa merasakan ahwa aku menyukainya? Tiba tiba pertanyaan itu terlintas di pikiran yuga, yuga merebahkan tubuhnya di kasur bergerak menghadap kanan dan kiri namun tidak ada rasa nyaman sama sekali didapati oleh yuga, yuga gelisah mengapa memikirkan gadis itu saja bisa segelisah ini?

*

Viga

“kau sudah boleh pulang hari ini” kata dokter yang telah selesai memeriksa keadaan yuga.
Viga tersenyum, lalu membereskan semua barang barang yuga. Yuga hanya diam termenung sejak kemarin dia tidak berbicara satu patah kata pun, dia hanya mengangguk dan menggeleng. “kau tidak ingin pulang?” goda viga yang bermaksud agar ada sedikit reaksi yang bagus pada yuga ternyata nihil, ekspresi yuga masih datar dan kosong yuga hanya beranjak dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke arah viga sedikitpun.
Tiba tiba langkah yuga terhenti dan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu tepatnya yuga sedang mencaris seseorang.
“dia tidak datang karena ada jadwal pemotretan” suara viga terdengar seakan mengetahui isi dari kepala yuga, “apa?” tanya yuga memaksakan wajah heran padahal sebenarnya memang dia sedang mencari lily, “tapi dia akan menjengukmu nanti siang” jawab viga sambil berlalu berjalan endahului yuga.
Sedikit kecewa terpancar dari wajah yuga namun ya tidak apa apa jika dia sudah berjanji akan menjenguk nanti siang. Seulas senyum terpancar dari wajah yuga, yuga berjalan mengikuti viga yang sudah berada di dalam mobilnya.

*

Yuga

Kemana gadis itu? Viga bilang dia akan menjengukku siang ini namun sampai sekarang belum datang juga, yuga berkata dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul 4.
Yuga terus memegangi ponselnya yang sedari tadi tidak berbunyi sedikitpun, yuga gelisah tak karuan, ia ingin menelpon gadis itu namun ia sendiri bingung apa yang harus dikatakannya. Akhirnya yuga memberanikan diri untuk mengirim pesan pada lily.
Satu jam berlalu tanpa muncul sosok gadis impian yuga di rumahnya, ponsel yuga masih tidak berdering sedikit pun. Kemana gadis itu? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Atau dia sedang berkencan dengan laki laki lain? Ah sial pertanyaan bodoh itu muncul begitu saja di kepala yuga sampai dering ponsel membuyarkan lamunanya yang sudah tidak karuan.
Yuga langsung membuka isi pesan di ponselnya.
Kau ingin ku lukis lagi? Senja sedang indah sore ini
Tiba tiba bibir yuga mulai naik seulas senyum bahagia terpancar di wajahnya, lamunan buruk seketika terbayarkan sudah oleh isi pesan yang tidak lain adalah dari gadis impiannya, lily.
Tanpa berpikir panjang yuga langsung mengambil jaket dan keluar rumah tidak tanpamenoleh ke arah viga yang sedang berlatih biola, yuga berangkat dengan semangat tidak sabar bertemu dengan lily, tanpa disadari yuga mulai merindukan gadis itu.
Sore itu yuga memutuskan untuk berjalan kaki karena memang dia tidak suka naik bis, dia berjalan dengan penuh semangat. Tiba tiba langkahnya terhenti dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di matanya, yuga lalu mengusap usap matanya dengan punggung tangan namun bukannya bertambah baik justru matanya mulai semakin perih dan remang remang yuga tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas ada apa ini ya tuhan? Jantungnya semakin berdegup cepat dan yuga masih menusap usap matanya setelah mengerjap sekali dua kali dan ketiga kali akhirnya bayangan sekitar terlihat dengan jelas, perasaan lega muncul seketika di hati yuga. Apa ini? Apa yang baru saja ia rasakan? Karena matanya sudah bisa melihat dengan sempurna akhirnya ia bergegas menuju taman tempat terakhir kali lily dan yuga bertemu ia berjalan setengah berlari karena takut gadis impiannya menunggu terlalu lama.

*
Yuga

“maaf sudah membuatmu menunggu” suara itu muncul ditengah tengah ketenangan taman, suara yang sudah tidak asing lagi bagi lily, lily segera menoleh kearahnya dan mnunjukkan senyum terbaiknya. Yuga membalas senyuman lily dan langsung duduk di sebelahnya, mereka duduk diatas rumput sebuah taman yang tidak terlalu banyak pengunjung memang taman ini tidak banyak orang yang tahu karena terdapat di sudut kota.
Selama beberapa menit tak ada suara muncul keheningan yang merasuk kedalam tubuh yuga dan lily membuat ketenangan dalam diri mereka, dunia seakan damai bahkan mereka sempat berpikir ingin menghentikan waktu dan biarkan tetap dalam keadaan seperti ini, lily memejamkan mata tanda menikmati sayup sayup angin yang mengibas kan rabutnya membuat pesona lily semakin terpancar.
“katanya kau mau melukisku” akhirnya yuga mulai membuka suara sambil menoleh ke arah lily yang sedang memejamkan mata menikmati sayup angin.
Lily membuka mata, menoleh ke arah yuga dan tersenyum menampilkan barisan giginya yang rapi “tunggu senja nya merah itu akan sangat indah apabila dipadukan dengan senyum mu yang sama sama indah”
Yuga tertegun mendengar ucapan lily tidak ada kata lagi yang bisa diucapkan olehnya.
“itu dia senja sudah mulai turun ayo kau senyum” seru lily dengan semangat, lily membetulkan posisi duduknya sehingga sekarang posisi lily tepat menghadap ke arah yuga.
Yuga menrut dan tersenyum, entah kenapa yuga tersenyum secara tulus tanpa harus membayangkan wajah ibu nya atau membayangkan wajah lily, dengan berada di dekat gadis itu pun senyum yuga mengalir secara otomatis, rasa damai dan tenang mulai menghinggapi diri yuga, ia ingin terus seperti ini berada di dekat gadis impiannya. Lily mulai menggoreskan kuas ke atas kanvasnya, dia melirik laki laki itu lalu menunduk melihat kanvas dan menggoreskan cat keatasnya, tiba tiba lily menyadari sesuatu.
Lily menghentikan aktivitas melukisnya dan menengadahkan wajah ke arah yuga, lily memiringkan sedikit kepalanya. Sepertinya ada yang tidak beres di wajah yuga, lily pun memberanikan diri untuk bertanya “kau baik baik saja?”.
Yuga menoleh heran dan langsung mengangguk tanpa mengeluarkan suara, “kau pucat sekali” terdengar nada prihatin yang diucapkan oleh lily, yuga mengerutkan dahi dan tersenyum “aku tidak apa apa aku ingin melihat hasil lukisanmu dengan sempurna” ujar yuga menenangkan, yuga tersenyum kembali menatap senja merah yang sangat indah sama indahnya seperti gadis di sampingnya, lily mengangguk menurut lalu mulai menggoreskan catnya kembali ke atas kanvas. tangan lily menari nari dengan lincahnya seperti penari balet dengan irama yang senada, senja mulai menghilang dari merah menjadi gelap.
"ini aku sudah selesai" kata lily dengan riang sambil memperlihatkan hasil lukisannya.
yuga nyaris tanpa respon dia hanya melihat, mengerutkan dahi, memiringkan kepala dan mengusap usap matanya. ada apa ini? mengapa semuanya terlihat buram, lukisan lily, wajah lily bahkan taman pun semua terlihat buram. apakah penyakitku sudah separah ini?